Latest Event Updates

PJP IV Komunitas Ngejah “Yang Muda Yang Bermedia”

Posted on Updated on

IMG_9682

Pelatihan Jurnalistik Pelajar yang kemudian lebih dikenal dengan istilah PJP merupakan agenda tahunan Komunitas Ngejah. PJP untuk angkatan ke-empat dilaksanakan  pada tanggal 10-12 Oktober 2014 di GOR Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Tidak kurang dari 150 peserta dari berbagai sekolah (SMP dan SMU/sederajat) yang berasal dari 5 kecamatan yakni Singajaya, Peundeuy dan Banjarwangi (Garut) serta Bojonggambir dan Taraju (Tasikmalaya) ambil bagian menjadi peserta. Kang Iwan Ridwan sebagai ketua pelaksana menyatakan bahwa tema yang diusung pada PJP IV sengaja dibuat agak sedikit memprovokasi para pelajar sebagai generasi muda mau memanfaatkan media. “Temanya, Yang Muda Yang Bermedia. Sengaja kami buat untuk memprovokasi para pelajar supaya mau memanfaatkan media, salah satunya yakni media sosial, untuk hal-hal yang positif tentunya” ujarnya.

_MG_1515

Kang Opik selaku ketua Komunitas Ngejah dalam sambutannya mencoba mengungkap potensi bangsa Indonesia yang terletak pada jumlah generasi muda pada masa yang akan datang. Menurutnya, dari literature yang pernah ia baca, bahwa Indonesia akan mengalami ledakan jumlah penduduk produktif atau lebih dikenal mengalami bonus demografi. Masih menurut Kang Opik, bonus ini akan berubah menjadi bencana jika generasi mudanya leha-leha, oleh sebab itu ia mengajak seluruh peserta untuk belajar yang gigih, salah satunya mempelajari dunia jurnalistik, memanfaatkan media untuk kegiatan positif. Pada acara pembukaan, turut hadir Penilik PNF Kecamatan Singajaya, Marwan, S.Pd., M.M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sebagai pribadi dan atas nama dinas pendidikan Kecamatan Singajaya mengapresiasi dan mendukung kegiatan PJP yang dilaksanakan oleh Komunitas Ngejah. Selain itu, ia memberikan motivasi agar para peserta sebagai generasi muda memiliki mimpi yang tinggi, tidak usah merasa minder karena tinggal di kampong, dan harus membuktikan diri kepada dunia, bahwa meski tinggal di kampung namun mampu menuliskan prestasi.

IMG_9572

Sepertitahun-tahun sebelumnya, peserta PJP IV ditawarkan untuk memilih empat kelas pelatihan yaitu kelas writing, blogging, audio visual  dan fotografi. Masing-masing kelas, diikuti oleh peserta dengan jumlah yang merata. Pembagian kelas ini dipandu oleh alumni PJP I, II dan III yang kemudian memilih untuk menjadi relawan Komunitas Ngejah. Bertindak sebagai fasilitator untuk kelas menulis yakni Kang Opik, untuk kelas blogging oleh Kang Ruli dan Kang Roni, kelas fotografi oleh Kang Edi Martoyo dan kang Bagus dari Ijigimbrang, serta untuk kelas audio visual oleh kang Panji, Kang Rian dan Kang Wandi dari Kofita. Selain itu, pada hari ke-dua hadir pula Kang Duddy RS yang memberikan kuliah umum tentang konvergensi media. Beliau menjelaskan kepaduan antara menulis, foto, video, dan blog. Lebih lanjut, Kang Duddy mencoba mempraktekan bagaimana membuat dan mengisi blog dengan tulisan, foto dan video. Pada hari ke-tiga hadir juga, seorang sastrawan sekaligus guru Bahasa Sunda yaitu Kang Darpan. Selain ikut mengisi materi kelas menulis, ia juga memberikan kuliah umum tentang menulis. Menurutnya, dengan menulis seseorang dapat mendapatkan banyak manfaat, selain bisa mengeluarkan ide/gagasan, penulis juga bisa dikenal oleh banyak orang serta mendapatkan honor jika tulisannya dimuat di majalah atau koran-koran atau dibukukan.

_MG_2020

Selama kegiatan, seluruh peserta terlihat sangat antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Masing-masing kelas pada akhirnya menghasilkan beberapa karya, meski relatif masih sederhana. Karya-karya yang dihasilkan oleh peserta kemudian coba diunggah melalui Blog Komunitas Ngejah serta akun FB masing-masing peserta. Namun hal ini mendapat sedikit kendala karena signal internet di sekitar tempat kegiatan sangat payah. Melalui berbagai usaha, seperti menyambung modem dengan kabel antena, akhirnya karya-karya tersebut berhasil diunggah dan tentunya bisa dilihat oleh kahalayak luas.

Penghujung acara diisi oleh penampilan kreasi seni. Hampir setiap sekolah unjuk kebolehan, seperti baca puisi, menyanyi, dan menari. Dua diantaranya dari sekian banyak penampil, yakni VOB (Band Perempuan) M.Tas Baqitos asuhan Abah Erza serta tari jaipong dari SMPN 2 Singajaya asuhan Ibu Ani Setianingsih, membuat para peserta berdecak kagum.  Minggu, sekitar pukul 16.30 acara PJP IV ditutup dengan doa bersama dan pembagian sertifikat di saung Komunitas Ngejah.

Penulis: Elis Hamidah (Alumni PJP II, siswi SMAN 20 Garut)

Sumber: Kabar Priangan-Edisi Selasa, 21 Oktober 2014

Bonus Demografi dan GKM Episode #23

Posted on Updated on

Bangunan M.Ts Darul Miftah Cisompet
Bangunan M.Ts Darul Miftah Cisompet

Badan pusat statistik (BPS) pada 2010 bahwa penduduk Indonesia mencapai jumlah 237, 64 juta jiwa.itu artinya negara Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami bonus demografi dimana lebih dari setengah jumlah tadi (59, 98% atau 142, 54 juta orang adalah usia produktif 15-54 tahun). Itu artinya negara indonesia akan dihuni oleh penduduknya dengan dominan para pemuda yang mempunyai semangat yang tinggi dan tekad kuat untuk memajukan bangsa dan negara. Kelompok usia produktif ini bisa menjadi berkah jika para pemuda berkualitas tapi sebaliknya akan menjadi musibah jika para pemuda hanya menjadi benalu bagi negara. Saat ini saja indonesia sendiri untuk minat baca menduduki urutan ketiga dari bawah di dunia atau hanya sekitar 0,01 persen, berarti hanya satu dari 10 ribu orang yang memiliki keinginan untuk membaca. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan jepang mencapai 45 persen dan singapur mencapai 55 persen. Bayangkan apa jadinya nanti pada tahun 2025 jika minat baca generasi pemuda sekarang masih jauh dari kata ideal, itu artinya bonus demografi yang digadang-gadang akan menguntungkan dan diharapakan membuat perubahan bagi negara, berubah menjadi bumerang yang akan merugikan negara itu sendiri.

Kampanye Membaca di Mesjid Cikondang-Cisompet
Kampanye Membaca di Mesjid Cikondang-Cisompet

Untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang memungkin terjadi dalam menghadapi bonus demografi yang akan terjadi pada tahun 2025, serta untuk meningkatkan minat baca bagi para generasi muda, maka serentetatan program kampanye budaya baca menjadi salahsatu garapan utama Komunitas Ngejah, yang di dalamnya melingkupi kegiatan Gerakan Kampung Membaca.

Menginjak episode #23, Sabtu 26/09/14 komunitas ngejah mengadakan Gerakan Kampung Membaca di Kampung Cimuncang Desa Cikonang kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. Berangkat dari saung komunitas ngejah sekiat pukul 16.00. WIB, tim yang dinahkodai oleh Kang Opik berangkat menuju lokasi dengan menggunakan sepeda motor. Sebelum berangkat tim melakukan doa bersama untuk keselamatan selama diperjalanan dan bisa sampai tujuan denagan keadaan selamat.

Berkenalan dengan Peserta GKM
Berkenalan dengan Peserta GKM

Karena lokasi GKM yang akan dijambangi kali ini sangat jauh dan harus melewati beberapa kecamatan, maka tim ditemani oleh kang Dadan Agung selaku penduduk asal lokasi kegiatan. Karena lokasi sangat jauh,sengaja tim berangkat dari saung komunitas ngejah sehari sebelum kegiatan berlangsung dan memutuskan untuk bermalam dilokasi GKM.

Matahari mulai menyembunyikan tajinya sebagi raja cahaya, hari mulai gelap, tim GKM harus rela kemalaman diperjalanan dan melewati perjalanan dengan keadaan gelap gulita dan hanya mengandalkan cahaya dari lampu motor yang dikendarai. Adrenalin tim GKM mulai diuji ketika harus melewati jembatan yang masih beralaskan dari bambu. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan sebutan Sasak Rawayan.

Mendongeng
Mendongeng

Motor yang dikendarai satu persatu harus mengantri melewati jembatan tersebut dan semua terpaksa harus merasakan takutnya saat sedang berada ditengah-tengah jembatan dengan keadaan jembatan berayun-ayun kekiri dan kekanan, sehingga harus memerlukan keseimbangan badan yang baik untuk melewatinya.

Sekitar pukul 19.30 tim sampai di lokasi kegiatan. Beberapa orang tokoh masyarakat menyambut kami. Diskusi pun berjalan cukup hangat. Banyak hal yang kemudian menjadi menjadi bahan diskusi, salahsatunya tentang tips dan kegelisahan tentang upaya memajukan kampung halaman. Bapak Ruhiyat selaku tokoh pendidikan bercerita banyak tentang pengalaman hidupnya di dunia pendidikan.

Membaca Bersama
Membaca Bersama

Sesekali gelak tawa menghiasi percakapan, ketika kenangan-kenangan yang dahulu terasa pahit tersaji di ruang percakapan.Ia pun tak mengerti betul kenapa harus cape-cape menjadi guru honorer sampai usia lanjut serta berjuang membangun sekolah dengan berbagai tantangan di kampungnya. Yang ia tahu, hanyalah kenikmatan dan rasa terharu ketika pelan-pelan usahanya mulai menemukan titik terang.

Minggu 27/09/2014 tim gerakan kampung membaca menjambangi sebuah mesjid. Emak Illah selaku pengelola pengajian menyambut dengan hangat. Selain anak-anak, turut juga hadir orang tua mereka yang sengaja datang untuk berdiskusi tentang pentingnya membaca. Selepas kegiatan di mesjid selesai,

Permainan
Permainan

Tim GKM bergerak ke sebuah M.Ts yang hanya terdiri dari dua ruangan berukuran 5 x 5  dengan bangunan masih berdindingkan kayu dan terlihat bolong di sana-sini. Meskipun hanya bangunan yang sederhana, dan jauh dari kata layak, tapi sikap  antusias anak-anak untuk belajar sangat tinggi dan sudah memenuhi ruangan sejak pagi. Melalui percakapan santai dengan Ust. Jajang ditemukan informasi bahwa bangunan sekolah itu adalah swadaya masyarakat yang dibangun tahun 1990 untuk madrasah diniyah.

Kegiatan GKM dimulai dengan perkenalan dan mendongeng yang dipimpin dan dibawakan langsung oleh Kang Opik. Sebuah dongeng yang mengandung pesan tentang pentingnya bersyukur, membuat peserta GKM larut dalam cerita.

Peresmian Pojok Baca Rawayan
Peresmian Pojok Baca Rawayan

Sesi selanjutnya adalah motivasi pentingnya membaca yang disampaikan oleh Iwan Ridwan. Seperti biasa kegiatan membaca bersama akan dipandu oleh para relawan GKM. Roni dan Ruli selaku dedengkot Komunitas Ngejah, dengan sigap memberikan arahan kepada Ai Ervi, Vita Sizu, Dede Rofie, Dede Ridwan, Ojak, Saeful Millah, untuk membagi kelas. Ada kelas PAUD, SD kelas rendah, SD kelas tinggi dan SMP dengan masing-masing mentor. Pembagian kelas ini sengaja dilakukan untuk mempermudah mencari bahan bacaan bagi mereka. Selain membaca bersama, Ruli juga memperkenalkan perangkat computer kepada peserta GKM. Sesi yang tidak kalah menariknya bagi peserta GKM adalah permainan di lapangan terbuka.

Melewati Sasak Rawayan Cisompet
Melewati Sasak Rawayan Cisompet

Reward berupa alat tulis dan bola sepak menjadi salahsatu daya tarik begi peserta untuk unjuk keberanian tampil di depan.

Setelah kegiatan doa dan photo bersama sebagai ritual penutupan GKM. Tim bergerak ke sebuah bangunan mungil terbuat dari bambu yang sengaja difungsikan untuk PAUD. Di tempat inilah peresmian POJOK BACA dilaksankan. Beberapa tokoh masyarakat ikut ambil bagian menyaksikan peresmian tersebut. Acara ini ditandai dengan penyerahan satu buah rak buku dan sekitar 50 buku ditambah Al-Quran dan Iqro. Ust. Jajang selaku perwakilan tokoh masyarakat dalam kesempatan ini sangat berterimakasih, dan menyambut kedatangan tim serta sangat mengharapkan agar kampungnya terus dikunjungi oleh tim GKM Komunitas Ngejah.

Penulis:

Iwan Ridwan (Koordinator GKM Komunitas Ngejah, Mengajar di MIS Riyadlul Huda)

KH Yusuf Tauziri

Posted on

Untitled

Kyai Haji Yusuf Tauziri merupakan salah seorang tokoh pejuang Garut. Orang tuanya sudah beberapa kali memasukan ke pesantren akan tetapi ia lebih suka main bola dan pencak silat daripada menjadi seorang santri.

Tahun 1923, beliau pergi ibadah haji, Lalu beliau mendirikan mesjid dan pesantren yang dinamai Darussalam di Wanaraja, Garut. Pada zaman Jepang, beliau masuk tahanan karena dituding akan mengadakan sabotase.

Pada zaman revolusi, beliau mendirikan Tentara/laskar Darussalam yang kemudian bergabung dengan BKR yang menjadi TKR. KH Yusuf Tauziri diajak Kartosuwiryo agar mengumumkan proklamasi Negara Islam Indonesia/ Darul Islam (NII/ DI), akan tetapi beliau menolaknya. Sesudah wanaraja direbut Belanda ia hijrah ke Pesantren Cipari, sebelah utara dari Wanaraja, Pesantren Ciparilah yang dipakai Markas oleh KH.Yusuf Tauzirie sehingga sering diserang oleh pasukan DI/TII, sampai 52 kalinya.

Oleh TNI beliau dianggap besar jasanya dalam membantu lahirnya Divisi Siliwangi dan membantu pasukan Divisi Siliwangi dari serangan DI dan Belanda. Beliau meninggal di Garut pada tahun 1982, dan dimakamkan di lingkungan Pesantren Darussalam Wanaraja.

PJP IV BERLANGSUNG HEBAT

Posted on

Beberapa pelajar yang terdiri dari berbagai kecamatan dari sekitar wilayah Garut Selatan dan kabupaten Tasik kini sedang antusias mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalis Pelajar yang ke IV yang di selenggarakan oleh Komunitas Ngejah.


PJP ini diselenggarakan dimulai dari hari Jum’at tanggal 10 Oktober kemarin sampai hari Minggu 12 Oktober sekarang yang bertempat di Gor Sukawangi.Diadakannya pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat para kaula muda dari kalangan pelajar tingkat SMP s/d SLTA khususnya yang berada di wilayah Garut Selatan dan Tasik.
Bagi pelajar yang memiliki hobi atau cita – cita menjadi jurnalis,fotografer atau membuat film.Kegiatan PJP ini berlangsung sangat meriah dan banyak diminati para pelajar.Karena itulah kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Ngejah.

Firda

Ibu-ibu Posyandu Belajar di Saung Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

DSC_0138Selain menjadi tempat membaca anak-anak dan remaja, saung Komunitas Ngejah kerap digunakan untuk diskusi berbagai kalangan masyarakat, salahsatunya adalah para penggiat Posyandu. Seperti hari ini, Minggu 28 September 2014, selepas ashar empat orang penggiat Posyandu Desa Sukawangi sengaja datang ke saung Tbm Aiueo Komunitas Ngejah untuk mencari referensi tentang posyandu, berdiskusi dalam rangka mempersiapkan lomba cerdas cermat antar penggiat Posyandu se-Kecamatan Singajaya. Baca entri selengkapnya »

Belajar di BAPUSIPDA Garut

Posted on Updated on

Ilmu harus terus dicari, sebagaimana sebuah hadits yang mengatakan “Carilah Ilmu walau sampai ke Negeri Cina”. Hadits ini menegaskan, bahwa jarak bukan halangan untuk mencari ilmu, jika memang masih mungkin ditempuh. Berbekal kesadaran itu dan guna meningkatkan kemampuan pengadminstrasian koleksi buku TBM aiueo Komunitas Ngejah, Ketua TBM aiueo Komunitas Ngejah serta para pengurus bersepakat untuk mengadakan mengadakan kunjungan dan belajar tentang tata cara pengadminstrasian buku di BAPUSIPDSA Kab. Garut.

di Bapusipda

Setelah berkoordinasi dengan Kepala dan Sekretaris Bapusipda, serta adanya kesepakatan waktu, empat orang relawan TBM aiueo Komunitas Ngejah yang terdiri dari Ruli Lesmana, Dede Rofi, Ai Erviani dan Iwan Ridwan berangkat, untuk belajar di Perpustakaan Kabupaten Garut. Selama tiga hari yakni dari tanggal 10-12 September 2014, empat orang relawan tersebut tinggal dan menetap di Garut.

Hari pertama pelatihan diisi dengan materi tentang klasifikasi dan pengkodean oleh Bapak Wawan Ruswandi. Pada sesi ini beliau menyatakan bahwa klasifikasi dan pengkodean adalah cara untuk mempermudah mencari buku yang diperlukan. Beliau juga menjelaskan mengenai sepuluh kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Baca entri selengkapnya »

GKM #22 dan Peresmian Pojok Baca Pasirwaja

Posted on Updated on

GKM 22...Kesadaran yang tumbuh pada diri sekelompok anak muda yang tergabung dalam ikatan silaturahmi Komunitas Ngejah kemudian menelurkan beberapa gerakan, di antaranya program Gerakan Kampung Membaca dan pembangunan Pojok Baca. Gerakan Kampung Membaca itu sendiri merupakan sebuah ikhtiar dalam rangka mengkampanyekan budaya baca tulis di kampung-kampung terluar di Garut bagian selatan. Sementara pembangunan Pojok Baca adalah tindak lanjut dari Gerakan Kampung Membaca. Adanya ketersediaan relawan yang berdomisili di lokasi kegiatan GKM yang mau menyisihkan waktu dan tenaganya untuk mengelola kegiatan adalah indicator tersendiri untuk kemudian diberikan fasilitas satu buah rak dan beberapa buku yang selanjutnya di sebut Pojok Baca. Baca entri selengkapnya »