Latest Event Updates

Saya dan G-Fest

Posted on

ISHERY. Islam, Hero and History, begitu kiranya tema yang diambil dari acara G-Fest ini. G-Fest? Apa itu ? Mungkin pertanyaan tersebut adalah hal pertama yang timbul di benak teman-teman pembaca ketika mendengar atau membaca G-Fest. Jadi G-Fest itu sebutan untuk acara yang di adakan oleh Gamais. Wah , Gamais? Apa itu ya? Malah tambah bingung mungkin para pembaca. Ya sudah kita perkenalkan dari awal. GAMAIS itu adalah singkatan dari Keluarga Mahasiswa Islam ITB, jika di SMA , kita bisa setarakan dengan ROHIS. Bedanya kalau ROHIS itu untuk anak SMA, nah kalau GAMAIS itu buat perkumpulan mahasiswa/i ITB, bisa dibilang GAMAIS itu ROHISnya ITB lah.

Sejak pertama kali saya kuliah di ITB, sudah penasaran sama GAMAIS, jadi saya ikutan acara GAMAIS mulai jadi peserta sampai jadi panitianya. Baiklah kita balik lagi ke G-Fest. Jadi G-Fest itu singkatan dari GAMAIS FESTIVAL, acara ini bukan cuma buat mahasiswa/i ITB, acara ini juga terbuka buat umum, jadi siapa saja bisa datang ke acara ini. Termasuk teman-teman pembaca yang penasaran tentang GAMAIS, tentang ITB juga kita bisa tanya-tanya lewat gamais. G-Fest ini di adakan setahun sekali, biasanya berbarengan dengan Penerimaan Mahasiswa Baru. Karena selain ditujukan untuk umum, acara ini juga ditujukan buat ahasiswa-mahasiswa baru (maba-maba)ITB khususnya yang muslim. Acara di G-Fest ini selalu meriah, banyak bintang tamu yang sudah banyak menghasilkan karya-karya yang dengan siap menceritakan perjuangannya serta memotivasi kamu sekalian.Nah biasanya itu ada di acara talkshow, terus ada acara game nya juga,ada stand-stand makanan, dan jangan lupakan juga stand ldf-ldf. Ldf itu ROHIS tingkat FAKULTAS di ITB.

Saya di sini akan menceritakan pengalaman saya menjadi salah seorang yang mengatur keberlangsungan acara tersebut. Saya bersama teman saya yang bernama Siti Rodiah ditugaskan untuk memastikan bahwa Ldf-ldf bertanggungjawab terhadap stand mereka. Untuk teknis sebelum acara di hari H dimulai, itu berjalan dengan lancar, tetpai saat 10 jam sebelum acara dimulai, tepatnya pukul 19.00,kami mengalami kendala yang sangat mendadak. Semua stand Ldf kosong melompong, padahal kami sudah menyuruh orang-orang yang berada di LDF supaya menyiapkan dekorasi yang seunik mungkin untuk stand-stand mereka, dan harus selesai 12  jam sebelum hari H acara dimulai.Kami sangat panik, acara akan dimulai besok harinya pukul 08.00, tetapi segala sesuatunya belum siap. Akhirnya kami menghubungi satu persatu penanggungjawab tiap LDF dan menyuruh mereka supaya segera mendekorasi stand-stand, tak lupa juga kami berdoa semoga acara G-Fest tersebut lancar, walaupun pada awalnya kami berfikir bahwa acara tersebut akan sangat jauh dari kata lancar.Setelah selesai berbingung ria dengan persiapan acara yang keadaannya belum siap sama sekali, karena stand-stand belum di dekorasi, publikasi tidak menyeluruh, dan masih banyak masalah lainnya. Karena saking pusingnya, saya dan partner saya memutuskan untuk pulang dan tidur. Saat saya bangun di pagi hari dengan ketakutanyang masih sama, yaitu tugas saya sebagai penanggungjawab para LDF gagal, saya tetap menghadiri acara G-Fest tersebut. Namun karena mungkin dasarnya anak ITB itu kebanyakan deadliner, stand-stand yang belum di dekorasi kemarin pada akhirnya selesai. Saya takjub karena mendekorasi itu membutuhkan waktu yang lumayan lama, tapi mereka sudah selesai dengan cepatnya. Setelah masalah tersebut selesai , tidak ada lagi yang saya khawatirkan. Akhirnya pada pukul 08.00 acara tersebut dibuka dengan sambutan dari MC. Orang-orang mulai berdatangan , banyak juga mahasiswa baru di antara orang-orang yang datang.

Orang-orang mulai banyak yang berdatangan saat talkshow dimulai, mugkin karena pembicaranya sudah terkenal dikalangan para mahasiswa ITB, sehingga banyak dari mereka yang datang.Tidak ahanya mahasiswa , masyarakat umum juga banyak yang berkunjung. Setelah acara Talkshow selesai, dilanjutkan dengan megunjungi stand-stand.     Stand yang paling banyak pengunjungnya dapat hadiah dari kami selaku panitia. Dan stand yang paling rame, tentu saja stand beasiswaa. Stand ini tempat untuk yang mau bertanya-tanya soal beasiswa salman, tetapi beasiswa ITB juga bisa. Tidak hanya mahasiswa/i ITB saja yang bisa bertanya soal beasiswa ini, tetapi umum juga boleh.Oleh karenanya saya sangat berharap adik-adik saya yang berada di kampung halaman dapat mengikuti acara-acara yang seperti ini. Supaya tahu tentang banyak beasiswa. Karena yang namanya beasiswa itu banyak, bukan cuma bidik misi.Lembaga-lembaga seperti halnya salman juga menyediakan beasiswa-beasiswa, apalagi beasiswanya itu ditujukan buat umum, tidak terbatas pada mashasiswa ITB saja. Jadi ayo bergabung bersama kami.

 Setelah acara di stand-stand saya rasa cukup aman dan terkendali. Saya dan teman saya lekas berfoto-foto. Kami berfoto di setiap stand,dan acara pun berjalan dengan lancar.walaupun sangat melelahkan , karena acaranya baru berakghir saat jam 17.00. Namun jangn salah ini adalah acara terbaik yang pernah saya tangani. Terimakasih G-Fest. Dan untuk ade-ade saya di kampung halaman, saya tunggu kehadirannya di G-Fest tahun depan.

Penulis: Gesti Rahmah (Mahasiswi ITB asal Desa Pancasura Kecamatan Singajaya, Angota Komunitas Ngejah)

Merayakan Kemerdekaan dengan Puisi

Posted on Updated on

baca puisiPuisi untuk Negeri begitulah nama kegiatan yang kami (Komunitas Ngejah) usung sebagai agenda tahunan dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Sampai tahun 2014, bentuk kegiatan Puisi untuk Negeri kami laksanakan dengan  cara mengajak anak-anak yang berdomisili di Kampung Sukawangi dan sekitarnya, serta para relawan Komunitas Ngejah untuk menulis puisi dengan tema perjuangan dan kemerdekaan, kemudian membacakannya secara bergiliran. Biasanya 50-100 anak-anak  dan relawan yang didominasi oleh para pelajar dan santri larut dalam kemeriahan, memenuhi saung Komunitas Ngejah terlibat dalam kegiatan tersebut.

Tahun ini, kemeriahan Puisi untuk Negeri semakin menjadi. Alasannya adalah, para peserta kegiatan bukan hanya datang dari kalangan pelajar dan santri, melainkan seluruh lapisan warga Desa Sukawangi. Baik itu petani, tukang ojeg, guru, kepala desa, dll. Jika biasanya kegiatan dilakukan di saung Komunitas Ngejah, untuk tahun ini sebuah panggung khusus yang cukup besar kami sediakan. Posisi panggung yang berada di pinnggir jalan, sontak menarik perhatian warga untuk berduyun-duyun datang menyaksikan kegiatan tersebut.

Hal lainnya yang berbeda pada perayaan kemerdekaan tahun ini, yakni adanya kerjasama dengan Ikatatan Pemuda Pemudia Sukawangi serta seluruh organisasi kepemudaan yang berada di Desa Sukawangi, serta dengan pemerintahan desa. 70 Puisi sengaja disediakan untuk 70 warga. Puisi-puisi yang bertemakan perjuangan dan kemerdekaan dari penyair tanah air sengaja dipilih oleh Deri Hudaya, pemuda asal Sukawangi yang sedang menyelesaikan pendidikan magisternya di salahsatu Perguruan Tingggi Negeri, di Bandung.

11052469_10203242525943036_5196034980660286507_oSuasana pembacaan puisi  di tengah-tengah masyarakat Kampung Sukawangi tentu saja tak sehidmat ketika disuguhkan  pada panggung-panggung perlombaan yang digagas oleh komunitas-komunitas seni di perkotaan atau pada diskusi sastra yang diselenggarakn oleh komunitas sastra di kampus. Ketika pembacaan berlangsung, tak jarang terdengar gemuruh penonton yang ngalelewean atau seuseurian. Namun semuanya dibiarkan mengalir, alami. Namun hal ini tentu sajak tidak mengurangi harapan kami, bahwa melalui kegiatan Puisi untuk Negeri akan terbit pengetahuan masyarakat tentang keberadaan puisi yang memotret peristiwa demi peristiwa perjuangan rakyat negeri ini, dan selanjutnya pengetahuan tersebut berkembang sampai pada wilayah penghayatan. Meski begitu, dari 70 pembaca, ada juga beberapa diantaranya yang mampu memberikan getaran yang cukup kentara, sehingga penonton terbius suasana puisi. Suasana menjadi hening. Tak ada lagi suara yang ngalelewean atau seuseurian. Semua larut menyimak pembacaan puisi. Tiga dari sekian pembaca yang cukup baik, yang mampu membius penonton larut ke dalam puisi itu adalah (1) Rini Nurani, ketua penggerak PKK Desa Sukawangi, (2) Lia, ibu dari tiga orang anak, warga Kampung Sukawangi, dan (3) Agus Awaludin, Ketua Ikatan Pemuda Pemudi Sukawangi. Pembacaannya cukup serius, menunjukan vocal, artikulasi serta ekspresi yang cukup memukau.  Dalam kesempatan ini, Agus Awaludin yang mempersiapkan diri sejak empat hari sebelum kegiatan, memilih membacakan puisi yang berjudul Peringatan karya Widji Tukul. Sebuah puisi perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan pada rezim orde baru. Berikut saya tulis puisinya:

Widji Tukul

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

Selain pembacaan puisi, Puisi untuk Negeri juga menampilkan drama pendek oleh kawan-kawan Ngejah Junior asuhan Vita Sizu. Mereka memberi judul drama tersebut ‘Bersatunya Bambu Runcing’. Lima orang anak yang terdiri dari Mila, Qaila, Hasna, Annaba dan Sifa tampil dihadapan ratusan mungkin ribuan penonton tanpa canggung. Pesan dari drama tersebut dalam pengamatan saya yakni berbicara keampuhan bambo runcing, bukan dalam ketajaman bambunya namun dalam persatuan dan tekad yang kuat dari rakyat Republic Indonesia untuk lepas dari penjajahan. ***NTA

Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pendidikan Gubernur Jawa Barat

Posted on Updated on

Gerakan literasi yang dilakukannya, menjadi jembatan diterimanya anugerah pelopor pemberdayaan masyarakat dari GUBERNUR JAWA BARAT Bidang Pendidikan.
Gasibu-Bandung, 19/08/2015. Gerakan Literasi menghantarkan Presiden Komunitas Ngejah menerima Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pendidikan dari Gubernur Jawa Barat pada Hari Jadi Provinsi Jawa Barat.
Presiden Komunitas Ngejah, Opik, berjalan menuju lapang Gasibu saat dipanggil untuk menerima Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat Bidang Pendidikan
Presiden Komunitas Ngejah, Opik, berjalan menuju lapang Gasibu saat dipanggil untuk menerima Anugerah Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat Bidang Pendidikan
Piagam Penghargaan Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat 2015
Piagam Penghargaan Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat 2015
Tropi Penghargaan Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat 2015
Tropi Penghargaan Pelopor Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat 2015

Kemeriahan HUT RI Ke-70 di Desa Sukawangi

Posted on Updated on

11143657_10203251629610622_239670156011880019_n 11870908_10203251629650623_9037855186660014440_n

Komunitas Ngejah dan Ikatan Pemuda Pemudi Sukawangi (IPPS), memiliki cara tersendiri untuk memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 70. Bersama-sama warga Desa Sukawangi, serta seluruh organisasi kepemudaan yang ada, mereka mengarak keliling desa kain merah putih sepanjang 100 meter dan lebar 3 meter. Adalah Agus Awaludin yang bertindak sebagai ketua pelaksana. Dalam kesempatan ini, iya mengatakan bahwa salahsatu tujuan diselenggarakannya kegiatan tersebut yakni untuk meningkatkan jiwa nasionalisme pada jiwa masyarakat Desa Sukawangi.

Para peserta kegiatan yang terdiri dari para pelajar, pemuda dan juga orang tua, terlihat sangat antusias mengarak bendera. Selain itu 70 orang perwakilan warga pada kesempatan tersebut membacakan puisi-puisi yang bertemakan perjuangan dan kemerdakaan. Lebihlanjut acara ini diisi dengan pembacaan teks proklamasi oleh Pak Maman, serta menyanyikan lagu-lagu wajib Nasional. Acara ini diramaikan juga dengan tampilan Musik Voice of Baqitos (VoB), Pencak Silat Jaya Mekar Siliwangi, Gema Suara Pemuda, serta dramatisasi puisi Ngejah Junior asuhan Vita Sizu. Kepala Desa Sukawangi, Hadiansyah, mengatakan sangat mengapresiasi semangat kawan-kawan Komunitas Ngejah, Ikatan Pemuda Pemudi Sukawangi (IPPS) serta seluruh warga dalam memeriahkan peringatan HUT RI. Ia berharap kegiatan ini bisa dijadikan  event tahunan.***RL

Gawai dan Ponsel Cerdas dalam Genggaman Anak-anak

Posted on

images (2)Tablet atau yang kemudian disebut gawai dalam Bahasa Indonesia yang baku, dan juga smartphone atau ponsel cerdas, bukan lagi barang asing bagi warga Indonesia, baik warga perkotaan ataupun pedesaan.  Pada perkembangannya, kedua teknologi canggih tersebut bukan hanya digunakan oleh orang dewasa melainkan oleh berbagai tingkatan usia, termasuk anak-anak usia SD, bahkan PAUD. Banyak orang tua yang sengaja membelikan kedua barang tersebut untuk anak-anaknya. Entah apa alasan mendasari keputusan orang tua membelikan barang tersebut untuk anak-anaknya? Namun yang pasti, menurut pengamatan saya, setidaknya tiga alasan yang melandasi orang tua rela merogohkocek sakunya demi membeli gawai atau ponsel cerdas untuk anak-anaknya. Satu, supaya anak cerdas, segera memiliki banyak pengetahuan karena kedua barang tersebut menawarkan banyak feature yang dapat merangsang kognitif anak. Kedua, supaya anak anteng bermain atau mempelajari sesuatu yang pada gilirannya tidak mengganggu aktivitas mereka para orang tua, setidaknya dalam saat-saat tertentu. Ketiga, karena alasan pergaulan. Di dunia yang serba modern ini, kadang ada orang tua atau anaknya sendiri yang menganggap deso, atau merasa hidup di zaman batu jika tidak memiliki barang canggih, semacam gawai atau ponsel cerdas, sementara orang-orang di sekitarnya memiliki barang tersebut. Di luar itu, tentu saja masih ada seabreg alasan lain.

Musabab lahirnya asumsi di atas, ini berdasarkan pengalaman saya secara langsung. Untuk alasan pertama dan kedua, alasan itu lahir dari perjumpaan saya dengan dua orang teman yang kebetulan sudah berumah tangga dan memiliki anak. Pengalaman pertama, waktu itu saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan menjadi ajengan atau ustad. Ia memiliki tiga orang putri. Satu baru masuk SD, satu PAUD, dan satu lagi  masih bayi. Waktu itu teman saya mengabarkan bahwa anak sulungnya sudah mampu menghafal sebagian besar surat-surat Al-Quran yang terdapat pada juz 30. Ia menuturkan, bahwa kemampuan anaknya tersebut lantaran sering mendengarkan murotal dari ponsel cerdas yang ia miliki. Selain itu, anaknya juga piawai bermain game-game yang berisi pengetahuan. Ketika ditanya tentang intensitas anaknya memegang ponsel cerdas, teman saya menyatakan, sangat sering. Hal itu dilakukan untuk mempercepat kemampuan hafalan anaknya.  Lebih lanjut ia menyatakan tentang rencananya membeli lagi ponsel cerdas untuk anaknya yang kedua. Rencananya tersebut terangsang, minimal karena dua alasan. Satu, melihat kemampuan anak sulungnya dalam menghafal Al-Quran. Dua, karena sering terjadinya keributan antara si sulung dan anak yang kedua, yang dipicu rebutan ponsel. Cerita lain datang ketika saya berkunjung ke rumah salahseorang teman lama yang sudah menjadi guru. Pada saat kunjungan tersebut, saya mendapati anaknya sedang rewel, sementara ia (orang tuanya) sedang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi demi menyelesaikan pekerjaannya mengisi ijazah. Sebagai bentuk tanggapan terhadap anaknya yang rewel, teman saya segera mengambil gawai, membukanya dan memberikan serta menyarankan anaknya untuk main game. Alhasil, cara ini sangat jitu. Anaknya segera diam, dan anteng bermain game. Alasan  ketiga lahir, waktu saya sedang nongkrong di sebuah kedai kopi. Waktu itu, tiga orang bapak-bapak sedang asik menikmati kopi sambil bercakap. Percakapan yang sangat akrab mengalir. Tidak sengaja saya menguping curhat salahserong diantara ketiganya. Ia mengatakan bahwa anaknya merajuk, meminta untuk dibelikan gawai. Anaknya yang baru duduk di kelas VI SD merasa minder karena tidak memiliki gawai, sementara mayoritas teman-temannya memilikinya. Temannya menimpali “belikan dong, inikan bukan zaman batu! Anak gue sejak kelas 1 SD saja sudah aku belikan” Serta merta orang tua pertama, yang berkisah tentang keinginan anaknya memiliki gawai, segera merencanakan membeli gawai untuk anaknya. Malahah, ia segera menanyakan tenntang kualitas dan harganya secara detail.

Di luar alasan kenapa orang tua memberikan gawai atau dan ponsel cerdas untuk anak-anaknya, beberapa artikel hasil penelitian yang berseliweran di internet ataupun dalam beberapa majalah, mengabarkan bahwa kedua barang elektronik tersebut mengirimkan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Pada tahun 2011, The International Agency For Research on Cancer (IRIC) yang merupakan bagian dari World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa paparan gelombang elektromagnetik yang bersumber dari radio televise, microwave, telepon genggam dan Wi-Fi mungkin saja menyebabkan kanker. Lebih lanjut, penelitian terbaru yang dipublikasikan Journal of Microspy and Ultrastructure, mengumumkan bahwa anak-anak lebih beresiko terkena bahaya elektromagnetik dibandingkan orang dewasa, dengan alasan bahwa mereka (anak-anak) memiliki tubuh dan otak yang lebih kecil, serta memiliki tulang yang lebih tipis. dr. Susetyo Handryastuti pernah SpA(K)menegaskan bahwa gawai hanya merangsang perkembangan kognitif tapi tidak pada perkembangan motorik kasar, halus, interaksi sosial dan kemampuan berbicara dan bahasa (Widyaningrum: 2015)

Kiranya, hasil penelitian di atas harus menjadi kekhawatiran orang tua terhadap dampak kedua barang elektonik tersebut bagi tumbuh kembang anak. Dalam hal ini, kekhawatiran dalam dosis tertentu dibutuhkan untuk mengantisipasi bahaya, mendeteksi dan sebagai upaya preventif menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Namun tentu saja kekhawatiran tersebut bukan harus dijadikan alasan untuk mengharamkan anak-anak bersentuhan, atau mengenal dan juga memanfaatkan kedua barang elektronik tersebut.  Jika orang tua ingin memberikan gawai atau ponsel cerdas kepada anak-anaknya, maka alangkah lebih bijaksananya disertai aturan main tersendiri, yang memungkinkan anak-anak tidak kecanduan untuk selalu menggunakannya setiap waktu. Dengan demikian, anak-anak mampu mencerap manfaatnya, tanpa menuai dampak.***NTA

Milad Komunitas Ngejah ke-5

Posted on

VOB tampil pada acara milad Komunitas Ngejah ke-5

Senin, 15 Juli 2015, sejak pagi satu persatu pengurus dan relawan Komunitas Ngejah mulai berdatangan ke Sekretariat. Ini tanggal berbahagia bagi kami. Tanggal yang kemudian disepakati sebagai hari kelahiran. Sekitar Jam 10 sebuah panduk mini yang terbuat dari kertas HVS telah dipasang di saung. Meski siang hari, kedap-kedi lampu disko masih jelas terlihat, menghiasi spanduk. Sebuah tulisan sebagai nama kegiatan yang akan kami laksanakan hari ini “Milad Komunitas Ngejah Ke-5” Di bawahnya tertulis “Menengok ke dalam diri” ditulis lebih besar, dibandingkan susunan acara yang tertulis pada spanduk.

Ya, hari ini kami akan melakukan syukuran sederhana atas tanggal kelahiran Komunitas Ngejah, atas perjalanan kami lima tahun yang telah terlewati. Tanggal kelahiran, atau yang lebih dikenal dengan istilah ulang tahun dalam Bahasa Indonesia, birthday dalam Bahasa Inggris dan Milad dalam Bahasa Arab merupakan hari yang kami anggap penting. Terlepas istilah mana yang digunakan, hari kelahiran adalah momen bagi kami untuk memproduksi kegembiraan di kampung halaman, dan tentu menjadikannya sebagai momen melakukan refleski, menengok ke dalam diri, tentang gerakan yang kami lakukan bersama melalui kendaraan organisasi yang bernama Komunitas Ngejah.

Pemberian Hadiah oleh Kepala Desa Sukawangi
Pemberian Hadiah oleh Kepala Desa Sukawangi

Sebagian gerwani Komunitas Ngejah, sibuk membuat tumpeng, menggoreng kerupuk, membuat semur telur, serta beberapa makanan lainnya di rumah Teh Elin. Sementara kaum adam, menyiapkan beberapa peralatan seperti sound, kursi dan peralatan lainnya. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dengan kegiatan menggambar bersama kawan-kawan Ngejah Junior. Adalah Novia Susanti Dewi, salahseorang relawan Komunitas Ngejah yang bercita-cita menjadi ahli sejarah, yang bertugas membimbing acara tersebut. Di tengah-tengah acara menggambar bersama, VOB sebagai band pelajar asal Kecamatan Banjarwangi, mulai beraksi di halaman Saung. Beberapa lagu yang diciptakan dan diaransemen langsung oleh Abah Erza sebagai pembimbing, serta beberapa lagu asal band kenamaan, baik dalam atau pun luar negeri, mereka mainkan. Jeda antar lagu, pada sesi ini diselingi dengan bincang-bincang mengenai proses kreatif VOB sebagai band pelajar dengan segudang prestasi. Acara ini dipandu oleh Neng Rifa, salah seorang pelajar asal Kecamatan Peundeuy yang sejak tahun 2012 sudah menceburkan dirinya menjadi anggota sekaligus relawan Komunitas Ngejah.

Nasi Tumpeng pada Acara Milad Komunitas Ngejah ke-5

Selepas sholat ashar, secara berurutan kegiatan diisi dengan nonton film kisah teladan dan mendongeng. Beberapa orang relawan mencoba unjuk kebolehan untuk menyampaikan dongeng di depan kawan-kawan ngejah junior. Tak terkeculai dengan saya. Selanjutnya, Roni Nuroni tampil untuk mengumumkan hasil lomba menggambar dan pengunjung terajin, anggota ngejah junior. Adapun nama-nama anggota Ngejah Junior yang ditetapkan sebagai pengunjung terajin adalah, Rida, Lanlan, Nazwa, Eel, dan Uni. Semuanya mendapat bingkisan berupa buku tulis dan pensil. Hal ini kami lakukan untuk memberikan suntikan semangat bagi adik-adik Ngejah Junior agar lebih bersemangat membaca buku. Tadarus bersama dipimpin oleh Latif, salahseorang relawan sekaligus guru PAI di salahsatu sekolah swasta yang berada di Kecamatan Bojongggambir, adalah sesi lanjutan, sebelum kegiatan potong tumpeng dan buka bersama.

Selepas sholat Maghrib, diskusi dan evaluasi bersama mengenai gerakan anak muda dalam rangka membangun kampung halaman digelar. Selain menganalisis beberapa kendala gerakan literasi yang sedang digelorakan oleh Komunitas Ngejah, keinginan dan cara untuk saling menopang dan menguatkan antar gerakan organisasi pemuda yang ada di Desa Sukawangi mengemuka. Khusus, dalam rangka menguatkan gerakan literasi, Komunitas Ngejah menyusun sebuah rencana satu tahu ke depan yang terdiri dari: melanjutkan program sebelumnya (layanan membaca setiap hari melalui Taman Baca aiueo, Pelatihan Jurnalistik Pelajar, Gerakan Kampung Membaca, Pembangunan Pojok Baca hingga mencapai 50 titik, Pelatihan Keterampilan, Pelatihan Internet Sehat, Pelatihan Blog), ditambah program tambahan yakni mengadakan kelas menulis, menerbitkan buku hasil karya tulis anggota, serta menyelenggarakan Festival Kampung Literasi. Semoga terealisasi.*** NTA