Latest Event Updates

Gawai dan Ponsel Cerdas dalam Genggaman Anak-anak

Posted on

images (2)Tablet atau yang kemudian disebut gawai dalam Bahasa Indonesia yang baku, dan juga smartphone atau ponsel cerdas, bukan lagi barang asing bagi warga Indonesia, baik warga perkotaan ataupun pedesaan.  Pada perkembangannya, kedua teknologi canggih tersebut bukan hanya digunakan oleh orang dewasa melainkan oleh berbagai tingkatan usia, termasuk anak-anak usia SD, bahkan PAUD. Banyak orang tua yang sengaja membelikan kedua barang tersebut untuk anak-anaknya. Entah apa alasan mendasari keputusan orang tua membelikan barang tersebut untuk anak-anaknya? Namun yang pasti, menurut pengamatan saya, setidaknya tiga alasan yang melandasi orang tua rela merogohkocek sakunya demi membeli gawai atau ponsel cerdas untuk anak-anaknya. Satu, supaya anak cerdas, segera memiliki banyak pengetahuan karena kedua barang tersebut menawarkan banyak feature yang dapat merangsang kognitif anak. Kedua, supaya anak anteng bermain atau mempelajari sesuatu yang pada gilirannya tidak mengganggu aktivitas mereka para orang tua, setidaknya dalam saat-saat tertentu. Ketiga, karena alasan pergaulan. Di dunia yang serba modern ini, kadang ada orang tua atau anaknya sendiri yang menganggap deso, atau merasa hidup di zaman batu jika tidak memiliki barang canggih, semacam gawai atau ponsel cerdas, sementara orang-orang di sekitarnya memiliki barang tersebut. Di luar itu, tentu saja masih ada seabreg alasan lain.

Musabab lahirnya asumsi di atas, ini berdasarkan pengalaman saya secara langsung. Untuk alasan pertama dan kedua, alasan itu lahir dari perjumpaan saya dengan dua orang teman yang kebetulan sudah berumah tangga dan memiliki anak. Pengalaman pertama, waktu itu saya berkunjung ke rumah seorang teman yang kebetulan menjadi ajengan atau ustad. Ia memiliki tiga orang putri. Satu baru masuk SD, satu PAUD, dan satu lagi  masih bayi. Waktu itu teman saya mengabarkan bahwa anak sulungnya sudah mampu menghafal sebagian besar surat-surat Al-Quran yang terdapat pada juz 30. Ia menuturkan, bahwa kemampuan anaknya tersebut lantaran sering mendengarkan murotal dari ponsel cerdas yang ia miliki. Selain itu, anaknya juga piawai bermain game-game yang berisi pengetahuan. Ketika ditanya tentang intensitas anaknya memegang ponsel cerdas, teman saya menyatakan, sangat sering. Hal itu dilakukan untuk mempercepat kemampuan hafalan anaknya.  Lebih lanjut ia menyatakan tentang rencananya membeli lagi ponsel cerdas untuk anaknya yang kedua. Rencananya tersebut terangsang, minimal karena dua alasan. Satu, melihat kemampuan anak sulungnya dalam menghafal Al-Quran. Dua, karena sering terjadinya keributan antara si sulung dan anak yang kedua, yang dipicu rebutan ponsel. Cerita lain datang ketika saya berkunjung ke rumah salahseorang teman lama yang sudah menjadi guru. Pada saat kunjungan tersebut, saya mendapati anaknya sedang rewel, sementara ia (orang tuanya) sedang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi demi menyelesaikan pekerjaannya mengisi ijazah. Sebagai bentuk tanggapan terhadap anaknya yang rewel, teman saya segera mengambil gawai, membukanya dan memberikan serta menyarankan anaknya untuk main game. Alhasil, cara ini sangat jitu. Anaknya segera diam, dan anteng bermain game. Alasan  ketiga lahir, waktu saya sedang nongkrong di sebuah kedai kopi. Waktu itu, tiga orang bapak-bapak sedang asik menikmati kopi sambil bercakap. Percakapan yang sangat akrab mengalir. Tidak sengaja saya menguping curhat salahserong diantara ketiganya. Ia mengatakan bahwa anaknya merajuk, meminta untuk dibelikan gawai. Anaknya yang baru duduk di kelas VI SD merasa minder karena tidak memiliki gawai, sementara mayoritas teman-temannya memilikinya. Temannya menimpali “belikan dong, inikan bukan zaman batu! Anak gue sejak kelas 1 SD saja sudah aku belikan” Serta merta orang tua pertama, yang berkisah tentang keinginan anaknya memiliki gawai, segera merencanakan membeli gawai untuk anaknya. Malahah, ia segera menanyakan tenntang kualitas dan harganya secara detail.

Di luar alasan kenapa orang tua memberikan gawai atau dan ponsel cerdas untuk anak-anaknya, beberapa artikel hasil penelitian yang berseliweran di internet ataupun dalam beberapa majalah, mengabarkan bahwa kedua barang elektronik tersebut mengirimkan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Pada tahun 2011, The International Agency For Research on Cancer (IRIC) yang merupakan bagian dari World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa paparan gelombang elektromagnetik yang bersumber dari radio televise, microwave, telepon genggam dan Wi-Fi mungkin saja menyebabkan kanker. Lebih lanjut, penelitian terbaru yang dipublikasikan Journal of Microspy and Ultrastructure, mengumumkan bahwa anak-anak lebih beresiko terkena bahaya elektromagnetik dibandingkan orang dewasa, dengan alasan bahwa mereka (anak-anak) memiliki tubuh dan otak yang lebih kecil, serta memiliki tulang yang lebih tipis. dr. Susetyo Handryastuti pernah SpA(K)menegaskan bahwa gawai hanya merangsang perkembangan kognitif tapi tidak pada perkembangan motorik kasar, halus, interaksi sosial dan kemampuan berbicara dan bahasa (Widyaningrum: 2015)

Kiranya, hasil penelitian di atas harus menjadi kekhawatiran orang tua terhadap dampak kedua barang elektonik tersebut bagi tumbuh kembang anak. Dalam hal ini, kekhawatiran dalam dosis tertentu dibutuhkan untuk mengantisipasi bahaya, mendeteksi dan sebagai upaya preventif menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Namun tentu saja kekhawatiran tersebut bukan harus dijadikan alasan untuk mengharamkan anak-anak bersentuhan, atau mengenal dan juga memanfaatkan kedua barang elektronik tersebut.  Jika orang tua ingin memberikan gawai atau ponsel cerdas kepada anak-anaknya, maka alangkah lebih bijaksananya disertai aturan main tersendiri, yang memungkinkan anak-anak tidak kecanduan untuk selalu menggunakannya setiap waktu. Dengan demikian, anak-anak mampu mencerap manfaatnya, tanpa menuai dampak.***NTA

Milad Komunitas Ngejah ke-5

Posted on

VOB tampil pada acara milad Komunitas Ngejah ke-5

Senin, 15 Juli 2015, sejak pagi satu persatu pengurus dan relawan Komunitas Ngejah mulai berdatangan ke Sekretariat. Ini tanggal berbahagia bagi kami. Tanggal yang kemudian disepakati sebagai hari kelahiran. Sekitar Jam 10 sebuah panduk mini yang terbuat dari kertas HVS telah dipasang di saung. Meski siang hari, kedap-kedi lampu disko masih jelas terlihat, menghiasi spanduk. Sebuah tulisan sebagai nama kegiatan yang akan kami laksanakan hari ini “Milad Komunitas Ngejah Ke-5” Di bawahnya tertulis “Menengok ke dalam diri” ditulis lebih besar, dibandingkan susunan acara yang tertulis pada spanduk.

Ya, hari ini kami akan melakukan syukuran sederhana atas tanggal kelahiran Komunitas Ngejah, atas perjalanan kami lima tahun yang telah terlewati. Tanggal kelahiran, atau yang lebih dikenal dengan istilah ulang tahun dalam Bahasa Indonesia, birthday dalam Bahasa Inggris dan Milad dalam Bahasa Arab merupakan hari yang kami anggap penting. Terlepas istilah mana yang digunakan, hari kelahiran adalah momen bagi kami untuk memproduksi kegembiraan di kampung halaman, dan tentu menjadikannya sebagai momen melakukan refleski, menengok ke dalam diri, tentang gerakan yang kami lakukan bersama melalui kendaraan organisasi yang bernama Komunitas Ngejah.

Pemberian Hadiah oleh Kepala Desa Sukawangi
Pemberian Hadiah oleh Kepala Desa Sukawangi

Sebagian gerwani Komunitas Ngejah, sibuk membuat tumpeng, menggoreng kerupuk, membuat semur telur, serta beberapa makanan lainnya di rumah Teh Elin. Sementara kaum adam, menyiapkan beberapa peralatan seperti sound, kursi dan peralatan lainnya. Sekitar pukul 13.00 acara dimulai dengan kegiatan menggambar bersama kawan-kawan Ngejah Junior. Adalah Novia Susanti Dewi, salahseorang relawan Komunitas Ngejah yang bercita-cita menjadi ahli sejarah, yang bertugas membimbing acara tersebut. Di tengah-tengah acara menggambar bersama, VOB sebagai band pelajar asal Kecamatan Banjarwangi, mulai beraksi di halaman Saung. Beberapa lagu yang diciptakan dan diaransemen langsung oleh Abah Erza sebagai pembimbing, serta beberapa lagu asal band kenamaan, baik dalam atau pun luar negeri, mereka mainkan. Jeda antar lagu, pada sesi ini diselingi dengan bincang-bincang mengenai proses kreatif VOB sebagai band pelajar dengan segudang prestasi. Acara ini dipandu oleh Neng Rifa, salah seorang pelajar asal Kecamatan Peundeuy yang sejak tahun 2012 sudah menceburkan dirinya menjadi anggota sekaligus relawan Komunitas Ngejah.

Nasi Tumpeng pada Acara Milad Komunitas Ngejah ke-5

Selepas sholat ashar, secara berurutan kegiatan diisi dengan nonton film kisah teladan dan mendongeng. Beberapa orang relawan mencoba unjuk kebolehan untuk menyampaikan dongeng di depan kawan-kawan ngejah junior. Tak terkeculai dengan saya. Selanjutnya, Roni Nuroni tampil untuk mengumumkan hasil lomba menggambar dan pengunjung terajin, anggota ngejah junior. Adapun nama-nama anggota Ngejah Junior yang ditetapkan sebagai pengunjung terajin adalah, Rida, Lanlan, Nazwa, Eel, dan Uni. Semuanya mendapat bingkisan berupa buku tulis dan pensil. Hal ini kami lakukan untuk memberikan suntikan semangat bagi adik-adik Ngejah Junior agar lebih bersemangat membaca buku. Tadarus bersama dipimpin oleh Latif, salahseorang relawan sekaligus guru PAI di salahsatu sekolah swasta yang berada di Kecamatan Bojongggambir, adalah sesi lanjutan, sebelum kegiatan potong tumpeng dan buka bersama.

Selepas sholat Maghrib, diskusi dan evaluasi bersama mengenai gerakan anak muda dalam rangka membangun kampung halaman digelar. Selain menganalisis beberapa kendala gerakan literasi yang sedang digelorakan oleh Komunitas Ngejah, keinginan dan cara untuk saling menopang dan menguatkan antar gerakan organisasi pemuda yang ada di Desa Sukawangi mengemuka. Khusus, dalam rangka menguatkan gerakan literasi, Komunitas Ngejah menyusun sebuah rencana satu tahu ke depan yang terdiri dari: melanjutkan program sebelumnya (layanan membaca setiap hari melalui Taman Baca aiueo, Pelatihan Jurnalistik Pelajar, Gerakan Kampung Membaca, Pembangunan Pojok Baca hingga mencapai 50 titik, Pelatihan Keterampilan, Pelatihan Internet Sehat, Pelatihan Blog), ditambah program tambahan yakni mengadakan kelas menulis, menerbitkan buku hasil karya tulis anggota, serta menyelenggarakan Festival Kampung Literasi. Semoga terealisasi.*** NTA

Gerakan Kampung Membaca Episode 35

Posted on Updated on

Kegiatan Membaca Bersama di Gerakan kampung Membaca #35
Kegiatan Membaca Bersama di Gerakan kampung Membaca #35

Semuan orang tahu, bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat. Namun, hal itu kemudian tidak serta merta menjadi modal untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada setiap individu. Dalam hal ini maka perlu pembiasaan diri, sedikit demi sedikit menyempatkan waktu untuk mau membaca. Bahwa sesunggunnya sesuatu kebiasaan yang bermanfaat pada awalnya harus kita paksakan, dengan harapan lambat laun akan mencapai predikat biasa.

Dalam hal ini, ikhtiar yang dilakukan oleh Komunitas Ngejah tak henti-hentinya terus memberikan motivasi bagi diri dan mengajak masyarakat untuk gemar membaca melaluli Gerakan kampung Membaca. Kali ini Gerakan Kampung Membaca memasuki Episode #35 dengan lokasi di Kampung Padasuka Desa Banjarwangi Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut. Pada Episode kali ini, Gerakan Kampung Membaca ditndaklanjuti secara langsung dengan dengan Pembangunan Pojok Baca yang ke 22 dengan nama “Pojok Baca Padasuka”.

Kang Roni Nuroni Membuka acara dan memberikan pengantar pada GKM #35
Kang Roni Nuroni Membuka acara dan memberikan pengantar pada GKM #35

Sabtu 11 Juli 2015 sekitar pukul 14.00 para relawan Komunitas Ngejah bersiap-siap mengemas buku yang akan dibawa ke Kampung Padasuka-Banjarwangi untuk Geraka kampung Membaca. Para relawan digawangi kang Ruli Lesmana, Dede Roffi, Roni Nuroni, Ai Nurhalimah, dan tentunya seperti biasa ada Ngejah Junior yaitu Sifa dan Milla bergerak bersama. Setelah mengemas buku dan rak, maka para relawan langsung berangkat menuju lokasi Gerakan kampung Membaca. Ditengah perjalanan para relawan berhenti sejenak untuk menunggu salahsatu relawan lainnya yang bernama Siti Fauziah yang bergabung menuju Lokasi GKM. Sesampainya di lokasi, para relawan Komunitas Ngejah disambut dengan riuh, senyum penuh semangat para santri, anak-anak sekitar lokasi kegiatan. Karena waktu sudah menunjukan Pukul 15.00 akhirnya para relawan Komunitas Ngejah memutuskan untuk menunggu adzan asar untuk melaksanakan sholat berjamaah yang dipimpin kang Roni Nuroni.

Dede Rofi sedang mendongeng di Depan anak-anak Peserta GKM 35 Kp. Padasuka Banjarwangi
Dede Rofi sedang mendongeng di Depan anak-anak Peserta GKM 35 Kp. Padasuka Banjarwangi

Tidak menunggu lama setelah sholat asar selesai, semua relawan langsung menuju  madrasah untuk memulai kegiatan inti Gerakan Kampung Membaca. Begitu sudah di ruangan Kang Roni Nuroni mambuka acara dan memberikan pengantar serta memperkenalkan para relawan yang ikut dalam rombongan tersebut. Dilanjutkan dengan dongeng dari Dede Rofi tentang pentingnya membaca dan menghargai orang tua. Selepas dongeng berakhir, kang Roni mencoba memancing keberanian anak-anak untuk berani mengungkapan serta mengulas dongeng yang diceritakan dede Roffi tadi. Dan ternyata ada yang berani menyampaikan pendapat serta ulasan dongeng tersebut. Ini tentu membuat kami merasa bahagia, menyaksikan keberanian anak-anak untuk mau menyampaikan pendapatnya.

Siti Fauziah membaerikan Motovasi dari pengalamannya suka membaca
Siti Fauziah membaerikan Motovasi dari pengalamannya suka membaca

Melihat semangat anak-anak walupun sedang berpuasa, para relawan makin bersemangat juga melanjutkan acara. Kali ini giliran Siti fauziah berkesempatan mengisi acara GKM dengan memberikan motovasi dan pengalaman dari kegiatan rajin membaca yang ia lakukan. “Dengan membaca akan menambah wawasan dan pengalaman serta pengetahuan yang banyak untuk kita, namum kalau bisa setiap kita membaca harus dibarengi dengan hati yang baik dan mendalami apa yang kita baca sehingga kita akan merasakan hasil dari apa yang kita baca”. salahsatu bagian motivasi yang disampaikan oleh Siti Fauziah. Selepas Siti Fauziah, giliran Ai Nurhalimah memberikan motivasi membaca dengan beberapa lagu keceriaan yang membawa anak-anak menjadi lebih semangat.

Foto Bersama anak-anak Gerakan kampung Membaca Episode #35 Kp. Padasuka Banjarwangi
Foto Bersama anak-anak Gerakan kampung Membaca Episode #35 Kp. Padasuka Banjarwangi

Akhirnya sampai pada acara inti, anak-anak diajak untuk membaca bersama sesuai pilihan masing-masing. Buku-buku yang kami bawa segera berpindah tangan dari dus, ke dalam genggaman anak-anak.  Selama 30 menit anak-anak membaca buku dengan asik dan penuh semangat. Ketika jam sudah menunjukan pukul 17.30, kami pun mengakhiri acara dengan penyerahan Buku dan Rak Buku Pojok Baca Padasuka kepada pengelola, yang kemudian dilanjutkan dengan ritual wajib foto bersama di halaman madarasah. Semoga kegiatan ini dapat memacu dan menambah motivasi masyarakan akan gemar membaca karena dengan masyarakat yang rajin membaca, bangsapun akan maju.***KN-RN.

Nikmatnya Puasa sambil GKM

Posted on Updated on

OPik dan Roni Memberikan  Pengatar Kegiatan Gerakan Kampung Membaca 34 di Kampung Babakanlalay
Opik dan Roni Memberikan Pengantar Kegiatan Gerakan Kampung Membaca Episode 34 di Kampung Babakanlalay

Hingga puasa ke 18, hujan belum jua turun. Kondisi ini, mengirimkan hawa dingin di sekitar wilayah Singajaya Kabupaten Garut. Mungkin hal ini terjadi juga di daerah-daerah yang lain. Menjalankan ibadah puasa pada saat hawa dingin melanda, sepertinya akan lebih terasa ringan dengan memilih tidur di kamar, mengenakan selimut tebal. Namun kita tentu tahu, puasa akan lebih berkah dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. Untuk melunasi keyakinan tersebut, serta menjalankan agenda yang sudah disepakati sebelumnya, ketika jarum jam menunjuk angka satu, hari ini, Minggu 5 Juli 2015, satu persatu relawan Komunitas Ngejah mulai berdatangan dalam rangka melakukan Gerakan Kampung Membaca episode 34.

Sesampainya di Saung, semuanya mulai melakukan persiapan masing-masing, tak terkecuali Dede Rofie, petugas harian yang sudah stand by mulai pukul 08.00. Dede Rofie dibantu oleh Aziz dan Aji terlihat mulai sibuk merapikan buku-buku ke dalam dus sebagai bekal amunisi kegiatan membaca bersama. Ruli Lesmana menyiapkan infokus, laptop dan beberapa film-film kartun kisah teladan. Roni Nuroni mengecek baterai kamera beserta memorinya. Saya pun tak ketinggalan, mempersiapkan beberapa perlengkapan kegiatan, membawa Al-Quran terjemahaan serta Kaos Komunitas Ngejah untuk diberikan kepada Kang Dadang sebagai ustad sekaligus pengelola Pojok Baca Babakanlalay. Sementara Iwan Ridwan sang koordinator GKM sudah menunggu di Pasirjonge.

Ruli Menyiapkan Pemutaran Film Kartun, Kisah-kisah Teladan Pada Kegiatan GKM episode 34
Ruli Menyiapkan Pemutaran Film Kartun, Kisah-kisah Teladan Pada Kegiatan GKM episode 34

Jarum jam bergeser. Waktu menunjukkan pukul 13.30. Setelah seluruh persiapan selesai, kami berkumpul dan berdoa bersama untuk jalannya kegiatan. Mula-mula jalan aspal berhotmix yang kami lalui. Dari pertigaan Lio, jalan mulai menanjak dengan aspal yang sudah sedikit acak-acakkan. Sesampainya di Kampung Tegalkondang, jalan pelur adalah santapan roda dua yang harus kami lalui. Jalanannya cukup curam, kecil, berbelok-belok dan naik turun. Kurang lebih sekitar 20 menit kami sampai di Kampung Babakanlalay. Dari luar masjid mungil yang rencananya akan segera direnovasi, terdengan gemuruh suara anak-anak sedang mengaji.

Satu persatu relawan memasuki masjid. Ustad Dadang dengan wajah ramah menyambut kami. Mempersilahkan kami masuk dan memberikan kesempatan untuk segera membuka acara. Ustad muda yang satu ini memang sudah sangat akarab dengan kami. Selain bertemu karena kami mengunjungi kampungnya, beliau juga beberapa kali datang ke Saung Komunitas Ngejah untuk sekedar silaturahmi, berdiskusi serta membincang mengenai progres perkembangan minat baca anak didiknya. Sekitar 50 anak-anak yang didominasi oleh usia anak-anak SD berjajar melingkar. Roni Nuroni salahseorang pentolan Komunitas Ngejah segera membuka acara dengan mengajak seluruh hadirin untuk mengucapkan basmallah.

Anak-anak Kampung Bababakanlalay (Peserta GKM 34) Menikmati Pemutaran FIlm kKartun, Kisah-kisah Teladan
Anak-anak Kampung Bababakanlalay (Peserta GKM 34) Menikmati Pemutaran FIlm kKartun, Kisah-kisah Teladan

Tak ada sesi perkenalan, karena kunjungan kami ke Babakanlalay bukan untuk kali pertama. Bahkan kampung ini, pada puasa tahun lalu adalah salahsatu lokai syuting untuk acara Kick Andy On Location. Selepas acara dibuka, saya sedikit memberikan pengantar tentang pentingnya membaca. Beberapa kisah mengenai kesuksesan orang-orang yang rajin membaca saya sampaikan. Pada kesempatan ini saya sempat menyebutkan beberapa tokoh yang sukses tanpa ijazah. Dalam hal ini, saya tak bermaksud menyepelekan sekolah, namun memotivasi anak-anak bahwa dengan membaca banyak bukti, orang bisa sukses. Saya mencoba mengulas mengenai kesuksesan Bapak Ajip Rosidi, seorang sastrawan terkenal Indonesia, penulis, budayawan, redaktur, serta ketua yayasan Rancage. Saya sampaikan juga, sekalipun beliau tidak tamat SMA beliau mampu mengabadikan namanya karena berbagai prestasi yang diraihnya. Saya juga menyampaikan pada anak-anak untuk setia, menyisihkan waktu membaca untuk setiap harinya.

Dede Rofie sedang mendongeng pada acara GKM 34
Dede Rofie sedang mendongeng pada acara Gerakan Kampung Membaca Episode 34

Selepas itu, giliran Ruli Lesmana memandu pemutaran film kartun kisah-kisah teladan. Salahsatunya tentang Qorun si hartawan yang menolak untuk membayar zakat dan sedekah. Lantas Alloh memberikan azab untuknya. Ia meninggal karena gempa, terkubur bersama harta bendanya. Selepas penanyangan film selesai, Roni Nuroni mengajak anak-anak peserta GKM untuk mengulasnya. Roni mencoba berusaha memacu keberanian anak-anak untuk berani berbicara di depan. Dengan berbagai usaha, beberapa orang anak pada akhirnya berani menyampaikan pendapat mengenai film tersebut. Ketika beberapa perwakilan anak maju ke depan, dari tengah lingkaran, seorang anak berceloteh sambil menyembunyikan wajahnya di balik sarung “abdimah moal jiga Qorun, bade bageur da…” pernyataan ini kemudian disusul gelak tawa anak-anak lainnya. Pukul 15.15 kami  bergegas mengambil air wudlu di bak yang berada di belakang mesjid. Air gunung yang mengalir melalui pipa paralon dan ditampung di dalam bak terasa sangat menyegarkan. Setelah semuanya siap, kami pun melaksanakan Sholat Ashar berjamaah dipimpin oleh Ust. Dadang.

Iwan Ridwan Sedang Mendongeng di Hadapan Peserta GKM episode 34
Iwan Ridwan Sedang Mendongeng di Hadapan Peserta GKM episode 34

Acara dilanjutkan dengan tadarus bersama. Setiap orang melanjutkan hanca tadarus masing-masing. Selesai tadarus bersama Dede Rofie dan Iwan Ridwan secara berurutan menyampaikan dongeng. Dede pemuda asal Kampung Jabeng yang memutuskan untuk menjadi relawan (petugas harian) di saung Komunitas Ngejah, dengan berapi-api menyampaikan cerita tentang seorang anak muda yang saleh. Sementara Iwan Ridwan menyampaikan ceirta tentang keutamaan bersedekah. Karena keduanya melakukan persiapan, atau mungkin karena berkah Ramadhan yang menjalar pada jiwa keduanya, saya melihat dua relawan ini membawakan dongeng dengan cukup apik dan menarik. Tidak sekedar bermonolog namun melibatkan anak-anak untuk berinteraksi, hingga membuat suasana terasa hangat. Tak jarang, di tengah-tengah dongeng yang dibawakan, terdengar gelak tawa anak-anak.  Saya melihat betapa antusiasnya anak-anak menyimak dongeng. Sayangnya, saat ini sudah tak banyak orang tua yang mau menyisihkan waktu untuk sekedar mendongeng atau bercerita untuk anak-anaknya. Banyak orang tua lebih memilih mengajak anak-anak nonton tv, mengisi waktu kebersamaan diantara mereka. Padahal dongeng merupakan tradisi pengajaran tertua dalam dunia pendidikan. Sebagaimana disampaikan oleh Mendikbud Anies Baswedan saat mencanangkan “Gerakan 10 Menit Membaca Cerita untuk Anak” di Kantor Kemendikbud, Jumat (29/05/2015), beliau memaparkan bahwa dongeng adalah musabab tumbuhnya bahasa dalam evolusi peradaban manusia. Untuk itu menggunakan dongeng sebagai media pembelajaran dapat membangun pendidikan karakter.

Salahseorang Peserta Gerakan Kampung Membaca Episode 34, Memilih Komik sebagai Bacaan
Salahseorang Peserta Gerakan Kampung Membaca Episode 34, Memilih Komik sebagai Bacaan

Acara inti kami gelar pada akhir kegiatan. 35 Menit lamanya para peserta GKM diajak untuk membaca buku sesuai selera masing-masing. Buku-buku yang kami siapkan pada kesempatan ini, selain buku cerita dan pengetahuan umum, komik, juga didominasi oleh buku pengetahuan agama islam yang hampir semuanya terdapat gambar di dalamnya. Menurut pengamatan saya, gambar-gambar yang ada pada buku jelas memberikan efek ketertarikan tersendiri pada anak-anak. Para relawan tanpa adanya komando, sigap membimbing anak-anak dalam memilih bahan bacaan dan menemaninya untuk membaca. Beberapa orang anak yang belum mampu membaca sendiri, mendapat perhatian khusus dari para relawan. Jarum jam terus berputar. Waktu sudah menunjukan pukul 17.10. Kami pun menutup acara dengan doa bersama, dan tak lupa berphoto di luar masjid. Sebelum pulang, Ust. Dadang ternyata sudah mempersiapkan beberapa kelapa muda untuk kami bawa. Alhamdulillah… Hari yang menyenangkan. Menikmati puasa sambil melaksanakan kegiatan Gerakan Kampung Membaca episode 34***NTA

Rakerwil F-TBM Jawa Barat

Posted on

IMG_0197Dalam mejalankan fungsi manajemen organisas, FTBM bersama-sama FK-TPK Jawa Barat pada tanggal 19-21 Juni menggelar Rapat kerja wilayah di Hotel Maxone Jl. Soekarno Hatta Bandung. Dalam hal ini, Rakerwil dilakukan sebagai upaya mendiskusikan dan menyusun rencana-rencana kerja  yang akan dilakukan serta mengevaluasi program yang sudah terelaisasi. Kegiatan ini dibuka oleh Kasubdit Jardik Direktorat Bindikmas Depdikbud da M. Kosasih. Pada sesi pembukaan, Ida M Kosasih, memaparkan beberapa hal tentang tutor keaksaraan dan berbagai program yang belum dan sudah dtercapai. Beliau sempat mempersentasikan grafik  buta aksara usia di Indonesia. Dari data yang ia ungkap, dapat diketahui bahwa usia 15-59, baha pada tahun 2013, masih memiliki angkat buta aksara sejumlah buta aksara 617. Lebih lanjut, ia menegaskan semua komponen harus sama-sama menangulangi permasalahan ini, Dalam hal ini khususnya FK-PTK dan FTBM Jawa Barat. Selain itu, di tengah-tengah Raker, hadir juga Kasie Kesetaraan dan Dikmas Provinsi Jawa Barat, Drs. Aang Karyana, M.Pd. Pada kesempatan ini, ia menyatakan akan bersama-sama bekerja demi peningkatan melek aksara di Jawa Barat.

IMG_0159Khusus untu FTBM, sesi rapat diisi oleh penyampaian materi mengenai perjalanan FTBM selama ini, oleh ketua FTBM Jawa Barat, Bunda Heni Murawi. Adapun hasil kerja Rakerwil FTBM Jawa Barat adalah sebagai berikut:

BIDANG INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Program jangka pendek

  • Menjalin kerjasama dengan media elektronik dan media cetak ( radio komunitas, tv dan radio dalam mensosialisasikan  TBM
  • Menerbitkan media komunikasi cetak (majalah atau jurnal).
  • Membuat website.
  • Mendata TBM aktif di seluruh Propinsi Jawa Barat.
  • Mengeluarkan produk dari forum melalui informasi secara tertulis

Program jangka panjang

  • Menerbitkan dan mendistribusikan acuan pengelola TBM (berupa buku atau VCD) sebagai alat bantu penyelenggaraan TBM
  • Membuat radio komunitas Forum TBM
  • Mengadakan kerjasama dengan organisasi luar negeri untuk memberikan informasi mengenai literasi wisata di Jawa Barat
  • Bekerjsama dengan departemen informatika
  • Pelatihan pengelola TBM berbasis elektronik/IT

BIDANG KEORGANISASIAN DAN PENGEMBANGAN SDM

Program jangka pendek

  • Pembentukan pengurus daerah Kota & Kabupaten
  • Membentuk dan memantau pengurus FTBM diseluruh Kabupaten/Kota yang telah disepakati dalam rapat PW-FTBM.
  • Mengadakan dan mendata perangkat keorganisasian/lembaga.
  • Menyelenggarakan rapat rutin pengurus minimal 3 kali dalam setahun

Program jangka panjang

  • Pelantikan Pengurus Forum TBM Kota/Kab di rencanakan tahun 2015 beres.
  • Temu penggiat TBM Se-Jawa Barat
  • Peningkatan kapasitas TBM Se-Jawa Barat

BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Progaram jangka pendek

  • Sosialisasi mengenai keberadaan TBM kepada berbagai pihak seperti lembaga pendidikan masyarakat, majaelis ta’lim, serta dinas instansi terkait
  • Pengembangan minat baca pada masyarakat melalui gerakan literasi

Program jangka panjang

  • Mengadakan gerakan literasi forum seperti, Pelatihan, Workshop, Seminar, Diklat, Study banding
  • Pembuatan bahan ajar seperti buku, media cetak dan elektronik masyarakat bulanan forum.
  • Mengadan pemilihan duta baca masyarakat
  • Menjalin kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha dan industri, organisasi kemasyarakatan, LSM dan lembaga sosial lainnya sebagai pendukung program budaya baca dan pembinaan TBM

Kesimpulan rekomdasi hasil kerja wilayah pada akhirnya akan dikirim atau ditembuskan ke berbagai pihak terkait.***RL

Melepaskan Diri dari TV

Posted on Updated on

Stasiun-Televisi-Swasta-PerEntah berapa lama rumah yang sekarang beralih fungsi menjadi sekeretariat Komunitas Ngéjah tidak memiliki penghuni yang bernama televisi? Ah rasanya tidak kurang dari lima tahun. Seingat saya, demi menonton perhelatan final piala dunia tahun 2010 yang mempertemukan Negeri Matador dengan Negeri Kincir Agin , saya harus rela nonton di rumah tetangga.

Dalam beberapa situasi, syahwat untuk membeli televisi  kerap kali bersarang dalam dada.  Selain ketika gelaran piala dunia kembali bergulir, ada beberapa acara lain yang menggoda saya untuk memiliki televisi. Misal ketika timnas sedang main, Persib sedang berlaga, atau ketika saya mendengar celoteh orang-orang di warung tentang berbagai berita di televisi, yang kebetulan tak sempat saya ikuti atau telusuri dari media lain. Tapi sejauh ini, keimanan saya alhamdulillah belum juga roboh. Saya memutuskan untuk tak menyimpan tv di sekretariat komunitas Ngejah.  Tentu saja bukan dalam arti saya tidak suka nonton tv. Untuk beberapa acara saya seringkali menyengajakan diri untuk nonton tv, baik itu di warung atau di rumah tetangga.

Saat Bulan Ramadan tiba, keinginan untuk memiliki tv lagi-lagi menggelora.  Alasannya sederhana, mengobati kejenuhan menunggu beduk Magrib, atau karena ada kelebat lamunan, membayangkan betapa nikmatnya menikmati santap sahur sambil nonton tv. Sejurus kemudian, hasrat ini hampir saja saya selesaikan. Suatu malam, selepas sholat tarawih, saya menyisihkan waktu mencari informasi tentang merk tv dan rupiah yang harus saya keluarkan untuk membelinya, melalui alat pencarian di internet. Keesokan harinya, secara kebetulan sebelum saya pergi ke kota untuk melunasi hasrat membeli tv. Saya melihat beberapa lembar koran yang tercecer di saung Komunitas Ngejah. Sebuah judul besar menggoda saya untuk membacanya. “Kualitas Acara Televisi di Bawah Standar” begitulah judul tulisan tersebut. Setelah berita itu saya mamah, saya mendapatkan kesimpulan bahwa berdasarkan hasil survey indeks kualitas program siaran televisi yang digelar KPI sejak Maret-April 2015, nilai indeks kualitas program acara 15 televisi di Indonesia, secara keseluruhan kualitasnya masih di bawah standar. Lebih lanjut, hasil survey menyatakan bahwa tiga kategori program acara dengan indeks terendah meliputi infotainment, sinetron/FTV, dan variety show.

Ah, betapa galaunya saya, antara jadi atau mengurungkan niat untuk membeli tv.  Setelah menimbang dan mengingat, bahwa acara yang memiliki nilai indeks terendah adalah acara yang saat ini sangat mendominasi layar kaca pertelevisian di republik ini, maka saya memutuskan untuk tidak jadi membeli tv, atau setidaknya menagguhkan rencana tersebut sampai saya benar-benar yakin, bahwa keimanan saya untuk menjaga diri dari acara-acara tv yang tidak mendidik benar-benar bisa saya lakukan.***NTA