Latest Event Updates

Surat Undangan

Posted on

carrier-pigeon-308507_640

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Salam Sejahtera kami sampikan semoga Bapak/Ibu selalu ada dalam ridho dan magfiroh Alloh SWT. Amiin Yaa Robbal Alamiin. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Pelatihan Jurnalistik Pelajar VIII

Posted on Updated on

WhatsApp Image 2018-10-25 at 16.45.43

PELATIHAN JURNALISTIK PELAJAR VIII KOMUNITAS NGEJAH
Salam sejahtera untuk kita semua 🙏🏻
Kami mengundang seleruh pelajar dan santri untuk bergabung di PJP VIII Komunitas Ngejah yang akan diselenggarakan:

🗓 Tanggal : 17-18 November 2018
🏡 Tempat : Saung Komunitas Ngejah RT. 01 RW. 01 Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut Jawa Barat
Acara dikemas dalam bentuk kemping bersama

Materi-materi:
▪ Menulis
▪ Ngeblogs
▪ Video Reportase
▪ Ngeblogs
▪ Internet sehat

Pendaftaran:
Saung Komunitas Ngejah, Kp. Sukawangi RT. 01 RW. 01 Desa Sukawangi Kec Singajaya Kab Garut Jawa Barat

Biaya pendaftaran:
▪ Rp. 25.000 + 3 Gelas Beras

Para pemantik:
▪ Ary Maulana Karang (Ketua PWI Garut/Kontributor kompas.com)
▪ Atep Kurnia (Penulis/Pengurus FTBM Jawa Barat)
▪ Nero Topik Abdillah (Presiden Komunitas Ngejah)
▪ Lutfi Retno Wahyudyanti (Penulis, Blogger, Filmmaker, Jakarta)
▪ Duddy RS (Pemred Kabar Priangan dalam jaringan, Tasikmalaya)
▪ Edi Martoyo (Balaka Cinema, Tasikmalaya)

contact us:
+62 823-2078-0483 (Kang Roni Nuroni)
+62 821-4750-1008 (Kang Budi Iskandar)

Instagram: @komunitas_ngejah
Web : http://www.komunitasngejah.org

Bagian dari Literasi Sains

Posted on Updated on

Sebelum terbang meninggalkan Makasar, Sulawesi Selatan, saya bertemu dengan seorang kawan yang kemudian menghadiahkan buku yang berjudul Bercakap di Dunia Realis Aesop karya WIM POLI. Pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 18.00 WIB, sambil menunggu bis yang akan mengantarkan saya menuju Tasikmalaya, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Saung Komunitas Ngejah, Garut nyingcet, tempat saya tinggal– saya mengobati kebosanan dengan membaca buku yang saya terima tadi di Makasar. Pada penghujung pengantar buku, sebuah paragraf menghantam kesadaran saya: Manusia memang tak selalu manusiawi, kata Pierre Bourdie, kerusakan habitat manusia– ekonomi, sosial, budaya, politik, simbolik,– segera menggiring menusia ke kualitas ‘binatang liar’. Saya berhenti membaca. Saya merenungkan kalimat tersebut. Tiba-tiba saya teringat lagu Ebiet G Ade yang berjudul Berita Kepada Kawan. Ya, keserakahan manusia, kerap menjadi muasal rusaknya alam yang berkahir menjadi bencana. Ketika ingatan tertuju pada berbagai bencana yang pernah terjadi di negeri ini, saya terkenang pada sebuah adegan di Rumah Hijau Denasa, Goa, lokasi kegiatan Residensi Literasi Sains, yang diselenggarakan Kemdikbud pada tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2018.

LDKS SMPN 2 SINGAJAYA

Sore itu, di antara pepohonan nan rimbun, sebelum acara dimulai saya berkenalan dengan dua dari 20 peserta kegiatan Residensi Literasi Sains. Satu bernama Palupi dari Gemari Membaca Dompet Dhuafa Jakarta, dan yang satu lagi bernama Eda dari Serambi Pustaka Polres NTT. Saya dan dua gadis nan energik tesersebut, terlibat percakapan yang cukup hangat. Di tengah-tengah percakapan, kami dikejutkan dengan kalimat yang terlontar dari mulut seorang remaja kelas dua SMP anggota Kelas Komunitas Rumah Hijau Denassa, yang kemudian saya ketahui bernama Sani. “Jangan kau cabut rumput itu Kakak! Kasihan Kakak!” Semacam menegur. Baca entri selengkapnya »

KOMUNITAS NGEJAH DI CNN TV

Posted on Updated on

gkm56

Oleh: Ambu Arya

Ada yang berbeda di Ramadhan kali ini. Berkah Ramadhan datang ke Komunitas Ngejah. Kali ini Komunitas Ngejah kembali diliput stasiun TV, setelah sebelumnya pernah diliput oleh Kick Andy Metro TV, Lentera Indonesia Net TV, dan saat ini yang meliput adalah Kru CNN TV dalam program Heroes. Selama tiga hari tim redaksi Heroes meliput kegiatan Komunitas Ngejah. CNN Indonesia Heroes  (menurut laman Transvision) adalah salah satu program feature berdurasi setengah jam, mengangkat sosok-sosok yang melakukan banyak hal untuk menjadi berguna bagi sesamanya. Orang-orang yang dengan kerelaan hati melakukan terobosan untuk menjadikan hidup menjadi lebih mudah dijalani bagi orang lain. Mereka adalah orang-orang biasa yang mengerjakan hal luar biasa.

Baca entri selengkapnya »

MENYAPA ANAK NUSANTARA BERSAMA SAM

Posted on Updated on

budi-iskandarOleh: Budi Iskandar

Di sebuah pedesaan yang asri. Beberapa bangunan kokoh berdiri. Dihimpit sawah-sawah hijjau dan pohon-pohon bambu yang tinggi menjulang. Berbagai pohon buah melengkapi keindahan bangunan tersebut. Ditempat itu saya berjumpa dengan para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Saung Berbagi. Mereka sedang melaksanakan serangkaian kegiatan hiburan edukatif bagi anak-anak di sekitar lokasi. Katanya ini merupakan kegiatan ketiga kalinya yang sudah biasa mereka laksanakan setiap tahun. Meski hujan mengguyur Kota Tasikmalaya seharian. Namun, saya melihat begitu tinggi antusias anak-anak selama kegiatan.

Saya dan boneka Sam juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kami diberikan waktu khusus untuk mendongeng di depan anak-anak Saung berbagi. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyampaikan cerita tentang hal-hal yang baik. Hal ini sejalan dengan visi besar hadirnya #kelasdongenginspiratif yang baru saya buat. Dengan digulirkannya #kelas dongenginspiratif ini diharapakan dapat menjadi wadah bagi saya untuk menyampaikan cerita-cerita yang bernilai positif kepada anak-anak.

Beberapa menit saya menikmati suasana sekitar, melihat anak-anak yang sedang riuh bernyanyi bersama kawan-kawan Komunitas Anak Jalanan Tasikmalaya. Saya lalu menyeduh kopi dan berbincang santai dengan pengurus Komunitas Saung Berbagi. Ini adalah kenikmatan yang begitu banyak saya dapatkan.

***

“Assalamualaikum…”

Giliran saya bercerita bersama boneka Sam. Anak-anak menyaksikan dengan tatapan yang penasaran.  Mereka bingung melihat boneka Sam membuka mulutnya lalu mengucapkan salam.

            Sesekali saya pun mengeluarkan guyonan-guyonan ringan yang bisa saya lakukan untuk menghangatkan atmosfer sebelum cerita inti dimulai.

“Apa kabar hari ini?”Tanya saya kepada anak-anak yang menyaksikan.

“Alhamdulillah.. luar biasa penuh cinta, eaaaa, eaaa”. Jawab anak-anak.

Tentunya sebelum mereka menjawab, saya sudah memberikan contoh di awal. Sehingga saat giliran mereka menjawab, mereka sudah paham jawaban yang harus keluar secara bersamaan dengan kalimat yang sama pula.

Kami semakin akrab. Gelak tawa terus membahana, memenuhi pelataran Saung Pintar. Tidak hanya anak-anak, para orang tua pun ikut hanyut selama  kegiatan mendongeng berlangsung. Sementara di luar, hujan masih belum reda. Namun, kami merasakan kebahagiaan yang penuh keakraban. Kesempatan #menyapaanaknusantaraterusberdatangan. Sekian cerita dongeng inspiratif bersama saya dan Sam. Sampai jumpa pada cerita dongeng berikutnya.

Sukawangi, 20 Juli 2018

GKM YANG MENGESANKAN

Posted on Updated on

PB Pasirwaja

Oleh: Yuni Ariyanti

Pada hari minggu tepatnya tanggal 17 Februari 2018, hari yang paling mengesankan bagi saya selaku Pustakawan Komunitas Ngejah. Karena siang harinya tepat pukul 14.00 WIB akan diadakan kegiatan Gerakan Kampung Membaca atau yang sering disingkat dengan istilah GKM. GKM kali ini adalah GKM yang ke – 73 bertempat di Kampung Cigambi Desa Pancasura Kec. Singajaya Kab. Garut. Saya bersama teman-teman relawan lainnya dipimpin oleh Presiden Komunitas Ngejah berangkat dari saung sekitar pukul 13.30 WIB. Kami  sampai di sana sekitar pukul 14.15 WIB. Jarak tempuh perjalanan lumayan jauh dengan kondisi jalan yang agak rusak serta licin karena diguyur hujan.

            Setelah tiba di lokasi, kami disambut dengan penuh keceriaan oleh anak-anak. Ternyata mereka telah lama menantikan kedatangan kami. Mereka cukup antusias menyambut kedatangan para relawan Komunitas Nejah. Saya sendiri selaku pustakawan  merasa senang dan bahagia. Hal ini juga dirasakan oleh anak-anak di Kampung Cigambi. Walaupun hujan tak kunjung reda sejak pagi hingga sore hari, tetapi tak menghalangi niat kami untuk melaksanakan Gerakan Kampung Membaca. Walaupun jarak dari rumah ke sekolah (tempat pelaksanaan GKM) cukup jauh, tetapi anak-anak yang datang cukup banyak yaitu sekitar tiga puluh orang.

Acara GKM dibuka oleh Kak Budi. Sesudah pembukaan oleh Kak Budi dilanjutkan dengan permainan yang dipimpin langsung oleh saya sendiri dan Teh Ai Halimah. Sebelumya kami memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan anak-anak, sebagian ada  yang sudah kenal dan sebagian lagi ada yang baru berkenalan. Setelah memperkenalkan diri, saya bersama Teh Ai langsung bermain bersama anak-anak. Ternyata anak-anak pada pintar dan berani lhoo.. Saya senang sekali. Waktu permainan pun selesai. Dilanjutkan dengan mendongeng yang disampaikan oleh Syifa (dengan boneka tangannya yang bernama Sima). Anak-anak kelihatan antusias dan serius mendengarkan dogeng yang di sampaikan oleh Syifa. Acara mendongeng pun selesai, saatnya mereka untuk mengikuti acara membaca bersama. Namun, sebelum membaca bersama dimulai, anak-anak terlebih dahulu diberi arahan oleh Presiden Komunitas Ngejah, yaitu Pak Opik untuk membaca buku  sesuai dengan kemampuan dan kelas masing-masing,  mulai dari kelas 1 s.d kelas 6 SD bahkan ada juga yang masih duduk di Taman Kanak-kanak.

Dari sana barulah anak-anak mulai kegiatan membaca bersama dalam waktu setengah jam. Dalam waktu setengah  jam tersebut mereka mampu membaca dua bahkan ada yang nyampe tiga buku sekaligus. Kemudian waktupun menunjukkan pukul 15.30 WIB dan itu berarti waktu membaca telah selesai. Buku-buku kembali dikumpulkan lalu dibereskan kembali ke tempat semula. Setelah buku selesai dibereskan dan sudah terlihat rapi, anak-anak disuruh kembali ke tempat duduknya masing-masing. Acara selanjutnya, yaitu uji mental dan ingatan dengan cara menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca. Anak-anak begitu senang, saking senangnya pas diberi kesempatan mereka langsung maju ke depan untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Anak-anak yang berani maju ke depan mendapat tiga atau empat buku sesuai dengan isi buku yang diceritakannya.

            Waktupun telah menunjukkan pukul 17.15 WIB, saya bersama yang lainnya kemudian bersiap-siap untuk acara terakhir, yaitu sesi foto bersama dengan anak-anak beserta dewan guru yang ada. Setelah foto bersama berlangsung, kami berpamitan dan langsung pulang karena belum menunaikan Solat Ashar. Medan yang kami tempuh lumayan dahsyat ditambah dengan guyuran air hujan yang cukup deras. Di tengah perjalanan pulang menuju saung Komuitas Ngejah ada satu hal yang sangat lucu sekali, yaitu karena ada seorang Nenek yang menghentikan laju motor Presiden Komunitas Ngejah. Nenek itu berkata “Ujang liren namut pecin 500. Begitu ujar nenek yang berpakaian jas hujan berbahan plastik. Lalu Presiden Komunitas Ngejah menjawab: “Nek, teu icalan pecin abi mah, iyeu mah buku. Ujar Sang Presiden sambil memberikannya uang sebesar Lima Ribu Rupiah kepada nenek itu. Ternyata sang nenek mengira bahwa motor yang membawa bok itu di dalamnya terdapat  pecin. Kami semua tertawa sambil terus melihat kondisi nenek tersebut.

            Gerakan Kampung Membaca kali ini sangat menyenangkan dan terasa istimewa karena selain bisa bergembira bersama anak-anak dan menemukan hal-hal aneh dan lucu seperti cerita nenek tadi, GKM kali ini dihadiri oleh Kak Muhamad Ibrahim Daud atau sering disapa dengan panggilan Kak Ibda yang  sedang memenuhi tugas akhir kuliahnya. Ia juga ditemani oleh ayahnya. Ia sering ditemani ayahnya jika berkunjung ke Saung Komunitas Ngejah. Ayahnya adalah wartawan Koran Kabar Priangan. Kami mendapat banyak pengalaman dari beliau. Nah teman-teman, pokoknya GKM kali ini selain seru juga mengasikkan lho. Bagi teman-teman juga yang mau ikut bergabung menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca, yuk berkunjung ke Saung KomunitasNgejah. Ini ceritaku, mana ceritamu? Lain kali ikutan GKM bersama kami ya!

Salam.

25 Februari 2018

***YuniAriyanti,

Pustakawan Komunitas Ngejah

Mereka yang Terbang Mencari Ilmu dan Pengalaman

Posted on Updated on

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina” Terlepas dari shahih tidaknya hadits tersebut, akan tetapi banyak orang yang juga menyandang sebutan Ajengan menggunakan haduts ini untuk memotivasi murid-muridnya untuk terus belajar, meski mendapat rintangan, salahsatunya harus rela tinggal jauh dari rumah dan keluarganya.  Sekali lagi tanpa menyoal apakah hadits ini shahih atau tidak? Saya mamaknai hadits tersebut adalah sebuah penegasan bahwa betapa pentingnya ilmu, sampai-sampai kita harus rela mencarinya ke negeri nun jauh di sana. Sebagai bentuk setuju akan hadits di atas, .sejak awal Komunitas Ngejah berdiri, saya kerap bepergian bersilaturahmi dengan berbagai komunitas untuk mencerap ilmu dan pengalaman. Hal itu kemudian saya tularkan juga kepada para relawan dan anggota Komunitas Ngejah. Setiap kali ada kesempatan untuk bergabung dalam forum yang memungkinkan memberi suntikan ilmu saya selalu mencoba mengarahkan teman-teman relawan dan anggota Komunitas Ngejah untuk mengikutinya. Pada awalnya, kami hanya pergi ke luar kota atau melintasi satu dua kota. Pada tahun 2012 kami mengirim puluhan anggota Komunitas Ngejah untuk ikut menjadi bagian kegiatan Festival Film Tasikmalaya, lalu tahun 2013 pergi ke Rumah Dunia Banten untuk bergabung dalam kegiatan Festival Literasi Indonesia. Kini kebiasaan untuk mencari ilmu dan pengalaman ke luar kota, ke luar pulau, bahkan luar negeri semacam menjadi kebiasaan relawan Komunitas Ngejah. Jika pada awalnya kami kerap merogohkocek sendiri, kini kehadiran kami sebagian besar atas undangan baik pemerintah atau komunitas lain, oleh karena itu kepergian kami sering gratisan. Beberapa nama yang pernah bergabung dalam kegiatan di luar kota, luar pulau bahkan luar negeri, beberapa diantaranya adalah Novia dan Khatami pernah ikut kegiatan rembuk remaja nasional yang diselenggarakan yayasan kampung halaman di Bandung. Lalu Novia seorang diri mengikuti kegiatan workshop tenaga literasi yang digelar Badan Bahasa di Jakarta. Yuni pernah mengikuti workshop yang digelar Bapusipda Jawa Barat selama satu minggu penuh di Bandung. Sidik Susanto bersama Ruli Lesmana pernah pergi ke Yogya untuk bergabung dalam kegiatan workshop pengembangan kampung literasi di Yogya. Selain itu Ruli pernah terbang ke Singapura untuk terlibat dalam kegiatan resdensi menulis, dan merapat ke Padang untuk mengikuti residensi pegiat literasi di Tanah Ombak. Roni Nuroni pernah terbang ke Jambi untuk mewakili lomba pengelola TBM, pergi ke Singapura untuk pelatihan menulis dan kembali terbang ke provinsi paling timur Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam melaksanakan kegiatan Gerakan Kampung Membaca. Budi Iskandar pernah terbang ke Palu untuk mendampingi Syifa mengikuti kegiatan yang digelar Badan Bahasa, juga terbang ke Singapura dalam acara residensi menulis. Di luar itu mereka dan beberapa nama lainnya, terlibat beberapa kegiatan lain. Tentu saja setiap mereka pergi, saya berharap akan ada tambahan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan dan kemudian menjadi amunisi dalam melanjutkan gerakan melalui wadah Komunitas Ngejah. Semoga peluang untuk terus berjejaring dengan dunia luar semakin terbuka lebar.*** NTA