Latest Event Updates

Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun 2015 Fase-II

Posted on Updated on

KN-1
Photo Bersama Relawan Komunitas Ngejah sebelum memulai perjalan Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun 2015 Fase-II

Kamis, 31 Desember 2015, hari ini rencananya kami (Komunitas Ngejah) akan mengadakan Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun Fase-II. Sesuai jadwal, pukul 13.00 Opik, Ruli Lesmana, Iwan Ridwan, Toto Muhammad Sodikin, Ridwan Muhammad Abdul Ajiz, Firman Taofiq, Ai Nurhalimah, Rosita, Vita Siti Julaeha, Ai Sopiah dan saya sendiri, Ade Luqman sudah berkumpul di Saung. Pukul 14.00 WIB seluruh persiapan seperti kamera, laptop, infokus, tenda, buku-buku bacaan yang akan disimpan di Pojok Baca serta buku untuk amonisi Gerakan Kampung Membaca, makanan, perlengkapan pribadi dan lain sebagainya sudah selesai kami kemas. Sayang sekali, ketika kami hendak berangkat, hujan turun dengan lebat. Kami pun harus menunggu. Pukul 16.30 hujan tinggal gerimis. Iwan Ridwan selaku Koordinator Gerakan Kampung Membaca bersama Opik selaku Presiden Komunitas Ngejah, kemudian mengecek kesiapan semua relawan. Setelah semua relawan menyatakan kesiapannya untuk memulai perjalan dengan diiringi gerimis, dan meyakinkan semua relawan menggunakan jas hujan, kami pun berhimpun berdoa bersama di pimpin oleh Iwan Ridwan. Di pertengahan jalan, tepatnya di Jembatan Desa Saribakti Kecamatan Peundeuy, Neng Rifa sudah menunggu untuk bergabung bersama kami. Alhamdulillah, sekitar pukul 19.15 kami sampai di lokasi yang dituju.

POS 1-Kampung Cinangsi Desa Toblong Kecamatan Peundeuy

KN-15
Permainan Konsentrarasi sebagai Sesi Pertama Kegiatan Gerakan Kampung Membaca

Lokasi pertama tempat yang kami tuju adalah Kampung Cinangsi Desa Toblong Kecamatan Peundeuy. Imron alumni UIN Bandung yang bekerja sebagai petani sekaligus guru honorer secara kebetulan sedang berada di halaman rumahnya, seperti yang siap menyambut kami. Padahal sampai waktu itu kami belum bisa menghubunginya, lantaran di kampung tersebut tak ada signal. Lagi-lagi agenda berubah, keinginan kami untuk melakukan nobar ala layar tancap bersama penduduk terpaksa harus batal, karena hujan turun kembali dengan deras. Kekosongan waktu kemudian digunakan untuk ngobrol santai dengan Imron tentang tektek bengek kampungnya termasuk asalmula nama kampung. “Kenapa nama kampung ini Cinangsi? karena dulu di sekitaran kampung itu banyak pohon Nangsi. Pohon Nangsi itu pohon yang bagus untuk menahan air. Fungsinya kurang lebih seperti beringin. Jadi di kampung ini airnya cukup subur” tutur Imron menjelaskan. Kelimpahan air ini kemudian yang menjadi modal warga sekitar bertani. Siapapun ia yang berkunjung ke kampung ini akan tahu, bahwa masyarakat di sini sebagian besar adalah petani. Hal ini salahsatunya bisa terdeteksi dengan hanya melihat kampung yang didominasi oleh gelombang bukit yang sudah diisi penuh oleh berbagai tanaman dan juga sawah-sawah yang mengitarinya.

KN-11
Seorang anak (serta GKM) sedang menunjukan bacaan kepada temannya
KN-4
Membaca Bersama
KN-8
Membaca Bersama

Obrolan terus bergulir. Pada percakapan ini, Opik bercerita tentang isi pidato Mendikbud, Anies Baswedan, pada Malam Anugerah Peduli Pendidikan. “Tahun 1947 bulan April di Yogya, Presiden (Soekarno) mencanangkan pemberantasan buta huruf. Ada papan tulis hitam bertuliskan “aiueo”, di belakangnya ada spanduk besar sekali, bertuliskan ‘Bantulah usaha pemberantasan buta huruf’. Kata pertama yang dipasang adalah ‘Bantulah’. Pemerintah datang dengan mengatakan ‘bantu kami memberantas buta huruf’,” begitu jelas Opik, mengutip pidato Mendikbud Anies Baswedan. Opik menyimpulkan bahwa Gerakan Indonesia Membaca harus menjadi tanggung jawab bersama, mengadaptasi Gerakan Pemberantasan Buta Huruf yang sukses menjungkirbalikan kondisi 95% buta huruf menjadi 5% buta huruf seperti yang dipelopori oleh Soekarno. Malam semakin larut sebagian kawan ada yang tidur dan ada juga yang bergadang melanjutkan percakapan dengan Imron.

KN-5
Iwan Ridwan, Koordinator Gerakan Kampung Membaca menyerahkan sejumlah buku  kepada Ajengan Uun Pengelola Pojok Baca Cinangsi

Juma’t pagi datang bersama gerimis.  Sekitar pukul 7.3.00 langit semakin terang. Kami pun bergegas mengunjungi Pojok Baca Cinangsi yang dikelola Ust Uun. Iwan Ridwan bersama Toto Muhammad Sodikin mewakili tim bercakap dengan Ajengan Uun seputar perkembangan aktivitas membaca di Pojok Baca Cinangsi serta menyampaikan tujuannya untuk melaksanakan Gerakan Kampung Membaca. Tanpa basa-basi, melalui toa, Ajengan Uun segera mengumumkan mengenai kedatang kami dan menghimbau anak-anak untuk segera datang ke lapangan terbuka yang berada di samping SDN 4 Toblong yang hanya memiliki 3 lokal kelas termasuk kantor kepala sekolah dan guru. Miris. Setiap kelas di sekat dijadikan dua kelas. Satu ruangan digunakan kantor kepala sekolah dan guru. Sebagian siswa yang tidak tertampung mereka belajar di madrasah Cinangsi yang terletak hanya sekitar 25 meter dari sekolah. Sekitar pukul 08.00 sekitar 30 orang lebih anak sudah berkumpul. Hampir semua anak yang hadir dalam kesempatan tersebut adalah anak-anak usia SD. Kegiatan Gerakan Kampung Membaca dimulai dengan membacakan Basmalah bersama-sama dan dilanjutkan dengan perkenalan singkat dari tim relawan Komunitas Ngejah. Selepas itu Ai Nurhalimah, Vita SiZu, dan Rosita melanjutkan kegiatan dengan permainan konsentrasi. Permainan tersebut kemudian menjadi jembatan kedekatan antaa anak-anak dengan relawan. Hal ini kemudian menjadi celah masuk bagi relawan untuk mengajak anak-anak peserta GKM berbincang seputar pentingnya membaca. Sesi tersebut, kemudian dilanjutkan dengan mengarahkan anak-anak untuk membentuk kelompok. Setiap kelompok didampinngi oleh satu orang mentor (relawan) yang sudah mempersiapkan sejumlah buku. Anak-anak kemudian disilahkan untuk memilih buku bacaan sesuai selera masing-masing. Kegiatan membaca bersama pun berjalan sekitar 45 menit. Tak hanya peserta, setiap mentor (relawan) ikut serta larut dalam kegiatan membaca bersama. Selesai kegiatan membaca bersama Koordinator Gerakan Kampung Membaca menyerahkan sekitar 100 buku kepada Ajengan Uun selaku pengelola Pojok Baca Cinangsi. Sesi tersebut dilanjutkan pembacaan doa sebagai penutup kegiatan dan photo bersama.

Pos 2-Kampung Cihideung Desa Cikondang Kecamatan Cisompet

KN-18
Perjalan Menuju Kampung Cihideung
KN-2
Ato (Relawan Komunitas Ngejah) memperbaiki beberapa bagian sasak rawayan yang bolong, sebelum melintas.

Perjalanan menuju Pos 2 yaitu Kampung Cihideung melewati jalan yang cukup menantang. Jalannya yang curam. Mula-mulai jalan aspal rusak, kemudian jalan tanah merah (setapak), sasak rawayan dan jalan setapak yang telah ditembok. Hal yang paling mengesankan dan membuat dagdigdug jantung adalah saat kami melewati sasak rawayan yang sempit dan sudah rusak. Awalnya kami berfikir tidak akan bisa melewati sasak tersebut. Setelah mencoba memperbaiki beberapa bagian sasak yang sudah rusak, dengan penuh kehati-hatian satu-satu motor yang kami gunakan melintasi sasak tersebut. Celakanya, ban motor yang saya pakai terperosok karena melintas pada bagian sasak yang sudah rapuh. Untungnya saya segera dibantu kawan-kawan relawan yang lain. Ah, berpeluh keringat kami melintasi sasak tersebut.

KN-19
Ngobrol Santai dengan Pak Ruhiat Pengelola Pojok Baca Cihideung di Rumah Dadan

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 lebih, maka kami harus melanjutkan mencari mesjid untuk melaksanakan shalat Juma’t terlebih dahulu, sementara kawan-kawan perempuan ditinggal untuk menjaga dua motor yang kami tinggalkan. Kami sudah sampai di di mesjid kampong Cihideung di sana kami melaksanakan shalat jumaat. Setelah selesai melaksanakan Sholat Jumat kami bertemu dengan Dadan alias Agung, warga Singajaya yang menikah dengan orang Cisompet. Agunglah yang memfasilitasi untuk melaksanakan kegiatan di kampung ini pada tahun sebelmunya. Kami diajak kerumahnya untuk beristirahat. Sementara sebagian kawan yaitu Iwan, Ato, Ruli dan juga Dadan menjemput kawan-kawan perempuan yang masih menunggu di sasak rawayan sana.

KN-14

KN-13
Penyerahan Buku

Setelah semua kawan-kawan sampai di rumah Dadan kami beristirahat sambil berdialog dengan orang tuanya Dadan seputar motor-motor masyarakat bisa dengan mudah melintasi sasak rawayan yang rusak tersebut “karena sudah terbiasa” jawabnya. Saya terinspirasi bahwa suatu hal yang dianggap sulit dan tak mungkin bisa dilalui, kalau dicoba dan terus mencoba akan menjadi mudah. Di lokasi ini, kami tidak menyelenggarakan Gerakan Kampung Membaca, hanya menengok Pojok Baca dan melakukan penguatan dengan menambah buku. Ruhiat sebagai pengelola Pojok Baca di kampung tersebut bercerita seputar perkembangan aktivitas membaca di kampungnya. “Alhamdulillah ngeureuyeuh, mung teu acan optimal. Duh abdina teu acan konsentrasi penuh, masih sibuk ngaleres sakola. Milarian bantosan kanggo ruangan kelas baru di M.Ts” begitu tuturnya. Sementara Dadan merekomendasikan penambahan buku mengenai pertanian, peternakan dan, keterampilan lokal. Karena masyarakat setempat bermata pencaharian bertani huma, dan beternak.

POS 3-Kampung Ciparanje Desa Sagara Kecamatan Cibalong

KN-16
Menuju Kampung Ciparanje dari arah Kampung Cihideung

Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 kami berpamitan kepada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan menuju POS 3 yaitu Kampung Ciparanje Desa Sagara Kecamatan Cibalong. Kami melewati jalur Kampung Ciawi sesuai rekomendasi Dadan. “Hayu dijajap ku abdi bisi aya nu mogok” ujar Dadan.  Jalur yang kami tempuh merupakan jalan setapak yang melintasi lembah dan bukit-bukit kecil. Kami diantar oleh Dadan sampai ke pertengahan perjalanan. Di tengah-tengah perjalanan Opik terjatuh, ketika melintasi sasak kecil, mungkin beliau hilang keseimbangaun saat menginjak lubang yang tertutup rumput. Beruntung hanya luka kecil. Pukul 12.05 kami tiba di Kampong Ciparanje.

kn------kn-------

KN-10
Permainan Konsentrasi

Tahun sebelumnya kami pernah melaksanakan kegiatan Gerakan Kampung Membaca dan membangun Pojok Baca di sini. Pengelolanya adalah Ajengan Ajen. Setelah sholat Dzuhur kami pun bercakap santai dengan Ajengan Ajen mengenai perkembangan membaca di Ciparanje. Pukul 13.30, Ajengan Ajen mewartakan kedatangan kami melalui toa. Anak-anak pun segera berkumpul. Kegiatan Gerakan Kampong Membaca dimulai. Kami memulainya dengan permainan konsentrasi yang dipimpin Ai, Ato, Rosita dan Vita. Setelah itu kegiatan membaca bersama selama kurang lebih 60 menit. Acara selanjutnya mendongeng yang disampaikan oleh Neng Rifa. Pada kesempatan ini Neng Rifa membawakan dongeng yang berjudul “Pentingnya ilmu”. Kegiatan diakhiri dengan doa, penyerahan buku dan photo bersama.

kn---Pukul 16.30 kami berpamitan meninggalkan Kampung Ciparanje menuju Pantai Karang Paranje untuk mengakhiri kegiatan Gerakana Kampung Membaca tahun 2015 dengan menikmati kemolekan pantai…

kn000kn9kn,

Sampai berjumpa pada kegiatan GERAKAN KAMPUNG MEMBACA TAHUN 2016. Tetap semangat menyebar virus membaca…

Penulis: Ade Luqman (Relawan Komunitas Ngejah)

GKM Edisi AKhir Tahun Fase I

Posted on Updated on

Pojok Baca Ojeg Pintar Surapati
Pembangunan Pojok Baca Ojeg Pintar Surapati

Sejak beberapa minggu ke belakang,  Komunitas Ngejah telah menyiarkan bahwa kegiatan Gerakan Kampung Membaca edisi akhir tahun akan digelar pada tanggal 24-29 Desember 2015. Namun, karena berbagai kesibukan di Saung, serta kesibukan para relawan, akhirnya kegiatan tersebut dibagi menjadi dua fase. Fase I dilaksanakan mulai tanggal 24-26 Desember 2015, sedangkan Fase II dilaksanakan mulai tanggal 31 Desember 2015-3 Januari 2016. Setelah perubahan jadwal disepakati, akhirnya kami melakukan pembagian tugas.

Tanggal 24 Desember 2015, saya bersama para relawan yang terdiri dari Roni, Nana, Iis, Mondi, Aziz, dan Ade bergerak bersama membawa satu buah rak dan sekitar 100 buah buku ke Pangkalan Ojeg Surapati. Kedatangan kami disambut oleh Teh Selfi, Istri Kang Soso (Ketua Ojeg) sekaligus pemilik warung. Setelah bertegur sapa dan mengetahui bahwa Kang Soso sedang mengantarkan penumpang, kami pun ngobrol santai dengan Kang Naya dan Kang Enceng, dua orang tukang ojeg yang sedang ngetem, perihal pembangunan Pojok Baca di Pangkalan Ojeg Surapati. Keduanya ternyata menyambut dengan sukacita dan menyatakan sudah mengetahui rencana tersebut dari Kang Soso.  Tidak berselang lama, setelah Kang Soso pulang mengantarkan penumpang, kami segera melakukan serah terima rak dan buku. “Naminamah Pojok Baca Ojeg Pintar Surapatiwe, meh palalinter tukang ojegna” ujar Kang Soso sambil tertawa. Mudah-mudahaan kapayunamah aya saung khusus sapertos di Komunitas Ngejah, meh rada keren sareng nu maca tiasa santai. Pan didieumah seueur tukang ojeg, penumpang, oge marurangkalih sakola anu megat mobil. Janten pami aya perpustakaan atanapi saung khususmah kanggo macamah, aranjeuna enjoy ngantosan mobil sambil maca buku” imbuh Kang Soso. Keseriusan Kang Soso untuk bersama-sama dengan Komunitas Ngejah menggelorakan semangat membaca dengan mengelola Pojok Baca memang sudah terlihat jauh-jauh hari. Faktanya, bahwa pembangunan Pojok Baca di lokasi tersebut merupakan inisiatif beliau. Kang Soso sengaja menghubungi para relawan Komunitas Ngejah, menyatakan kesiapannya untuk mengelola Pojok Baca di Pangkalan Ojeg Surapati. Kondisi tersebut, tentu saja segera kami respon.

Pojok Baca Sundabakti
Ade Lukman (Relawan Komunitas Ngejah) ditemani Rosita (Pengelola Pojok Baca) sedang merapikan buku tambahan di Pojok Baca Sundabakti

Tanggal 25 Desember 2015, giliran Iwan Ridwan bersama Ade dan beberapa relawan yang bergerak. Mereka melakukan kunjungan ke Pojok Baca Sundabakti, bersilaturahmi dengan pengelola sekaligus menyerahkan sekitar 100 buku untuk menambah koleksi bacaan di sana. Para relawan disambut oleh beberapa orang anak pengunjung Pojok Baca Sundabakti yang kebetulan sedang membaca dan juga oleh Rosita sebagai pengelola. Pada kesempatan itu para relawan Komunitas Ngejah mendapat bocoran dari Rosita sebagai pengelola, bahwasannya Pojok Baca Sundabakti sedang melakukan pembenahan. Pojok Baca yang semula berada di PAUD tersebut sekarang sudah memiliki ruangan sendiri. “Kebetulan kemarin sudah ngobrol dengan orang tua, insya Alloh ada ruangan khusus di rumah yang akan difungsikan sebagai Pojok Baca. Jadi nanti anak-anak serta pengunjung Pojok Baca lainnya akan lebih nyaman membaca. Rak buku pun akan kita tambah” tutur Rosita.

Pojok Baca Babakanlalay
Dede Rofi & Ade Lukman diserbu anak-anak pengunjung setia Pokok Baca Babakanlalay

Tanggal 26 Desember, Iwan Ridwan ditemani Dede Rofi dan Ade bergerak ke Pojok Baca Babakanlalay. Di sana para relawan disambut anak-anak pengunjung setia Pojok Baca Babakalalay. Pada kesempatan ini, para relawan Komunitas Ngejah, selain bersilaturahmi juga menyerahkan sekitar 100 buku sebagai tambahan koleksi buku yang sudah tersedia sebelumnya. Ajengan Dadang mengaku sangat bahagia menerima kunjungan para relawan. “Pami tiasa malem Salasa amengan kadieu, silaturahmi ka masyarakat dina acara pangaosan minggonan, sakantenan sosialisasi langsung, supados gerakan Komunitas Ngejah langkung dipahami ku warga didieu” begitu tutur Ajengan Dadang. Selain itu, ia mengaku sangat senang dengan adanya tambahan buku kali ini, karena selain buku pengetahuan, buku yang dikirim sebagian besar merupakan buku-buku agama dan kitab kuning yang dipelajari di madrashanya.***NTA

Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun 2015

Posted on Updated on

GKM 2015Jika kita menulis kalimat “budaya baca masyarakat Indonesia” maka hasil penelusuran pada mesin pencari google mayoritas akan mengungkap mengenai rendahnya budaya baca. Tentu saja hasil tersebut bukan merupakan cerita rekaan, namun merupakan hasil penelitian yang dilengkapi data. Menyikapi kondisi tersebut banyak pihak melakukan berbagai usaha guna meningkatkan budaya baca masyarakat.  Seminar dan workshop peningkatan budaya baca, deklarasi gerakan membaca di berbagai daerah, tumbuh kembangya TBM dan Perpusdes di berbagai pelosok, merupakan sebagian kerja mencari solusi diantara sekian banyak cara yang kemudian bergulir demi mengatasi rendahnya budaya baca di republik ini. Dalam hal ini, Komunitas Ngejah sebagai gerakan anak muda yang menasbihkan diri sebagai gerakan literasi, tidak mau ketinggalan untuk terus melakukan ikhtiar meningkatkan budaya baca diri pribadi dan juga masyarakat sekitar. Selain mendirikan dan mengelola Taman Baca aiueo sebagai suborgan Komunitas Ngejah yang konsen melayani kegiatan membaca dan peminjaman buku setiap hari sejak pukul 08.00-20.00, ragam cara coba ditempuh, dua diantaranya yaitu Gerakan Kampung Membaca dan Pembangunan Pojok Baca.

Spesial menghadapi libur akhir tahun, sejak dua tahun terakhir Komunitas Ngejah mengemas Gerakan Kampung Membaca menjadi Gerakan Kampung Membaca Edisi Akhir Tahun dalam bentuk safari sekaligus Pembangunan Pojok Baca di beberapa lokasi dalam satu rangkaian kegiatan. Pada kegiatan GKM Edisi Akhir Tahun 2015, selain mengunjungi lokasi baru Gerakan Kampung Membaca sekaligus Pembangunan Pojok Baca baru, juga akan mengunjungi kampung-kampung yang pernah menjadi lokasi kegiatan GKM dan telah memiliki Pojok Baca demi memupuk gerakan yang telah tumbuh. Kegiatan GKM edisi akhir tahun, rencananya akan dilaksanakan sejak tanggal 24 sampai 29 Desember 2015. Lokasi pertama kegiatan akan dilaksanakan di pertigaan Ojeg Surapati (Perbatasan Garut dan Tasikmalaya). Di lokasi tersebut, rencanya akan dibangun sebuah Pojok Baca, sesuai permintaan Soso, salahseorang sesepuh Ojeg Surapati sekaligus pemilik warung. Lokasi sasaran lainnya tersebar di beberapa kecamatan yang meliputi, Bojonggambir (Kabupaten Tasikmalaya), Singajaya, Peundeuy, Cisompet dan Cibalong (Kabupaten Garut).  Pada pelaksanaannya, selama enam hari relawan Komunitas Ngejah akan mengunjungi 7-10 kampung sebagi lokasi GKM. Dari 7-10 kampung tersebut, ada 3 kampung yang akan dijadikan lokasi pembangunan Pojok Baca. Di beberapa kampung, relawan akan menginap di rumah warga, menggelar nonton film ala layar tancap serta berdiskusi seputar budaya baca dan tektek bengek mengenai kondisi kampung tersebut dan tentu saja ngaliwet bareng. Siang harinya, relawan akan menggelar Gerakan Kampung Membaca dengan bentuk kegiatan: membaca bersama, mendongeng, baca puisi, permainan konsentrasi dan aneka macam kegiatan lainnya.

Pola Gerakan Kampung Membaca merupakan kesadaran bahwa meningkatkan budaya baca tidak mungkin hanya selesai dengan kegiatan seminar dan workshop atau deklarasi bersama serta menunggu para pengunjung untuk membaca di Saung Komunitas Ngejah, namun harus ada gerakan lanjutan yang mencoba menyentuh langsung ke masyarakat pelosok. Sementara pola pembangunan Pojok Baca adalah upaya tersendiri menggalang kekuatan, melibatkan banyak relawan untuk bekerjasama meningkatkan budaya baca, mengelola Pojok Baca. Secara umum para relawan pengelola Pojok Baca Komunitas Ngejah adalah ajengan, pegiat posyandu, tukang warung dan aktivis pemuda kampung. Namun, dengan sepenuh hati Komunitas Ngejah menyadari bahwa serangkaian kegiatan tersebut hanya pemantik, ikhtiar kecil meningkatkan budaya baca. Diluar kesadaran masyarakat, keberhasilan gerakan tentu saja terletak pada keberadaan relawan di setiap lokasi kegiatan yang khusyuk menggelorakan semangat membaca, pemerintah setempat serta pihak terkait yang melek akan pentingnya budaya baca.***NTA

Angerah Peduli Pendidikan 2015

Posted on

APP-1
Opik (Presiden Komunitas Ngejah) Menerima Tropi Anugerah Peduli Pendidikan 2015 dari Anies Baswedan (Mendikbud)
APP-3
Photo Bersama Para Penerima Anugerah Peduli Pendidikan 2015 dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
IMG_7505 (2)
Piagam Anugerah Peduli Pendidikan 2015 untuk Komunitas Ngejah
IMG_7496 (2)
Tropi Anugerah Peduli Pendidikan 2015 untuk Komunitas Ngejah

Gerakan Kampung Membaca 38, kesan pertamaku menjadi relawan

Posted on Updated on

ai dan seli
Ai dan Selli membuka kegiatan Gerakan Kampung Membaca episode 38

Minggu, 06 Desember 2015, pukul 10.00 WIB, para penggiat dan juga relawan dari Komunitas Ngejah kembali bergerak, melakukan kegiatan rutin akhir pekan yaitu GKM  atau Gerakan Kampung Membaca. Lokasi yang kami datangi ialah Kampung Paniman Desa Girimukti Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Lokasi tersebut menjadi lokasi pertamaku ikut berkecimpung dalam kegiatan Gerakan Kampung Membaca ini. Senang rasanya ikut terjun langsung bergerak dan berbaur dengan anak-anak, mengajak mereka untuk bersama-sama mengenal dunia melalui kegiatan membaca.

GKM 38...
Para peserta GKM 38 sedang asik menikmati bahan bacaan

Kegiatan GKM ini dipimpin langsung oleh kordinator Gerakan Kampong Membaca yaitu pa Iwan Ridwan bersama Wapres Komunitas Ngejah yaitu Kang Roni Nuroni dan Kang Ruli sebagai sekretaris Komunitas Ngejah sekaligu juru potret yang selalu mengabadikan setiap kegiatan Gerakan Kampung Membaca.  Adapun relawan lain yang juga ikut terjun langsung diantaranya salah satu sahabat saya Bu Ai Nurhalimah dan Ade Lukman, bahkan para pelajar pun ikut berpartisipasi dan meramaikan kegiatan Gerakan Kampung Membaca. Ada Jejen yang merupakan pelajar dari SMK Riyadllul Huda, ada juga Desi dan Wulan yang merupakan pelajar dari SMA N 20 Garut.

Sebelum berangkat, kami berdiskusi, berkumpul dan menyiapkan apa saja  yang akan kami bawa ke lokasi. Hal lainnya, tentu saja pembagian tugas untuk mengisi kegiatan GKM. Persiapan ini dipimpin langsung oleh Kang Nero sebagai Presiden Komunitas Ngejah.  Setelah selesai berdiskusi kami pun segera berangkat menuju lokasi. Pengalaman pertama ikut GKM sangat menarik. Antusias  anak–anak dengan sambutan yang hangat dan wajah yang ceria. Tak menunggu lama kami pun langsung bergerak dan meramaikan kegiatan tersebut.  Acara pertama perkenalan antara kami dan anak–anak disana. Setelah itu ,Bu Ai Nurhalimah mendongengkan sebuah cerita yang berjudul “Kura–Kura Memanjat  Pohon” Kesimpulan dan pesan dari cerita itu adalah “bahwa kita harus semangat dan pantang menyerah tetap berdoa dan berusaha”, selanjutnya adalah motivasi membaca dimana pesan yang disampaikan yaitu “kita harus rajin, gapai semua cita-cita dan dunia dengan membaca, karena kita adalah akar generasi penerus bangsa”. Setalah mendongeng dan motivasi membaca, dilanjutkan dengan membaca berbagai buku yang sudah disiapkan. Pada sesi ini relawan segera ambil bagian untuk menjadi mentor.  anak-anak pun bergembira membaca semua buku-buku yang ada.

12309610_10203711760033595_6566553758954057619_o
Ade dan Jejen menjadi mentor pada kegiatan membaca bersama

Waktupun berlalu begitu cepat dan tibalah waktu Solat Dzuhur kami menghentikan aktivitas dan melaksanakan shalat berjamaah yang dipimpin oleh Kang Roni Nuroni. Setelah shalat selesai, kami pun melanjutkan acara kembali yaitu dengan sesi ruang karya. Anak–anak menuangkan karya-karya mereka ke dalam sebuah kertas. Hasil karya yang terbaik diberi reward  dan akan di pajang di Mading Balarea yang ada di halaman saung Komunitas Ngejah. Kemudian acara dilanjutkan oleh Kang Iwan Ridwan. Beliau menyampaikan bahwa “Membaca adalah jendela dunia, maka dunia akan berada dalam genggaman kita jika kita mau membaca. Acara terakhir yaitu acara bernyanyi, menari bersama dan pembagian hadiah berupa buku dan permen.

Karya GKM
Karya Peserta Gerakan Kampung Membaca episode 38

Ah, senang rasanya melihat anak-anak bersemangat untuk membaca dan berbagi, bercerita tentang dunia dan masa depan. Sungguh saya tidak sabar untuk mengikuti kegiatan Gerakan Kampung Membaca episode selanjutnya. Akhirnya acara demi acara telah terlewati dan kang Roni menutup kegiatan tersebut dengan menguatkan kembali dengan mengatakan “Berapa banyak buku yang dibaca dalam sebulan? Maka baca, baca, bacalah buku sebanyak mungkin!”  setelah itu Kang Roni mengajak semua relawan dan peserta memanjatkan doa, supaya kegiatan tersebut bermanfaat dan diberkahi oleh Alloh, SWT. Sebelum pulang, kami pun pamitan kepada warga sekitar, dan tentu saja kepada anak-anak peserta Gerakan Kampung Membaca.

Dalam perjalanan menuju pulang kami mampir dahulu di rumah salah seorang relawan Komunitas Ngejah yang bernama Iis.  Rumahnya berada di Kampung Leuwirancak RT. 01 RW. 01 Desa Sukamulya Kecamatan Singajaya dengan tujuan menengok ibunya yang sedang sakit. Ternyata perjalanan menuju rumah Iis sangatlah tidak mudah karena kami harus melewati sasak rawayan yang begitu menegangkan dan ternyata lokasi tersebut merupakan lokasi Gerakan Kampung Membaca minggu lalu episode ke-37.  Setiba di rumahnya kami pun langsung bersilaturahmi, berbincang-bincang dengan ibunya . tanpa terasa senja menghias langit. Kami pun bergegas pulang dan mendoakan ibunya supaya lekas sembuh kembali seperti sediakala*** Selli-Relawan Komunitas Ngejah

FORUM JABARACA RESMI TERBENTUK

Posted on

jabaracaDalam rangka meningkatkan budaya baca masyarat Jawa Barat berbagai upaya terus ditempuh oleh BAPUSIPDA Jawa Barat di bawah kepemimpinan Tati Iriani. Salahsatu usaha tersebut, yaitu dengan mempelopori pembentukan Forum Perpustakaan Desa/Kelurahan yang diselenggarakan pada tanggal 30 November 2015. Pada kesempatan tersebut para pegiat literasi dari berbagai kalangan sebagai perwakilan kabupaten/kota di Jawa Barat sengaja diundang.

Kegiatan pembentukan Forum Jabaraca dimulai dengan talkshow yang diisi oleh Kepala Desa Majasari Kabupaten Majalengka dan Lurah Sindangsari Kota Sukabumi, masing-masing sebagai pengelola perpustakaaan berprestasi, serta  Wien Muldian sebagai aktivis literasi. Pada sesi ini, ketiganya memaparkan pengalaman masing-masing dalam menggelorakan semangat membaca. Wien Muldian sebagai aktivis literasi menitikberatkan pada bahaya gadget yang mengurangi bahkan meniadakan budaya membaca pada diri anak-anak zaman sekarang. Sementara itu, Martono sebagai Kepala Desa Majasari mengakui bahwa perkembangan perpustakaan di desanya tiada lain karena kerjasama semua pihak, baik itu pemerintah, para pemuda dan juga masyarakat. Selanjutnya, Lurah Sindangsari  lebih menyoroti pada upaya kreatif agar para pengunjung perpustakaan tidak jenuh. Beliau menyatakan bahwa “Kegiatan perpustakaan sebisa mungkin harus beragam. Lebih lanjut, harus mengajarkan kemandirian, seperti dengan menyelenggarakan pelatihan ekonomi kreatif dengan melibatkan berbagai pihak., salahsatunya swasta yang mau menjadi donor kegiatan. Dengan demikian, para pengunjung akan semakin getol untuk datang ke perpustaakaan”

Setelah melalui musyawarah, akhirnya terpilih Ketua Forum Perpustakaan Desa/Kelurahan yaitu Agus Munawar. Seorang pegiat literasi senior yang sudah malang melintang dalam dunia pengembangan budaya baca. Sebelumnya, Agus pernah menjadi Ketua FTBM Jawa Barat sejak 2005-2010, kemudia menjadi Pengurus Pusat Forum TBM periode 2010-2015, serta sukses menjadi Sudut Baca Soreang sebagai komunitas literasi yang memberikan layanan kepada masyarakat. NTA

 

Rintik Hujan Menghiasi GKM 37

Posted on Updated on

IMG_6552
Dua orang pelajar SMA yang menceburkan diri menjadi relawan Komunitas Ngejah sedang asik menemani anak-anak membaca, pada kegiatan GKM 37 di Kampung Leuwirancak

Tantangan sekaligus kenikmatan tersendiri dalam Gerakan Kampung Membaca episode 37 yang kami selenggarakan pada hari Rabu (25/11/2015) terhitung double. Aih, bagaiman tidak? untuk menuju lokasi, para relawan harus melewati jembatan yang masih terbuat dari serpihan bambu atau sering disebut  sasak rawayan oleh warga sekitar. Meskipun telah berumur puluhan tahun,tapi tihang pancang masih terlihat berdiri kokoh untuk menopang jembatan, sehingga lalulalang orang serta kendaraan beroda dua hilir mudik setiap saat. Hujan yang tak kunjung reda membuat perjalanan untuk menuju lokasi semakin aduhai. Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter itu menjadi jalan alternatif satu-satunya yang harus dilewati setiap hari oleh warga Leuwirancak untuk melakukan rutinitasnya.

gkm 37.
Ai Nurhalimah, mahasiswi PGSD UT sekaligus guru honorer yang juga menjadi relawan Komunitas Ngejah sedang mendongeng di hadapan anak-anak peserta GKM 37

Walaupun waktu sedikit ngaret sekitar satu jam, namun tidak terlihat sedikitpun raut wajah kecewa dari seluruh peserta yang didominasi oleh anak-anak SD. Tanpa menunggu lama acara langsung dimulai, seluruh tim langsung dikerahkan sesuai tugasnya masing-masing. “Orang yang hebat adalah para kutu buku” saya memulai menyuntikan virus membaca kepada seluruh peserta Gerakan Kampung Membaca yang digelar di Kampung Leuwirancak RT. 01/01 Desa Sukamulya Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut, sebagai kalimat utama perkenalan antara kami relawan Komunitas Ngejah dengan para peserat GKM.  Selepas itu, saya memberi sedikit pengenalan tentang Komunitas Ngejah dan manfaat  membaca serta memberikan pendekatan dengan menceritakan tokoh-tokoh hebat didunia yang sangat gila terhadap buku.  Ai Nurhalimah, gadis yang berstatus sebagai mahasiswa PGSD Universitas Terbuka, kemudian tampil untuk menyajikan dongeng. Tanganya begitu aktraktif, melengkapi penggal demi penggal isi  cerita yang dibawakannya. Tak jarang anak-anak ikut larut dalam cerita bahkan sesekali tidak sungkan untuk  tertawa terbahak jikalau ada isi cerita yang sangat lucu, dan terdiam dikala cerita masuk dalam keadaan genting dan mengharukan.

IMG_6601.JPG
Photo bersama relawan dan peserta GKM 37

Acara dilanjutkan dengan membaca bersama. Pada sesi ini, seperti biasa para peserta dipisahkan sesuai tingkatannya untuk membentuk kelompok kecil dan dibimbing oleh para relawan dari tim Gerakan Kampung Membaca.  Hal ini tentu tujuannnya untuk menyesuaikan menu bacaan sesuai tingkatan usia. Pada kesempatan ini, beberapa pelajar SMA yang menceburkan diri menjadi relawan Komunitas Ngejah sengaja turut ambil bagian memandu kegiatan membaca bersama.  Mereka tampak asik, menikmati kebersamaan dengan anak-anak. Selain membaca bersama, tentu saja gelak tawa, senda gurau menghiasi kebersamaan tersebut. Satu jam berlalu acara dilanjutkan kembali dengan game serta kuis Roni Nuroni salahseorang pengurus Komunitas Ngejah. Pada sesi ini, Roni tidak lupa menyelipka suntikan semangat untuk para pesrta supaya membiasakan diri  mencintai buku sejak dini supaya setelah dewasa bukan hanya bisa mencintai buku namun bisa menciptakan buku sendiri. “Orang hebat adalah mereka yang berani mencintai kampung halamannya dengan melakukan berbagai kegiatan positif, salahsatunya saling memberikan suntikan motivasi untuk membaca. Jadi adik-adik di sini supaya jadi orang hebat, sempatkan waktu untuk membaca dan ajak kawan-kawan lainnya untuk membaca. Setiap hari ya…“ Pungkasnya.*** Iwan Ridwan