Latest Event Updates

Peringatan Hari Buku Sedunia ala TBM AIUEO

Posted on Updated on

Ragam cara dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia. Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap tanggal 23 April, memiliki uraian sejarah yang cukup panjang.

hari buku----Dilansir dari djamandoeloe.com, ide perayaan buku sedunia ini berawal dari daerah Catalonia di Spanyol. Di sana ada sebuah perayaan Hari Saint George, dimana para pria memberikan bunga mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923, kebiasaan tersebut dimodifikasi oleh para pedagang buku. Hari Saint George tersebut dijadikan juga untuk menghormati Miguel de Cervanters, seorang pengarang terkenal yang meninggal pada 23 April. Sejak hari itu, para perempuan mulai memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Hingga akhirnya pada tahun 1995, melalaui sebuah Konferensi Umum yang diadakan di Paris, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day. Selain hal di atas, penentuan hari buku sedunia ini juga didasari karena pada tanggal 23 April banyak penulis terkenal dunia lahir dan meninggal. Seperti Inca Garcilaso, Shakespeare dan Cervantes, mereka meninggal pada tanggal yang sama yakni 23 April 1616. Selain itu juga, hari buku ini merupakan sebuah apresiasi yang tinggi kepada pengarang-pengarang besar dunia.

hari buku---.jpgPada perkembangannya, perayaan Hari Buku Sedunia merupakan sebuah upaya mengkampanyekan pentingnya membaca. Dalam hal ini, Taman Baca AIUEO sebagai suborgan Komunitas Ngejah yang senantiasa mencoba khusyuk melakukan kampanye pentingnya membaca, sejak beberapa tahun terakhir tidak mau ketinggalan untuk turut serta menyelenggarakan peringatan Hari Buku Sedunia.  Selain untuk mengajak masyarakat supaya mencintai kegiatan membaca, tujuan lain dari peringatan ini adalah untuk mengajak masyarakat, khususnya anggtoa Taman Baca AIUEO untuk memuliakan buku, menjaga dan memelihara buku agar berusia cukup panjang. Pada tahun ini, beberapa menu kegiatan sederhana pun digelar  mulai tanggal 20-23 April 2016. Pengumuman ihwal peringatan Hari Buku Sedunia yang disiarkan melalui akun FB Komunitas Ngejah ternyata mendapat respon dari beberapa orang pelajar yang tiada lain adalah anggota Taman Baca AIUEO yang hampir saban hari datang untuk membaca dan meminjam buku. Sebagaimana rencana, kegiatan hari pertama (20/4) diisi dengan belajar labelling dan pendataan buku baru.  Pada kesempatan ini, Budi Iskandar sebagai salahseorang pengurus Taman Baca AIUEO begitu bersemangat membimbing Delis, Asvi, Buana, Eep, Ervi, Lulu, Nena dan beberap peserta kegiatan lainnnya, belajar memberi label dan melakukan pendataan buku baru. Gayung bersambut. Antusias dari para peserta pun cukup tinggi. Rencananya pada hari kedua dan ketiga kegiatan masih berkutat pada labelling dan pendataan buku baru, memberi sampul buku baru dan mengganti sampul untuk buku-buku lama. Sementara pada puncak kegiatan, yakni pada tanggal 23 April, akan ada acara selfie bareng buku dan ngobrol santai seputar sejarah buku. Terkait kegiatan selfie bareng buku, dalam hal ini setiap peserta kegiatan diberikan kesempatan untuk memilih salahsatu buku yang pernah dibacanya, kemudian menceritakan isinya secara singkat, dan kemudian selfie bareng buku sebelum menguploadnya melalui akun medsos masing-masing. Rangkaian kegiatan tersebut adalah cara lain Taman Baca AIUEO dalam rangka memberikan pemahaman kepada khalayak, khususnya masyarajat sekitar bahwa membaca buku itu penting.*** NTA

Gerakan Kampung Membaca Episode 47

Posted on Updated on

47.Gerakan kampung membaca kembali menyapa masyarakat Kecamatan Singajaya. GKM memasuki episde ke 47. Tidak terasa empat tahun berjalan gerakan ini digulirkan. Sampai saat ini, GKM konsisten menyambangi kampung demi kampung untuk mengkampanyekan pentingnya membaca kepada anak-anak, remaja serta masyarakat umum. GKM episode 47 menyambangi adik-adik di Kampung Panimbangan Desa Girimukti Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Hari itu (10/4/2016) saat hujan belum mau berhenti membasahi bumi, para relawan GKM-Komunitas Ngejah mempersiapkan segala amunisi untuk dibawa ke lokasi. Satu ransel buku sudah siap untuk digendong, namun hujan tak kunjung reda. Pukul 13.30 WIB, tiga motor tim GKM menerobos derasnya hujan. Kenapa kami memaksakan diri, hal ini lantaran, kami tahu di Panimbangan sudah ada yang menanti kami dengan penuh harap. Tim GKM yang berangkat dari Saung Baca TBM aiueo-Komunitas Ngejah hanya tiga motor. Ada Ruli, Roni, Budi, Nana dan Aziz. Beberapa relawan datang dari arah jalan berbeda, ada Ai yang sedang kuliah di UT kampus Garut, selepas kuliah dia langsung terjun menuju lokasi GKM. Sedangkan Wulan, siswa SMAN 20 Garut, ia telah berada di lokasi untuk mempersiapkan dan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh Kampung Panimbagnan.

47-

47--Sejak dari awal Komunitas Ngejah memang menekankan pada pelibatan anak-anak muda untuk bersatu bahu membahu, menyisihkawan waktu dan tenaga untuk gerakan literasi diusungnya. Oleh karena itu, setiap anggota Komunitas Ngejah, yang biasa membaca dan meminjam buku, diberi kesempatan untuk melakukan kerja kerelawanan. Selain pengurus, hampir saban kegiatan Gerakan Kampung Membaca selalu melibatkan para pelajar untuk menjadi relawan.   Kembali pada GKM 47, perjalanan yang kami tempuh dari saung sampai lokasi hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Jalanan yang kami tempuh tidak terlalu sulit, hujanpun tidak turun lagi, sehingga memeprcepat perjalanan. Sesampainnya di lokasi, beberapa tas tergeletak di atas lantai mesjid lokasi GKM. Anak-anak sudah menunggu kami. Sambil menuggu, mereka menggunakan waktu dengan bermain. Melihat kedatangan kami, dalam waktu sekejap anak-anak segera berkumpul. Kegiatan kami awali dengan berdoa bersama. Saya memeperkenalkan cara berdoa ala anak-anak, memulainya dengan tepuk jari. Tepuk jari dimulai dari tepuk jari satu sampai tepuk jari lima, dengan menepukan jadi-jari berulang-ulang. Kemudian semua diam dan berdoa dalam hati masing-masing. Oh ya, peserta kali ini tidak lebih dari 20 anak, yag terdiri dari pelajar PAUD sampai sekolah dasar. Meski demikian semangat mereka sangat menggebu ketika kedatangan tim GKM. Selepas berdoa, kami menyempatkan untuk berkenalan bersama peserta. Satu demi satu relawan saya perkenalkan kepada semua peserta, dan di sela perkenalan semua anak mengucap “Oh”. Sesuatu yang biasa ketika kita baru bertemu, mungkin sebenarnya mereka ingin lebih kenal lebih dalam tentang personil GKM kali ini, namun waktu kami sangat singkat untuk memperkenalkan diri lebih detail, sehingga saya hanya menyebutkan nama saja.

Untuk menambah semangat  permainan sederhana disajikan, seperti permainan sahut-sahutan.

“gajah?” kata saya

“Besar” jawab peserta sambil melingkatkan kedua tangannya sebesar mungkin.

“semut” kata saya

“kecil” jawab peserta sambil menyodorkan jari telunjuk, jempol dan menampilkan mimik yang seakan-akan semut itu bena-benar sangat kecil.

Kemudian logika permainan diganti, jika saya bilang “Gajah”, maka peserta menjawabnya dengan kata “kecil” sambil menujukan jari telunjuk dan jempolnya dengan mimik muka seakan-akan Gajah itu adalah makhluk terkecil di dunia.

Untuk mengawali kegiatan dalam ruangan,  permainan ini cukup ampuh untuk mempersatukan frekuensi kami menuju rasa yang disebut “senang”. Gelak tawa pun hadir saat beberapa peserta GKM masih terbalik menunjukan gerakan tangannya.

Setelah permaian dirasa sudah cukup, acara diisi oleh Iis yang sebentar lagi menjadi alumnus SMAN 20 Garut. Dia membawakan sebuah cerita hikmah, tentang larangan untuk berbohong, dia bilang.

47---“Jadi kita jangan pernah sekali-kali berbohong, karena disaat kita pernah ketahan berbicara bohong, kemudian kita berbicara jujur, maka orang akan selalu ingat kebohongan yang pernah kita lakukan. Jadi orang lain tidak akan terlalu percaya lagi pada orang yang pernah berbohong” begitu katanya, dan pesertapun menganggukan kepalanya. Diakhir cerita Iis mengajak adik-adik peserta untuk berjanji agar tidak pernah berbohong. Seusai bercerita, GKM memasuki acara inti, yaitu membaca bersama. Sekitar 30 menit, dengan bahan bacaan yang kami bawa, adik-adik peserta dipandu untuk membaca bersama-sama. Dan kegiatanpun diakhiri dengan dongeng dari Sam dan Bu Ai, serta motivasi pentingnya membaca.

47-----Langit sudah tidak mendung lagi, air bekas hujan yang membasahi jalanan sudah nampak kering, kami kembali menyusuri jalanan Desa Girimukti untuk kembali pulang dan menikmati senja yang semakin jingga. Semoga segala keberkahan selalu menaungi gerakan kami. Amiin.***

Penulis: Budi Iskandar/Pengurus Komunitas Ngejah.

 

LOMBA MENULIS PUISI “BELAJAR NYUMBANG OKSIGEN”

Posted on

LOMBA MENULIS PUISI

“Belajar Nyumbang Oksigen Komunitas Ngejah”

Tema Pohon

Bagi pelajar SMP dan SMA

Di wilayah Kecamatan Singajaya, Peundeuy, dan Banjarwangi (Garut)

Kecamatan Taraju dan Bojonggambir (Tasikmalaya)

Ketentuan lomba:

  1. Naskah ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Jenis hurup Times New Roman dengan ukuran 12 dan menggunakan spasi 1.
  3. Menyertakan biodata diri berupa narasi maksimal 50 kata pada halaman terpisah.
  4. Tiap peserta maksimal mengikutsertakan 2 karya terbaiknya.
  5. Naskah diprint dan diserahka beserta soft filenya ke Saung Komunitas Ngejah, selambat-lambatnya tanggal 15 Mei 2016.
  6. Hak publikasi merupakan hak panitia lomba sementara hak cipta tetap pada penulis.

Pengumuman lomba akan dilaksanakan pada Pameran Puisi Belajar Nyumbang Oksigen yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 Mei 2016. Naskah yang dianggap layak oleh dewan juri akan diikutsertakan pada Pameran Puisi Belajar Nyumbang Oksigen.

Juara 1 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 250.000

Juara 2 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 200.000

Juara 3 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 150.000

Dewan Juri:

Deri Hudaya (Koord. Belajar Nyumbang Oksigen)

Ani Setianingsih (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Nero Taopik Abdillah (Presiden Komunitas Ngejah)

TIDAK DIPUNGUT BIAYA PENDAFTARAN…Untitled

Dongeng Sebelum Tidur

Posted on Updated on

bjDahulu kala, ketika waktu belum tercatat pada kalender, bangsa Austronesia, induk dari bangsa-bangsa yang menghuni kawasan Asia Tenggara, mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam. Matahari tropis yang memungkinan berbagai jenis tanaman tumbuh dengan amat sangat baik, curah hujan yang begitu cukup, tanah yang subur, letusan-letusan gunung berapi yang membuat lahan malah bertambah gembur, membuat mereka cocok dengan dunia pertanian. Pertanian menjadi produk kebudayaan yang sangat diandalkan dalam mempertahankan keberlangsungan hidup. Di situ ada lahan pertanian, maka di situlah kehidupan.

IMG_2000.jpgBegitupun masyarakkat Sunda tempo dulu, suku bangsa yang masih berinduk pada kebudayaan Austronesia itu. Karena begitu pentingnya dunia pertanian, maka bercocok tanam bagi masyarakat Sunda bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi belaka, bukan untuk kepentingan dagang. Bukan semata-mata untuk memperkaya diri. Bertani malah dianggap sebagai ritual untuk berinteraksi langsung dengan pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, mereka memperlakukan tanah dengan demikian khidmat. Upacara-upacara adat pun bisa digelar selama tujuh hari tujuh malam setelah panen, sebagai ekspresi dari rasa syukur. Ketika tanah diperlakukan sedemikian oleh mereka, maka tanah pun memberikan segalanya, sebagaimana ibu terhadap anak-anaknya.

IMG_2016Tanah Sunda, yang sampai saat ini kesuburan tanahnya tetap menjanjikan bagi para petani, memang lazim diidentikan dengan perempuan. Kesuburan tanah disejajarkan dengan produktivitas rahim perempuan. Dari pelbagai carita pantun, wiracarita warisan kebudayaan Sunda kuna, dewi kesuburan, Dewi Sri, lebih menonjol daripada dewa perang. Panorama yang masih serba hijau di akhir abad ke-20, sisa-sisa kerja para leluhur, membuat penyair modern Ramadhan K.H ketika melihat Tanah Sunda dalam sajak yang ditulisnya sebagai Priangan Si Jelita, cantik dan memesona.

Namun entah mengapa, setelah masyarakat kita akrab dengan bangku sekolahan, ada perubahan signifikan tentang citra dunia pertanian itu. Sikap hormat pada dunia pertanian sepertinya makin menyusut. Anak-anak SD ketika ditanya apa cita-cita mereka, lazimnya mereka menyebut profesi seperti dokter, pilot, polisi, pembalap, guru, tentara, atlit sepak bola, pramugari, polwan. Anak-anak yang lahir di negara agraris ini seakan-akan konyol jika bercita-cita ingin jadi petani? Begitupun ketika kita mengajukan pertanyaan tentang hobi. Jarang ada di antara mereka yang akan mengatakan bahwa hobinya pergi ke kebun. Ini menandakan pikiran mereka sudah tercerabut dari latar belakang budayanya, dari dunia cocok-tanam itu, bahkan sedari duduk di bangku SD?

Bercocok tanam memang perlu ada kerelaan untuk mau bergelut dengan debu dan lumpur. Bagi sebagian orang, hal itu dianggap kendala serius. Kotor menimbulkan kesan hina. Padahal kita tahu ada kegiatan-kegiatan lain, profesi-profesi lain, yang juga menuntut hal serupa namun tak pernah kurang peminatnya. Sepak bola, yang konon merupakan olah raga paling diminati masyarakat dunia, membuat para pemainnya karib dengan debu dan lumpur. Motor trail yang dianggap keren pun membuat penunggangnya dekil-dekil. Bahkan latihan militer kerap membuat para tentara harus berjibaku di genangan lecek. Saya ingat bunyi slogan dari sebuah iklan sabun: kotor itu baik.

Masalahnya tentu bukan karena kotor atau tidak kotor yang membuat anak-anak kita merasa tak pantas menautkan cita-citanya pada dunia pertanian. Bahkan tidak walau hanya untuk jadi sekedar hobi. Citra tentang dunia cocok tanam di zaman sekarang tidak begitu baik, tidak bergengsi. Tidak elit. Dianggap tidak intelek.

Barangkali, pengalaman kita di dunia pendidikan turut berpengaruh terhadap sikap anak-anak. Mata pelajaran yang terus-menerus memonopoli konsentrasi para pelajar dari mulai sekolah tingkat dasar hingga tinggkat atas bukanlah ilmu pertanian. Lalu pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, universitas serta prodi-prodi yang menonjolkan wacana teknologi jauh lebih diminati daripada universitas serta prodi-prodi yang menonjolkan wacana pertanian. Oleh sebab itu, wajar apabila dunia pertanian itu makin terabaikan. Lahan-lahan pertanian tidak digarap. Oleh sebab itu wajar apabila hampir setiap tahun negara yang masih dikatakan agraris ini sering mengalami krisis pangan, beras miskin harus dibagikan, sampai-sampai muncul peristiwa beras plastik. Tapi apapun yang terjadi, wacana tentang dunia cocok tanam di lingkungan masyarakat agraris ini semakin terasing, dimulai dari buku catatan anak sekolahan.

Apabila sekolah membuat generasi penerus kita memandang hina dunia pertanian, menganggap diri mereka terlalu agung untuk bergaul dengan petani, sebaiknya sekolah itu dibubarkan saja, ujar Tan Malaka dalam Madilog. Bukan berarti Tan Malaka menganggap pendidikan dari sekolah formal tidak ada manfaatnya sama sekali. Tan Malaka sendiri dapat berpikir seperti itu setelah dirinya cukup mendapat pendidikan, setelah dirinya menyerap buku-buku, setelah dirinya menjadi pendidik dan pada akhirnya mendirikan sekolah. Hanya saja, mungkin ia merasa jengah ketika melihat tingkah-polah sebagain besar anak sekolahan yang menganggap remeh dunia cocok tanam. Kepongahan mereka ini jadi semacam virus yang lantas menular ke mana-mana, menghinggapi pikiran siapa saja. Itulah yang mungkin membuatnya geram.

Dunia pertanian setelah memasuki era modern mungkin hampir sama nasibnya dengan budaya tradisi. Potensial namun dibiarkan terbengkalai. Hanya diminati generasi usia senja. Terkesan buram. Dan garpu hampir malam. Dan cangkul hampir malam. Parang hampir malam. Selamat malam.***

Penulis: Deri Hudaya (Koordinator Belajar Nyumbang Oksigen Komunitas Ngejah)

Catatan Kecil dari Gerakan Kampung Membaca

Posted on Updated on

GKM tim
Relawan Gerakan Kampung Membaca yang Berasal dari Komunitas Damal, STMIK DCI dan Trooper Nusantara

Budaya baca harus terus tumbuh di negeri ini. Tanpa terkecuali di daerah perkampungan. Data-data hasil penelitian yang menyatakan bahwa budaya membaca masyarakat Indonesia masih rendah, hendaknya menjadi perhatian serius semua pihak, bukan hanya pemerintah. Jika kita mengidam-idamkan kemajuan pendidikan, maka salahsatu pondasi awal yang harus dibangun adalah kemampuan membaca masyarakat. Bukankah membaca merupakan jantungnya pendidikan? Lalu bagaimana mugkin pendidikan yang bermutu bisa terwujud tanpa dilandasi budaya membaca yang mumpuni? Sebagai komunitas yang menasbihkan diri bergerak dalam bidang literasi, maka kami mencoba memeras kepala guna melahirkan konsep yang bermuara pada usaha peningkatan budaya baca masyarakat sekitar. Lebih lanjut, salahsatu jalan yang bisa kami lakukan dan kami yakini efektif adalah dengan terjun langsung ke kampung-kampung melalui Gerakan Kampung Membaca. Mula-mula mengajak masyarakat membaca, menemaninya membaca, lalu kemudian mendekatkkan fasilitas membaca kepada mereka, meski mungkin hanya sealakadarnya. Apapun memiliki konsekwensi masing-masing, termasuk Gerakan Kampung Membaca. Setelah melalui beberapa kegiatan atau yang sering kami beri nama episode, gerakan ini  kami rasakan membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup ekstra. Tapi hal itu tak membuat kami patah semangat. Sebisa mungkin, sejauh ini kami berusaha istiqomah. Karena sungguh dalam setiap langkah kami terus menanam harap, semoga waktu dan tenaga yang kami keluarkan akan berbanding lurus dengan hasilnya, yakni meningkatnya budaya baca.

GKMbuku
Motivasi Membaca

Selain waktu dan tenaga, hal lain yang sangat mendukung suksesnya sebuah kegiatan, tentu saja adalah mahluk yang bernama dana. Dalam hal ini, kami masih bergerak dengan dana swadaya yang tentu tak seberapa jika dibanding dengan dana yang harus dikeluarkan oleh lembaga-lembaga tertentu pada kegiatan seminar pentingnya membaca yang dilaksanakan di gedung-gedung tinggi.

Dalam kegiatan Gerakan Kamung Membaca, secara tenaga dan pemikiran kami tak perlu membutuhkan IO. Untuk menanggulanginya, selain mengandalkan barisan relawan Komunitas Ngejah, kami juga didukung oleh mahasiswa dan pemuda yang memiliki kesamaan dalam pemikiran, meyakini bahwa gerakan literasi itu penting. Mereka mahasiswa dan pemuda yang sadar bahwa orasi saja tak cukup untuk merubah masyarakat negeri ini menjadi cerdas. Mereka yang merasa terpanggil, kemudian datang dan mendermakan waktu serta tenaganya. Tak hanya itu, sesekali urusan transportasi pun ada pihak yang sengaja datang untuk membantu, seperti pada kegiatan GKM edisi Trooper Nusantara.

gkm0-.jpg
Mentoring Membaca Bersama

Kami datang dan berbaur dengan anak-anak dan masyarakat. Bergembira bersama. Bermain dan tentu saja membaca bersama. Bukan hanya itu, kami pun dapat merekam potensi, menikmati jalanan superduper acak-acakan serta begitu daruratnya fasilitas pendidikan yang ada di beberapa kampung yang kami kunjungi. Khusus saat kami menemukan sekolah yang masih acakkadut, kami kerapkali saling memandang dengan sesama relawan, lalu berbisik “ini Pulau Jawa, bagaimana dengan Papua ya?” Tapi tentu saja hanya mampu berbisik dan menahan sesak di dada. Karena kami tak bisa apa-apa. Hanya bisa menggendong beberapa buku, menyimpan satu atau dua rak buku di kampung tersebut.

GKMtroper--.jpg
Photo Bersama Relawan dan Peserta Gerakan Kampung Membaca

Tak cukup sekali kami kunjungi kampung tersebut. Lagi dan lagi kami berkunjung. Menggelar acara yang sama sambil berdiskusi dengan tetua kampung. Mengajak diantara mereka untuk mendermakan waktu dan tenaganya untuk mengelola pojok baca. Setelah adanya orang yang bersedia menjadi relawan pengelola Pojok Baca, satu atau dua rak beserta 100-300 buku kami simpan di posyandu, madrasah, warung atau rumah penduduk. Pada perkembangannya, silaturahmi kami lakukan baik dengan cara datang langsung atau melalui media komunikasi. Tentu saja tak semuanya berjalan mulus sesuai dengan harapan. Meski begitu, secara umum di setiap kampung yang menjadi sasaran GKM dan Pojok Baca kami melihat adanya peningkatan budaya membaca.  Setidaknya, hal itu ditandai dengan keberadaan beberapa anak dan remaja yang menunjukan sikap antusias ketika kami datang. Menanyakan buku apa yang ada dalam tas atau kardus yang kami bawa, atau ada juga pengelola pojok baca yang kemudain mengeluh, saat kami berkunjung kembali atau mengirimkan pesan singkat melalui sms “Anak-anak sudah bosan dengan buku yang ada di pojok baca, bisa ada tambahan atau diganti dengan buku baru tidak?” Hal lain yang membuat kami bergembira adalah ketika ada tetua kampung yang kampungnya belum kami kunjungi, sengaja datang menghubungi dan meminta kami untuk datang ke kampungnya dan menggelar Gerakan Kampung Membaca.
Ah ini sekedar gerakan kecil. Tentu saja sekedar ikhtiar pelengkap dari gerakan-gerakan literasi yang dijalankan oleh pemerintah melalui berbagai ruang.
Sinergis…
Bergerak…bergerak…bergerak.*** NTA (Presiden Komunitas Ngejah)

Gerakan Kampung Membaca dan Kerelawanan

Posted on Updated on

gkmtroper3Menjaga konsistensi lebih sulit dibanding memulai sebuah gerakan. Begitulah yang terpikir dalam benak saya, saat mulai menggelindingkan ide Gerakan Kampung Membaca sebagai salahsatu gerakan Komunitas Ngejah. Kekhawatiran itu saya sampaikan juga kepada kawan-kawan relawan, segelintir anak-anak muda kampung yang memilih untuk menyisihkan waktu dan tenaganya dalam gerakan Komunitas Ngejah. Selapas bersepakat untuk menindaklanjuti konsep menjadi sebuah gerakan nyata, hampir setiap akhir pekan kami mengunjungi kampung demi kampung, menggendong buku, bersilaturahmi dengan tetua kampung, meminta izin untuk menyelenggarakan Gerakan Kampung Membaca dengan menu utama kegiatan membaca bersama, serta beberapa kegiatan sisipan seperti bermain game, mendongeng, menggambar dan menyanyi.

gkmtrooper5
Pada perkembangannya, selepas gong Gerakan Kampung Membaca atau GKM kami tabuh. Pola bergerak dan menggerakan, saya rasa menjadi bagian penting menjaga konsistensi. Hal ini karena saya sadari sepenuhnya, tidak setiap kegiatan, saya secara individu bisa bergerak secara penuh, terlibat secara utuh di dalamnya. Oleh karena itu, saya harus berbagi semangat, waktu dan energi dengan kawan-kawan relawan.
Halang rintang tentu saja setia menghadang. Tapi itu semua kami yakini sebagai hidup yang dinamis. Dengan kemampuan yang ada kami terus bergerak. Perlahan kami menemukan pola-pola baru dan mampu menambah jangkauan penerima manfaaat. Hal itu dibuktikan dengan Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun yang sudah kami gelar dalam dua tahun terakhir, di luar Gerakan Kampung Membaca yang kami helat hampir setiap akhir pekan. Melalui GKM Akhir Tahun, dalam satu minggu penuh kami memanfaatkan libur semester, mengunjungi kampung demi kampung, mengkampanyekan pentingnya membaca, menginap di rumah warga atau di lapangan terbuka yang ada di sekitar rumah penduduk. Sesekali jika memungkinkan, kami juga memutar film khas layar tancap, sambil menikmati suguhan berupa kulub suuk, beuleum sampeu dan kopi hideung. Obrolan santai dengan warga pun menjadi warna tersendiri. Menguping berbagai isu yang beredar di masyarakat sekitar.
Relawan...Dengan pola yang sama seperti GKM akhir tahun, 26-28 Februari 2016 kami menggelar GKM edisi Trooper Nusantara. Kegiatan ini sebagai respon dari niat baik Club Mobil tersebut yang menawarkan diri untuk memfasilitasi transportasi relawan mencapai lokasi gerakan serta menyediakan sebagian amunisi bahan bacaan. Selain itu, kami ditopang tenaga beberapa mahasiswa dari beberapa kampus yang sengaja datang untuk menjadi relawan.  Belum lagi, ada beberapa orang dari berbagai kota yang menanyakan tentang apakah Komunitas Ngejah melakukan gerakan di daerahnya? Jika iya, mereka menyatakan kesiapannya menjadi relawan.Tentu saja, jika ditanya tentang harapan, kami berharap gerakan Komunitas Ngejah bisa menjangkau daerah lainnya.

Pada akhirnya, terkait konsistensi relawan, kami tidak begitu khawatir, karena selain stok barisan relawan Komunitas Ngejah, diluaran sana banyak pemuda, atau mahasiswa yang sudah menghubungi kami dan menyatakan kesiapannya menjadi relawan dan juga tentu saja kami juga bisa memanfaatkan relawan dari kampung sasaran. Lalu apa yang kemudian menjadi pertimbangan tidak segera memperlebar sayap jangkauan? Itu terkait, keterbatasan amunisi buku, rak dan dana operasional kegiatan yang kami miliki.***NTA/Presiden Komunitas Ngejah.

Wisata Literasi Bersama Ngejah Junior

Posted on Updated on

IMG_0335Gelapnya pagi sudah hilang. Matahari mulai bersinar. Suara gemuruh  anak-anak usia SD dan SMP anggota Komunitas Ngejah yang kemudian kami sebut Ngejah Junior terdengar di halaman saung. Pelataran saung Komunitas Ngejah dipenuhi mereka. Minggu pagi menjadi hari yang panjang dimana kami relawan Komunitas Ngejah bisa bercengkrama bersama mereka, olahraga pagi, dan melakukan aktivitas wisata literasi bersama.

IMG_0347Menurut pendapat dari James J. Spillane (1982:20) mengemukakan bahwa pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain. Wisata literasi sendiri adalah salah satu program Komunitas Ngejah yang menggabungkan unsur-unsur melakukan pariwisata dengan dunia literasi.

IMG_0359Wisata Literasi menjadi wahana menyenangkan untuk Ngejah Junior. Di sini kami belajar mengeanli kondisi alam atau lingkungan sekitar, baik itu tempat baru maupun tempat yang sudah pernah bahkan sering dikunjungi. Aktivitas lainnya di wisata literasi kali ini, kami bermain, dan belajar membaca puisi. Kegiatan wisata literasi diikuti oleh anggota Ngejah Junior dari dua desa, desa Sukawangi dan Desa Pancasura. Lima puluh anak lebih bergabung bersama kami. Sebelum kami berangkat menuju lokasi,  relawan dan Ngejah Junir melakukan pemanasan. Pemanasan dibimbinig kak Budi. Senam ” Gummy Bear” senam yang aktraktif dan baru pertama diikuti oleh adik-adik Ngejah Junior. Loncat kanan loncat kiri, gosok perut, dan senam senyum menjadi adegan-adegan dalam senam ini.

IMG_0386Pemberangkatan dimulai dari saung Komunitas Ngejah, pukul 06.30 dibimbing kak Rosita dan kak Ade. Jarak tempuh menuju lokasi Wisata Literasi sekitar 45 menit, tidak terlalu jauh, tapi jalanan yang menanjak cukup menguras energi adik-adik Ngejah Junior. Tidak sedikit adik-adik yang gempor selama perjalanan, tapi mereka pantang menyerah dan melanjutkan perjalanan dengan semangat 45 nya.

IMG_0395Sesampainya di lokasi, gelombang bukit perkebuanan Teh Sumbawa menyapa kami dengan segala keindahannya. Antara Garut dan Tasikmalaya kami menikmati hembus angin spoy-spoy di puncak bukit Surapati, diapit dua tower propider yang berbeda. Semua membentuk lingkaran besar, rehat sejenak. Menghela napas, dan mengobati haus dengan meneguk minuman perbekalan masing-masing. Segar rasanya. Istirahat sudah cukup, kami kembali beraktivitas, mengawali kegiatan dengan bermain beberapa game menarik. Game “tepuk konsentrasi” membuka keakraban Ngejah Junior. dilanjutkan dengan pagelaran baca puisi anggota Ngejah Junir, yaitu Sifa R, Nabila, dan Anaba. Sifa akrab disapa, memukau adik-adik ngejah junior lainnya, saat dia membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Tak heran, jika Sifa memiliki kepiawai lebih dalam membaca puisi, mungkin karena ia sering mewakili sekolahnya dalam beberapa event perlombaan. Setelah menyaksikan tiga pembaca puisi tadi, dilanjutkan dengan mentoring membaca puisi, adik-adik Ngejah Junior yang dibagi kedalam beberapa kelas.

IMG_0464_tonemappedPembagian kelompok dilakukan untuk mempermudah pembelajaran, terlebih ini adalah short cours, jadi relawan mengoptimatkan pembelajaran membaca puisi dengan membibing kelompok-kelompok kecil. Alhasil masih ada adik-adik kami yang masih belum lancar membaca, tapi dia berani tampil membacakan sebuah puisi dengan terbata-bata dan penuh percaya diri. Ikhsan namanya anak dari desa Pancasura yang kini sudah duduk di bangku SD kelas 3. Membangun Hari yang gembira sukses kami lakukan, Ngejah Junior merasa ketagihan, dan memimta kegiatan ini kembali dilaksanakan minggu depan. ” teh, rame euy” seru Ikhsan, salah satu anggota Ngejah Junior kepada kak Ani relawan Komunitas Ngejah.

Minggu, 20 February 2016

Penulis : Budi Iskandar (Relawan/Bidang Litbang Komunitas Ngejah)