Latest Event Updates

Menjaga Kampung dari Sampah

Posted on

IMG_0398Bentuk kepedulian anak muda Kampung Sukawangi dalam membangun kampung halaman ditunjukkan dalam beragam bentuk, salahsatunya menjaga kampung dari sampah. Adalah mereka para pengurus IPPS (Ikatan Pemuda Pemudi Sukawangi) yang mencoba menyingsingkan lengan baju demi kebersihan kampung halaman. Agus Awaludin dan Abdul Hai atau yang lebih akrab dipanggil Ajo, sebagai pasangan ketua dan wakil ketua IPPS, mereka tidak hanya berwacana tentang bagaimana menjaga kebersihan Kampung Sukawangi, akan tetapi langsung turun ke lapangan mengajak kawan-kawan pemuda lainnya, bergerak dari rumah ke rumah penduduk untuk mengambil sampah yang sudah sengaja disimpan di dalam karung. “Untuk sementara waktu, pengambilan sampah dari rumah dilakukan setiap satu minggu sekali” menurut Agus. Ajo menambahkan, sampah itu kemudian dikumpulkan dan disortir. Sampah yang laku dijual kemudian dijual ke tukang barbek. “Lumayan, hasilnya sudah mencapai 270.000, sekali jual” imbuh Ajo. “Ke depannya, banyak konsep yang akan coba diterapkan dala pemanfaatn sampah. Selain menjaga kebersihan kampung, kegiatan ini juga akan menghasilkan income buat kas pemuda” tutur Agus pada akhir percakapan di Saung Komunitas Ngejah, Rabu malam, 27 Juni 2015.*** NTA

Kembali Ke Cipariuk

Posted on Updated on

Iwan Ridwan (Koord. GKM) Membagikan Buku
Iwan Ridwan (Koord. GKM) Membagikan Buku

Bertepatan dengan hari buku nasional,  Minggu 17 Mei, Komunitas Ngejah kembali menggelar Gerakan Kampung Membaca Komunitas Ngejah untuk episode #31.  Lokasi kegiatan merupakan lokasi yang pernah dikunjungi sebelumnya, yaitu Kampung Cipariuk Desa Sukawangi Kec. Singajaya Kabupaten Garut. Di lokasi yang ini juga, Ramadhan tahun kemarin kegiatan kami diabadikan oleh tim metro TV yang kemudian kami ketahui untuk program Kick Andy On Location. Kembali berkunjung ke Cipariuk, berarti kembali bertemu Ajengan Juma, beserta segala perjuangannya. Pukul 13.00 WIB, kami tiba. Ajengan Juma sudah Nampak siap-siap untuk mengajar anak didiknya. Setelah mengetahui kedatangan kami, beliau segera menyambut, mempersilahkan kami menunggunya di rumah, sementara beliau membimbing anak didinknya untuk masuk ke madrasah. Sekitar 30 menit, Ajengan Juma memberikan pelajaran tentang Al-quran kepada anak didiknya. Hal itu kami ketahui dari pengeras suara yang disimpan di menara masjid. Selanjutnya, beliapun menemui kami, dan mempersilahkan kami melangisi kegiatan di madrasah. Namun sebelum kami, melaksanakan kegiatan, kami sempat bercakap-cakap dengan beliau, ihwal pekerjaannya sebagai mandor di kebun the, proses pembangunan madrasah, hingga keresahannya karena sudah merasa tua sementara anak bungsunya yang ia gadang-gadangkan untuk melanjutkan tugas sucinya mengajar ngaji, malah berpikir untuk tidak pulang ke kampung karena guru ngajinya menghendaki ia untuk ngajar di pesantren.

Dede Rofie (Koord. Relawan) Membimbing Peserta GKM
Dede Rofie (Koord. Relawan) Membimbing Peserta GKM

Kembalinya kami ke Cipariuk tak lain untuk bersilaturahmi dan juga menyuntik motivasi diri untuk terus bergerak melanjutkan kegiatan, mengingatkan diri dan juga anak-anak dan remaja Cipariuk tentang pentingnya membaca. Alhamdulillah, kedatangan kami disambut dengan baik. Para peserta GKM terlihat sangat antusias sekali mengikuti tahap demi tahap kegiatan yang disuguhkan oleh para relawan Komunitas Ngejah, mulai dari kegiatan penyampaian motivasi belajar yang disampiakan oleh saya sendiri, kegiatan mendongeng, game edukasi sampai pada tahap membaca bersama. Dongen pada GKM kali ini, dibawakan oleh Kang Nero selaku nahkoda dari komunitas ngejah. Kali ini didongeng yang dibawakanya mengenai legenda situ bagendit yang berada di kabupaten Garut. Sebuah pesanpun mengalir, tentang keharusan berbagi dengan lingkungan. Selain itu, salahseorang relawan yakni Maman Rusman menambah keceriaan anak-anak dengan permainan edukasinya.

Opik Mendongeng pada Kegiatan GKM
Opik Mendongeng pada Kegiatan GKM

Satu jam berlalu kegiatan berlanjut ke agenda selanjutnya yakni kegiatan ini, yaitu membaca bersama. Sesi ini biasanya dilakukan kurang lebih selama satu jam, namun karena keterbatasan waktu, kegiatan ini dibatasi hanya dilakukan selama 30 menit. Tim GKM mempersilahkan para peserta untuk memilih buku sesuai selera masing-masing peserta. Karena para peserta GKM hampir semuanya berada pada usia SD dan SMP, buku yang disajikam pun disesuaikan dengan kebutuhan usia mereka. Setelah itu, para peserta dibimbing untuk membaca bersama sesuai waktu yang telah ditentukan. 30 menit terasa sangat sebentar. Meski anak-anak masih terlihat bersemangat, acara harus segera diakhiri karena sudah memasuki waktu Shalat Ashar. Setelah itu kegiatan ditutup dengan doa dan photo bersama. Selepas menunaikan kewajiban sholat Ashar, kami pun berpamitan kepada anak-anak dan kepada Ajengan Juma.

Penulis, Iwan Ridwan

Malam Puncak Peringatan Isra Miraz 1436 H

Posted on Updated on

IMG_0035  “Hal-hal kebaikan yang diinisiasi oleh para pemuda menjadi pertanda akan terpeliharanya semangat pemuda untuk memajukan kampung halamannya” Cetus kepala Desa Sukawangi pada sambutan peringatan Isra Mi’raj 1436 H bertempat di Mesjid Daarul Mu’minin Kampung Sukawangi Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Peringatan Isra Miraz tersebut menurut ketua pelaksana, Abdul Hai yang lebih akrab dipanggil dengan nama Ajo, mengambil tema “Sebagai Momentum perenungan tentang kualitas keimanan dan amal solih” Agus Awaludin sebagagai ketua pemuda Kampung Sukawangi menegaskan pelaksanaan peringatan Isra Miraz merupakan sebuaah momentum untuk merenung sudah sejauh mana kita mampu melaksanakan kewajiban serta menjauhi larangan Alloh, SWT. Bertindak sebagai pembawa acara dalam kesempatan ini yaitu Dede Hilman Ketua DKM Daarul Muminin. Setelah pembacaan Ayat Suci Alquran bersama dipimpin oleh Ustad Ended, dan Qiroat oleh perwakilan pemuda Sukawangi, Adul.

IMG_0068“Harapan akan berkembangnya sebuah kampung terletak pada pundak pemuda dan pemudi” begitulah prolog awal yang disampaikan oleh Ajengan Oo Abdul Rojak pada tausiyah. Lebih lanjut, beliau mengajak seluruh hadirin mengkroscek ke dalam diri masing-masing, salahsatunya untuk memerhatikan diri masing-masing dalam menunaikan kewajiban sholat. Menurutnya, sebagai umat islam moderen jangan sampai dipahami sebagai kebebasan, hingga mengakibatkan kemudaratan hingga menyatakan bebas meninggalkan sholat, bebas bergaul tanpa aturan agama dan sebagainya. Pada akhir tausiyah, Ajengan Oo menyampaikan bahwa Peringatan Isra Miraz harus dipahami sebagai naik ke level yang lebih tinggi, tentu saja menaiki anak tangga kebaikan. Contohnya, yang tidak pernah solat jadi mau sholat, yang sudah biasa melakukan harus lebih istiqomah.

IMG_0069IMG_0042

Tausiyah lain disampaikan oleh perwakilan pemuda Sukawangi, yaitu Saeful Millah. Saeful Millah dalam kesempatan ini mencoba mengupas sejarah Isra Miraz. Hal lain yang coa diungkap oleh Saeful Millah yakni makna Miraz, miraz menurutnya adalah taraje atau tangga. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tangga dalam hal ini harus dipahami sebagai alat untu meningkatkan kualitas diri dalam keimanan dan amal soleh. Khusus kepada pemuda Saeful Millah mengajak untuk memelihara moral, khususnya dalam pergaulan antar lawan jenis.** NTA

Lari Pagi ala Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

IMG_0082Olah raga merupakan salah satu kegiatan yang banyak dilakukan oleh manusia di belahan bumi ini. Dimana olah raga juga memiliki banyak ragam diantaranya adalah olah raga lari pagi atau berlari atau juga Jogging. Lari Pagi/Berlari/Jogging adalah salah satu olahraga yang paling mudah dilakukan, murah, dan bisa dilakukan oleh siapa saja (sendiri maupun berkelompok) dan kapan saja serta dimana saja. Biasanya orang lari di pagi hari atau sore hari yang dilakukan oleh anak-anak ataupun orang dewasa.

Komunitas Ngejah juga tidak mau ketinggalan dalam berolahraga, dimana para anggotanya mengikuti olah raga lari pagi yang sudah menjadi anggenda rutin setiap minggu pagi. Nah, pada pagi itu, Minggu 26 April 2015, pukul 06.00 anak-anak ngejah Junior sudah berkumul di halaman depan saung Komunitas Ngejah dengan berpakaian olah raga lengkap. Digawangi pengurus harian Komunitas Ngejah Kang Dede Roffi, anak-anak ngejah junior diajak lari pagi bersama. Selain pengurus dan anggota Komunitas Ngejah, pada Minggu pagi itu ikut serta juga tiga mahasiswi UIN Jakarta yaitu Resti Hedi Juanti, Sita dan Listiani.

IMG_0101Berangkat Pukul 06.00 lari pagi langsug menuju puncak Gunug Simpay Surapati yang terletak di perbatasan Garut-Tasikmalaya. Pada kesempatan lari pagi itu juga bukan hanya lari pagi biasa. Setelah sampainya ke puncak Gunung Simpay sembari menikmati pemandangan alam yang hijau juga diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya baca puisi dan mendongeng. Baca puisi diawali oleh Sita yang merupakan salah satu mhasiswi UIN Jakarta dengan judul “aku bagaimana”. Mahasiswi lain juga tidak mau kalah, Resti Hedi Juanti langsung mengambil kertas dan membacakan puisi juga. Selain membaca puisi para mahasiswi UIN juga membacakan dongeng yang berisi sebuah motivasi bagi anak-anak Ngejah Junior. Setelah mahasiswi UIN membacakan puisi dan mendongeng, giliran Sifa membacakan Dongeng berjudul “Sang Kodok” Yang menjadi juara 3 di Bapusipda Jawa Barat. Saking asiknya mendongeng dan baca puisi, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 08.00. akhirnya acara baca puisi dan mendongeng di puncak Gunung Simpay selesai dan kembali pulang dengan jalan kaki menuju saung Komunitas Ngejah karena para mahsiswi UIN juga harus melanjutkan kegiatan lain di Saung Baca Komunitas Ngejah yaitu Pelatihan Kerajinan dari Kain Flanel.

Penulis Roni Nuroni

Festival Literasi Jawa Barat 2015

Posted on Updated on

IMG_0601Setelah satu malam menginap di Perpusda Kabupaten Garut, Kamis pagi tanggal 23 April 2015, saya bersama pimipnan Komunitas Ngejah (Kang Opik) beserta para relawan dan anggota Komunitas Ngejah yang terdiri dari Kang Ruli, Kang Iwan, Vita, Rosita, Neng Rifa, Azis dan Sifa sekitar pukul 06.00 berangkat dari  Garut  ke Bandung dengan menggunakan kendaraan Dinas Bapusipda Kabupaten Garut untuk mengikuti kegiatan Festival Literasi Jawa Barat dengan tajuk Momentum Kebangkitan Gerakan Literasi Masyarakat Jawa Barat. yang diselenggarakan oleh BAPUSIPDA Provinsi Jawa Barat. Adapun bentuk kegiatan terdiri dari Seminar Internasional, Workshop Duta Baca dan aneka lomba yang meliputi: Lomba Baca Puisi, Lomba Busana, Lomba Bercerita, dan Lomba Memotret. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya kami sampai di gedung BAPUSIPDA Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Kawaluyaan Indah II No.4; Kota Bandung. Di halaman gedung perpustakaan, tiba-tiba saya bergumam “ah… andai saja setiap desa memiliki gedung perpustakaan semegah ini lengkap dengan fasilitas, petugas yang ramah dan tentunya bahan bacaan yang lengkap, mungkin tak akan ada istilah laporann merah literasi Indonesia”. Lamunan saya harus terhenti dengan suara Pak Supir “Silahkan turun, saya menunggu di warung.”

IMG_0522Sesuai pembagian tugas yang telah kami sepakati bersama di saung Komunitas Ngejah, saya bersama Kang Iwan Ridwan segera mempersiapkan stand, Kang Opik dan Kang Ruli segera mendaftarkan diri untuk mengikuti workshop, serta mendaftarkan Vita, Rosita, Rifa dan Azis untuk mengikuti lomba baca puisi dan Sifa untuk mengikuti lomba bercerita. Adapun isi stand Komunitas Ngejah kali ini cukup sederhana. Di meja, kami hanya bisa mengkreasi beberapa photo-photo kegiatan–kegiatan Komunitas Ngejah, buku kisah perjalanan Komunitas Ngejah, dan mempromosikan teh murni dari daerah Taraju Kab. Tasikmalaya yang sengaja kami jual.  Hal lain yang bisa kami tampilkan adalah beberapa kliping koran dan majalah yang memuat kegiatan kami, serta beberapa dokumentasi televise yang pernah memuat kami, seperti acara Kick Andy, IMS Net TV, Negeri 4 Pilar TVRI dan beberapa dokumentasi lain.

Mencoba SIM Bapusipda
                     Mencoba SIM Bapusipda

Setelah stand kami semuanya sudah beres dan rapi, saya dan kang Iwan duduk santai sambil makan snack, foto–foto bersama di depan Stand Komunitas Ngejah bersama teman–teman TBM yang lain serta beberapa pengujung yang datang. Kami bertukar No HP sebagai calahsatu cara berjejaring.Hal yang menggembirakan bagi saya, karena ternyata setelah beberapa lama menjaga stand, akhirnya saya diberi kesempatan untuk mengikuti workshop. Saat saya masuk ke dalam ruangan workshop, Keynote Speaker yang tak lain adalah Ketua Tim Penggerak PKK Jawa barat Ibu Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, baru saja akan menyampaikan pidatonya. Menurrtnya Apa yang kita baca  sekarang, akan menentukan masa depan bangsa ini.  Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa perpustakaan harus menganti wajahnya dari image suasana kurang nyaman, koleksi bukunya terbatas, berdebu dan pustakawannya kurang ramah.  “Dengan adanya perubahan di setiap perpustakaan yang kita miliki tentu akan menjadi motivasi untuk penasaran datang ke perpustakaan, seperti halnya ada story telling dan ada jaringan internet,” pungkasnya.

IMG_0150Pada kesempatan yang sama Plh. Sekda Setda Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan jika diperhatikan yang menjadi negara maju di kawasan Asia Afrika adalah negara-negara yang masyarakatnya memiliki budanya baca. “Negara-negara tersebut bisa maju karena mereka membangun budaya baca di negara masing-masing di negara Asia seperti Singapura, Jepang dan Korea,” tambahnya. Maka Iwa mengharapkan melalui kegiatan Festival Literasi Jawa Barat ini mampu membangun budaya baca masyarakat, sehingga mampu merubah paradigma masyarakat ke arah cerdas informasi guna meningkatkan sumber kualitas daya manusia Jawa Barat. Di sela-sela istirahat, setelah selesai mengikuti pembukaan kegiatan workshop, saya pun kembali menjaga Stand Komunitas Ngejah di lantai satu bersama Relawan Komunitas Ngejah lainnya.  Di sana kami dikunjungi oleh beberapa pejabat termasuk Ibu Gubernur Hj. Netty Prasetiyani Heryawan. Beliau juga menyampaikan pesan untuk kami semua supaya semangat menjadi Pegiat Baca Tulis untuk masa depan yang lebih cerah. Selain Ibu Ketua TIM Penggerak PKK Jawa Barat, pengunjung stand Komunitas Ngejah yang saya ingat adalah Bapak Drs. Syarif Bando, kepala pusat pengembangan perpustakaan dan pengkajian minat baca perpustakaan Nasional. Selain bercakap beliau menyempatkan diri untuk berphoto bersama kami para relawan Komunitas Ngejah.

Dengan mengikuti kegiatan ini ada beberapa pengalaman yang berharga bagi saya adalah saya baru pertama kalinya masuk ke gedung BAPUSIPDA PROVINSI JAWA BARAT, saya melihat ribuan koleksi buku yang ada di gedung tersebut, bisa bertemu dan bersilatuhrahmi dengan teman-teman ativitis literasi Se-Jawa Barat, berbagi pengalaman dengan mereka semua, bertemu dengan Ibu Wakil Gubernur Jawa Barat, dan yang tak kalah spesialnya adalah meningkatnya semangat saya untuk terus bersama-sama Komunitas Ngejah menyebarkan virus baca tulis.

Penulis:

Maman (Guru honorer di M.TS Riyadlul Huda serta menjadi relawan di Komunitas Ngejah)

Pelatihan Kain Flanel dari Mahasiswi UIN Jakarta

Posted on Updated on

IMG_0133

Komunitas Ngejah terus mencoba berjejaring dengan berbagai pihak guna menghadirkan kegiatan-kegiatan positif, tak terkecuali dengan kawan-kawan mahasiswa yang ingin bersedekah ilmu. Sabtu-Minggu, 25-26 April 2015, kegiatan pelatihan kerajinan dari kain flanel digelar. Pada kesempatan ini, ibu-ibu di sekitar saung baca Komunitas Ngejah serta anggota Jurnalis Pelajar Garut Selatan (JPegS) terlibat menjadi peserta pelatihan. Pelatihan kali ini terselenggara atas kerjasama Komunitas Ngejah dengan tiga mahasiswi cantik dari UIN Jakarta, yaitu Resti Hedi Juanti, Sita dan Listiani. Khusus untuk Resti, kunjungannya ke Saung Komunitas Ngejah merupakan kali kedua, setelah beberapa bulan yang lalu ia memberikan pelatihan serupa. Sebenaranya ketiga gadis ini, selain bersahabat sejak SMA hingga kuliah, mereka juga tergabung dalam Komunitas Kreatif.

IMG_0165Pada awal kegiatan, hari pertama melalui bantuan infokus Resti bersama Sita, dan Listiani, menjelaskan tentang apa itu kain flanel, bentuk kerajinan yang bisa dihasilkan serta kegiatan yang telah mereka lakukan terkait usaha dan sedekah ilmu yang pernah mereka berikan di beberapa tempat. Menyimak pemaparan ini, sebagaina besar ibu-ibu terlihat kaget karena mereka baru mengetahui bahwa kain flanel yang awalnya diaggap kain biasa-biasa saja, ternyata bisa menjadi suatu kerajinan yang memiliki daya jual serta memiliki keunikan baik dari bentuk dan cara pembuatannya.

Lebih lanjut, waktu pelatihan lebih dominan digunakan untuk praktik. Peserta diajak untuk belajar membuat desain bentuk kain flannel menggunakan pensil, memotong kardus sebagai bahan pengeras, serta beberapa aktivitas lainnya. Semula, jadwal pelatihan dalam agenda kegiatan tertulis sampai pukul 17.50, namun karena animo peserta yang disebabkan rasa penasaran, serta penyampain materi fasilitator yang menarik, para peserta meeminta pelatihan hari pertama dilanjutkan sampai pukul 21.00. Jika pada hari pertama, kegiatan menitikberatkan pada pembuatan bros sederhana, pada hari kedua para fasilitator mencoba mengajak peserta untuk belajar mengkreasi bentuk-bentuk yang lebih sulit  dan variatif, seperti kreasi bunga warna-warni, Bondu bermotif bunga dan topi kecil serta pembuatan bunga lengkap dengan potnya.

“Semoga setelah mengikuti pelatihan kerajinan ini para peserta dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui kain flanel dan melakukan transfer pengetahuan dan keteramplannya kepada anggota Komunitas Ngejah lainnya, keluarga, saudara dan masyarakat umum serta  dapat menjadikan kreasi kain flanel ini sebagai alternatif pendapatan sehari-hari”  Ujar Nero Taopik Abdilah yang juga sebagai Ketua Komunitas Ngejah. Selain itu, beberapa anggota JPeGS Komunitas Ngejah yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, bermufakat untuk mencoaba menjadikan keterampilan kreasi kain flannel sebagai usaha ekonomi mandiri komunitas. Sebagai bentuk keseriusan ini, pada akhir kegiatan, Maman Rusman ditunjuk untuk menjadi koordinator guna merealisasikan usaha kain flanel tersebut. ***

Penulis:

Roni Nuroni

Hari Buku Sedunia di Komunitas Ngejah

Posted on

11046493_832804943461487_2272804396887757196_nHari Buku dan Hak Cipta Sedunia diperingati setiap tanggal 23 April. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menginisiasi peringatan itu. Sedangkan, di Indonesia diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Sebagai komunitas literasi, dalam hal ini kami mencoba memperingatinya juga, tentu saja dengan acara yang sangat sederhana.  Sebelum hari h, kami mewartakan dan mengundang kawan-kawan pengurus, relawan dan anggota bahwa Komunitas Ngejah untuk memperingati hari buku sedunia. Adapun bentuk acara yang kami lakukan diantaranya, menyanyi bersama, membaca puisi, dan acara inti dengan sharing tentang bagaimana menghargai buku. Dede Rofie sebagai relawan, mencoba menjelaskan tentang cara merawat dan memelihara buku dengan menjaga kebersihan dan kerapiannya. Pada kegiatan ini juga, Dede Rofie mensimulasikan cara menyampul buku. Simulasi ini diikuti dengan kegiatan berlatih bersama menyampul buku. Lebih lanjut, beberapa buku-buku yang sampulnya sudah mulai rusak kemudian dipilih, lalu diberikan sampul yang baru.*** NTA