Latest Event Updates

Gapura Kemerdekaan

Posted on Updated on

gapura-1.jpg
RW Citeureup Juara 1 Gapura Kemerdekaan Desa Sukawangi

Selain umbul-umbul dan bendera merah putih, gapura sebagai tanda pernyataan hormat untuk sebuah peristiwa besar, berdiri di setiap pintu gerbang atau perbatasan antar RW di Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Peristiwa besar apa gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah peristiwa kemerdekaan. Ya, sejak tanggal 1 Agustus, warga masyarakat masing-masing RW bahu-membahu mendirikan Gapura Kemerdekaan. Warna merah putih mendominasi. Tulisan “HUT RI Ke 71” beserta identitas masing-masing RW terpampang pada gapura. Kreativitas masyarakat terlihat pada masing-masing gapura. Ditilik dari bahan, hampir semua RW memilih mengunakan sebagian besar bahan baku dari bambu.  Rupanya, Gapura Kemerdekaan ini menjadi salahsatu mata lomba dalam rangkaian Gebyar Kemerdekaan HUT RI Ke 71. Tiga hari sebelum menginjak tanggal 17 Agustus, Gapura Kemerdekaan sudah rampung dikerjakan oleh setiap RW. Spekulasi mengenai pemenang lomba sudah menjadi obrolan warung kopi. Saat malam Panggung Kemerdekaan digelar, panitia mengumumkan RW mana saja yang beruntung menyabet gelar juara. Warga masyarakat yang tampak memenuhi area sekitar panggung yang didirikan di jalan utama Desa Sukawangi, mulai hening. Konsentrasi, menyimak Roni Nuroni sang pembawa acara mengumumkan hasil kejuaraan.

“Hadirin yang saya hormati, inilah hasil kejuaraa Lomba Gapura Kemerdekaan” lantang sura Roni sang MC Panggung Kemerdekaan malam itu, diikuti oleh musik drum yang ditabuh oleh salahseorang personil GSP asuhan Agus Awaludin. “Juara ke-tiga diraih oleh RW Puncakkawung” gemuruh tepuk tangan hadirin mengikuti pengumuman. “Juara ke-dua diraih oleh RW Sukawangi” tepuk tangan makin bergemuruh. “Dan juara pertama adalah…” sebelum Roni menyebutkan nama RW yang menyandang juara pertama. Para penonton sudah berteriak lebih dulu “Citeureup” Dan benar saja apa yang disebutkan oleh para penonton. Roni sebagai MC menyebut nama RW Citeureup sebagai pemenang Lomba Gapura Kemerdekaan HUT RI Ke-71 di Desa Sukawangi. Selain menerima piagam dan tropi, para pemenang berhak atas uang pembinaan, secara berurutan, 1.500.000, 1.000.000, dan 500.000. Hendar sebagai koordinator lomba, berharap pembuatan gapura akan menjadi tradisi masyarakat dalam rangka menyongsong HUT RI, meski tidak dalam bentuk lomba. Hal ini kemudian diamini oleh Hadiansyah, selaku Kepala Desa Sukawangi***NTA

Karnaval Kemerdekaan di Desa Sukawangi

Posted on Updated on

MP.jpgKarnaval Kemerdekaan begitulah panitia kegiatan mengusung nama kegiatan untuk acara karnaval yang dilaksanakan dalam rangka peringatan HUT RI Ke 71 di Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. 200 x 3 m kain merah putih dibentang dan diarak dari pusat Desa Sukawangi menuju perbatasan antara Desa Sukawangi dengan Desa Cigintung. Menurut Asep Ahmad Yusuf, koordinator kegiatan, jumlah peserta kegiatan tidak kurang dari 1.000 orang. Faktanya, hampir seluruh pelajar yang berasal dari SD sampai SMA yang ada di desa tersebut, larut dalam kegiatan. Selain itu masyarakat perwakilan masing-masing ke-RT-an juga terlibat menjadi bagian dari Karnaval Kemerdekaan. Tentu saja, karnaval ini bukan semata-mata karnaval, melainkan membawa misi tersendiri yakni dalam rangka memperkuat rasa nasionalisme. Selain kain merah putih, araka-arakan yang terdiri dari jampana, orang-orangan, tabuh-tabuhan, bahkan ada yang sengaja membuat tank waja selayaknya tank waja sungguhan, ikut meramaikan karnaval kemerdekaan kali ini.

MD.jpg

Pada karnaval ini, hadir juga sebuah tandu yang menganggkut Mang Dohir. Mang Dohir merupakan Hansip sekaligus RT teladan yang mendarmabaktikan dirinya demi kemajuan desa. Saya secara pribadi, terkenang saat saya SD. Ketika agustusan tiba, beliau selalu tampil kemuka. Meski tanpa orasi yang berapi-api, tapi sungguh membuat saya terpukau. Beliau selalu tampil ke depan, membawa jampana dengan hasil bumi yang beliau tanam dengan tangan sendiri. Segala kesederhanaannya adalah kemewahan yang kini mulai langka. Pada hari ulang tahun RI yang ke 71, kami sepakat untuk menandunya dalam kegiatan karnaval. Ini sebagai simbol penghormatan warga Desa Sukawangi Singajaya kepada beliau. Selain itu, Pemerintahan Desa Sukawnagi memberikan sebuah piagam penghargaan kepada beliau sebagai Hansip Teladan. “Supados janten conto kanggo masyarakat nu sanes, janten Pamarentah Desa masihan piagam penghargaan kanggo anjeuna sebagai Hansip Teladan. Ngabangunteh seueur jenisna, tah anu dilakukeun ku Mang Dohir oge, sami etateh ngabangun” Begitu utu Kepala Desa selepas memberikan piagam penghargaan.

MP--
“Kumaha ieu kagiatanteh, tahun payun ayakeun deui?”  sebuah lontaran pertanyaan sengaja dilempar kepada masyarakat oleh Kepala Desa Sukawangi pada saat memberikan sambutan. Dengan serempak, masyarakat menjawab “Ayakeun…” diikuti oleh riuh tepuk tangan. Dengan demikian, maka Pemerintah Desa Sukawangi serta seluruh masyarakat berencana akan menjadikan kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan. “Tahun payun, insyaa Alloh kaen merah putihna ditambihan deui 100 m. Karnaval ieu berlangsung tos nembe 2 tahun, janten nembe 200 m” tutur Hadiansyah. Selain Karnaval Kemerdekaan, beberapa kegaiatan lainnya yang digelar adalah Liga Sepakbola Kemerdekaan antar RWA, Lomba Gapura antar RW, Catur Lomba (Baca Puisi, Tahfidz, MTQ, Pidato) antar MDA. Adapun seluruh anggaran kegiatan tersebut, murni patungan masyarakat dan pemerintahan desa, ditambah sebagian kecil dari beberapa sponsor perorangan. Sementara kepanitiaan dibentuk dari berbagai elemen yang ada di Desa Sukawangi*** NTA

 

Saltum dan GKM

Posted on

p---Namaku Dewi, siswi SMAN 20 Garut. Beberapa bulan terakhir aku menjadi pengunjung setia TBM aiueo Komunitas Ngejah. Mambaca dan meminjam buku di sana. Aku berkunjung biasanya pada hari Minggu atau selapas pulang sekolah. Biasanya aku membaca dan meminjam novel. Banyak novel-novel bagus dan baru lho. Nah, kebetulan pada hari Minggu, 31 Juli 2016, aku pun berkunjung kembali. Tujuan kunjungan waktu itu untuk baca-baca buku sekalian memperpanjang buku. Aku berangkat bersama Rina, teman satu sekolah. Sesampainya di Komunitas Ngejah, kita dikasih tahu oleh Kang Budi sama Kang Ruli bahwa hari itu akan ada kegiatan GKM atau Gerakan Kampung Membaca. Sudah lama aku mengetahui kegiatan ini. Namun belum ada kesempatan untuk ikut dalam kegiatan.

p-0Sebetulnya aku agak ragu-ragu untuk ikut karena takut disuruh tamil di depan untuk bicara. Waktu aku sampaikan alasan keragu-raguanku ikut, Kang Budi bilang, katanya aku sama Rina hanya disuruh ngeliatin aja dulu nanti buat catatan kegiatannya, ya seperti ini.  Aku sama Rina lirik-lirikan, Kang Budi malah nyanyi lirikan matamu… Engga hafal lagi aku lagu dangdut, ok sudah cukup…hehe. Seperti yang aku tulis di atas, bahwa kunjunganku ke Komunitas Ngejah tadinya hanya mau baca dan memperpanjang peminjaman. Jadi aku enggak ada persiapan sama sekali. Tapi enggak apa-apalah. Itung-itung mencari pengalaman jadi relawan. Cie…cie… relawan.  Akhirnya kita memutuskan ikut kegiatan. Lumayan, minimal biar enggak jenuh. Dibanding melongo tidak karuan di rumah, kan mending jadi relawan Gerakan Kampung Membaca, walapun baru ikut-ikutan.

Kami pun berangkat. Kegiatan dimulai dari pukul 14.00. Kegiatan GKM kali ini dilaksanakan di sebuah madrasah yang berlokasi di Kampung Sindangsari RT 03 RW 01 Desa Sukawangi Kec.Singajaya Kab.Garut. Setelah sampai di tempat kegiatan aku sedikit kaget, karena apa? Ya karena pakaianku yang serasa tidak sesuai dengan tempatnya. Oalah aku memakai celana jeans, sementara kegiatan bertempat di sebuah Madrasah.Anak-anak yang menjadi peserta secara umum mereka pakai sarung dan samping atau rok. Aduh malunya aku waktu itu,  saltum alias salah kostum gitu lho… Untung temanku, Rina saltum juga. Jadi malunya bisa bagi-bagi. Aduh parah juga ya? Tapi enggak apa-apa buat pengalaman, jadi kalau lain waktu mau ikutan GKM harus siap-siap dan menyesuikan kostumnya. heheh….

p9Suasana di madrasah cukup ramai. Peserta yang datang mulai dari anak-anak PAUD, SD, sampai SMP. Pengurus Madrasah itu yaitu Ustadz Ndo dan Ustadz Usep turut hadir. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ustadz Ndo. Lalu dilanjutkan oleh Kang Roni dengan memberikan motivasi mengenai pentingnya membaca buku. Selanjutnya serah terima Al-Qur’an. Games seru  yang dikomandani oleh Teh Ai cukup menyedot semangat peserta. gelak tawa tak terhindarkan. Mendongeng bareng Kang Budi dan Si Sam juga tak kalah serunya. Oiya, perlu diketahui bahwa Si Sam itu bukan manusia, melainka boneka lucu yang setia menemani Kang Budi menyampaikan kisah-kisah inspiratif. Pada kegiatan baca buku bersama sebagai acara puncak , akhirnya aku dan Rina turun tangan menjadi mentor. Aku menemani peserta yang berusia SD, untuk memilih buku dan membagikannya kepada mereka. Anak-anak terlihat sangat bersemangat mengikuti kegiatan ini. Sebelum pulang, kami berdoa dan selfie bareng. Seru sekali aku rasa kegiatan ini. Kami bergembira bersama. Enggak nyesel deh ikutan walaupun harus nanggung malu gara-gara saltum. Dari kegiatan GKM aku banyak mendapat manfaat dan pengalaman baru. Semoga aku bisa kembali menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca. Berbagi tanggung jawab dengan relawan yang lain dalam menyebarkan virus membaca.

Nah teman, itulah pengalaman pertamaku menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca. Duh saltum, alias salah kostum.Malu deh, ah!

Penulis: Dewi (Pengunjung setia TBM AIUEO KOMUNITAS NGEJAH/Siswi SMAN 20 Garut)

KDI Hari Pertama Sekolah

Posted on

Sam.jpgTahun ajaran baru penuh dengan inovasi di dunia pendidikan. Di hari pertama sekolah Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan meluncurkan program #HariPertamaSekolah. Programnya berupa ajakan pada orang tua murid untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah di hari pertama. Antusisasme masyarakat sangat membeludak. Terbukti dari bermunculannya foto-foto orang tua maupun teman-teman saya yang diupdate di media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Instagram. Sebuah dukungan positif yang menurut saya sangat membangun kesadaran para orang tua agar lebih peduli terhadap pendidikan anak. Gerakan #HariPertamaSekolah ini mungkin kecil, tapi menurut saya dampak terhadap psikologi anak sangat besar. Anak akan sangat senang ketika hari pertamanya berangkat kesekolah pergi diantar Ibu atau Ayahnya. Sebuah kebanggaan bisa mengenalkan orang tuanya pada teman-temannya yang lain. Ketika orang tua menatap mereka dari balik kaca ruang kelas.

Sebagai upaya dukungan dan sebuah bentuk kegiatan dibalik pendidikan formal. Melalui Komunitas Ngejah, saya bersama teman-teman saya yang lainnya, mencoba belajar berbagi ruang. Melalui program baru yang diluncurkan diminggu pertema masuk sekolah. Kelas Dongeng Inspiratif (KDI) membuat atmosfer bahagia untuk adik-adik pelajar tingkat PAUD dan Sekolah Dasar di dalam ruang kelas mereka. Selasa, 19 Juli 2016 merupakan hari pertama KDI berlangsung. Saya berdampingan dengan para relawan lainnya menyambangi sebuah sekolah yang berada di Kampung. Puncakawung-Garut. Lokasinya tidak begitu jauh dari Sekretariat Komunitas Ngejah. Sekitar 15 menit ditempuh menggunakan sepeda motor roda dua. Disana kami berjumpa dengan adik-adik Madrasa Ibtidaiah Fahunnajah. Dan ibu-bu guru yang sedang mengajri adik-adik perkenalan berkenalan dengan huruf-hurf Alphabet.

MI Fathunnajah merupakan sekolah yang baru saja berdiri, dengan ruang belajar satu kelas, belum ada ruang kantor ataupun yang lainnya. Cukup sederhana namun bangunnnya sudah permanen. Ruang kelas itu dihuni oleh 16 siswa menjadi peserta KDI sesion 1. Ada senyuman disana, keceriaan juga, ditambah keberanian adik-adik MI Fathunnajah saat berbicara dan berdialog dengan saya serta si Sam (Boneka Tangan). Mereka sudah sangat paham dengan bahasa negaranya sendiri Bahasa Indonesia. Meski awal masuk saya agak sedikit ragu untuk menyampaikan dongeng berbahasa Indonesi. Rupanya kekhawatiran terpatahkan saat saya mencoba berinteraksi melalui nyanyian, mereka cepat paham. Adik-adik MI Fathunnajah sepertinya sudah sangat akrab dengan bahasa pertiwi. Saya pun memilih melanjutkan setiap kalimat dalam Kelas Dongeng Inspiratif menggunakan Bahasa Indonesia. Saya berfikir mungkin ini faktor posotif dari adanya Televisi, meski faktor negatifnya juga tidak kalah banyak.

Pilihan dongeng yang cocok untuk mereka, di hari-hari pertama memasuki mruang kelas adalah Tentang seorang anak dan pohon pengetahuan. Isi dongeng ini berceritakan tentang seorang anak yang rajin sejak kecil. Selalu penasaran dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dia mampu menjadi manusia yang sukses dikemudian hari. KDI kali ini berhasil memukau mereka. Jam kepulanganpun mundur, biasanya jam 10.00 WIB sekarang sedikit lewat, mereka lupa waktu. Merasa senang dengan pertemuan pertamanya dengan si Sam. Satu anak di bangku belakang yang saya tidak tahu siapa namanya sempat berkata.

“Itu mah anu sok aya na TV” maksudnya Si Sam pernah dia lihat di Televisi. Jika biasanya mereka lihat di Televisi, dengan melihatnya langsung bisa menjadi sebuah tontonan menarik dong, saya pun merasa cukup senang bisa mempertemukan mereka dengan boneka tangan yang gayanya so *bisa bicara hehe.

Saya bersama relawan Komunitas Ngejah lainnya berencana membudayakan KDI sebagai alternatif pendidikan formal yang menyasar adik-adik di bangku PAUD serta SD. Semoga kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar sahabat pendidik semua. Ya minimal 1 minggu sekali kami bisa melihat senyuman bertebaran dari mulut mungin mereka.

Sebagai Komuitas Literasi tentunya program KDI ini tidak sebatas Dongeng yang menghibur atapun menginspirasi adik-adik peserta untuk belajar hidup mandiri dan lebih baik. Program ini juga dijadikan sebagai sebuah upaya meningkatkan motivasi adik-adik pelajar dalam bidang membaca dan menulis (baca:literasi).

Doa dari Sahabat Pejuang pendidikan, Sahabat Literasi bisa menjadi suport lo buat gerakan kecil ini.

Oke.. akhirnya saya mau mengajak teman-teman sekalian untuk terus bergerak membuat program-program inovastif untuk membangun atmosfer pendidikan anak yang lebih baik lagi. Keep semangat, dan mari “Belajar Berbagi, Belajar Berkarya, Belajar Bersma”.*** Budi Iskandar

 

Milang Kala Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

milad=milad,

Segala puji bagi Alloh, SWT. Sebuah kebahagiaan tersendiri Komunitas Ngejah masih bisa bernapas sampai usianya yang ke-6. Seperti saung kami yang kecil, gerakan kami pun hanya sebuah langkah kecil, sebuah ikhtiar untuk mencoba memberi warna bagi tumbuh kembang kampung halaman. Sebagaimana fokus rencana gerakan awal, sejauh ini kami masih terus mencoba berupaya melakukan gerakan lewat jalan literasi. Penyediaan layanan membaca dan peminjam buku gratis melalui Taman Baca Aiueo, melakukan Gerakan Kampung Membaca, mendirikan 26 Pojok Baca di kampung-kampung, mengadakan Pelatihan Jurnalistik Pelajar, dan aneka macam kegiatan lainnya. Banyak peristiwa, banyak adegan, banyak tempat yang pernah kami lalui. Seiring perjalanan kami, berbagai lubang kelemahan masih begitu banyak. Itu semua kemudian menjadi tugas kami untuk memperbaikinya. Selain itu, keberadaan kami sampai detik ini tentu saja karena adanya doa dan dukungan dari berbagai pihak. Terlalu banyak dan rasanya tidak mungkin kalau saya tulis satu-satu, karena saya sangat sadar banyak sekali yang mendoakan dan mendukung langkah kecil kami ini, yang pasti tanpa mengurangi rasa hormat, saya mewakili Komunitas Ngejah melalui status ini mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Semoga doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi ladang amal. 

milad-Spesial terimakasih untuk orang tua kami (para relawan) yang mengizinkan anak-anaknya berhimpun dalam gerakan kecil ini, guru-guru kami, sahabat kami, pemerintahan dan masyarakat Desa Sukawangi, para pegiat literasi di republik ini, serta semua orang yang pernah berkunjung dan menyedekahkan ilmu di Saung Komunitas Ngejah. Melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang kami perbuat. Kepada sahabat semua, sudilah kiranya terus mendukung dan mendoakan kami agar gerakan ini mendapat keberkahan. Pada acara Milang Kala Komunitas Ngejah ke-6 yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2016, acara sederhana kami selenggakan. Diantaranya: mendongeng, lomba menggambar dan mewarnai untik SD dan Paud, aneka permainan berhadiah, membaca buku bersama, tadarus alquran, dan potong tempung. Selain itu, momen milang kala  kami jadikan juga sebagai ruang refleksi atas apa yang telah kami lewati.  Bismillah… Bergegas untuk terus memperbaiki diri pada usia ke-7. Kepada kawan-kawan pengurus pun relawan mari kita terus berpegangan tangan, melanjutkan gerakan.***NTA

Ngabuburit Rasa Literasi

Posted on Updated on

ngabuburit rasa literasi0=09.jpgDalam rangka terus menggenjot budaya literasi bagi  masyarakat yang berada di wilayah Singajaya dan sekitarnya, maka Komunitas Ngejah mencoba menghadirkan berbagai mmacam kegiatan, salahsatunya yakni acara Ngabuburit Rasa Literasi. Acara ini kedepannya akan menjadi agenda tahunan yang rutin akan dilaksanakan setiap bulan Ramadhan. Pada tahun ini, sebagai tahun pertama terselenggaranya ajang Ngabuburit Rasa Literasi, sejak 27 Juni sampai 3 Juli 2016, beberapa orang peserta yang terdiri dari pelajar SMP dan SMU serta satu orang ibu rumah tangga, melarutkan diri untuk bersama-sama belajar membuat blog, menulis catatan perjalanan, menulis resensi buku dan mengisi serta mengkreasi mading. Bertindak sebagai  fasilitator kegiatan adalah mereka kawan-kawan relawan Komunitas Ngejah.***NTA

Pojok Baca dan Keberlangsungannya

Posted on Updated on

PB Cipariuk
Budi Iskandar menyerahkan buku untuk menambah koleksi di Pojok Baca Cipariuk

Pojok Baca begitulah saya dan kawan-kawan Komunitas Ngejah memberikan nama untuk satu atau dua rak beserta 150-300 buku yang disimpan di beberapa tempat, seperti posyandu, warung,  madrasah diniyah, pertigaan ojeg dan rumah aktifis kampung. Namun pada perkembangnyanya, ada juga beberapa orang pengelola pojok baca yang kemudian membangun ruang khusus dengan dana swadaya, memindahkan rak dan buku dari tempat asal kami menyimpannya.  Pada mulanya, pendirian Pojok Baca dilakukan sebagai tindaklanjut Gerakan Kampung Membaca yang sudah dirintis sebelumnya. Sejauh ini, kami sudah mendirikan sebanyak 26 Pojok Baca yang tersebar di beberapa kecamatan di Garut bagian selatan (Singajaya, Peundeuy, Banjarwangi, Cisompet dan Cibalong) dan di Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Pendirian Pojok Baca adalah ruang menanam harapan semakin meningkatnya  virus membaca melalui cara membuka akses bacaan di berbagai kampung, khususnya akses bacaan untuk anak-anak dan remaja.

PB Girimukti
Roni Nuroni Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi Bacaan di Pojok Baca Girimukti

Pada perkembangannya Pojok Baca yang kami dirikan ada yang rutin kami kunjungi, satu atau dua bulan, ada juga yang kami kunjungi enam bulan sekali. Sebenarnya, kami ingin mengunjungi Pojok Baca tersebut serta meroling dan menambah bahan bacaannya secara rutin, maksimal satu bulan sekali. Namun banyak hal yang membuat keinginan ini belum bisa terealisasi dengan optimal. Kendala untuk merealisasikan hal ini, salahsatunya terletak pada masih minimnya tambahan bahan bacaan yang kami miliki untuk setiap bulannya. Kebanyakan tambahan yang kami miliki, baik dengan membeli sendiri ataupun bantuan dari berbagai pihak, masih fokus untuk menambah bahan bacaan di Saung Komunitas Ngejah/ Taman Baca AIUEO sebagai pusat gerakan. Diluar itu, karena lokasi Pojok Baca dengan sekretariat Komunitas Ngejah banyak yang jaraknya jauh, maka membutuhkan tenaga dan waktu dari para relawan yang cukup ekstra. Dalam hal ini kami agak sedikit terkendala. Hal yang paling utama  dari kendala merealisasikan keinginan mengunjungi Pojok Baca secara rutin satu bulan sekali tentu saja urusan dana operasional.

PB Cibongas
Budi Iskandar Menyerahkan Buku untuk Menambah Bahan Bacaan di Pojok Baca Cibongas

Namun dengan adanya permaslahan di atas tidak lantas membuat kami berdiam diri. Kami mencoba terus berupaya merawat budaya baca yang sudah mulai tumbuh di lingkungan masyarakat sekitar Pojok Baca yang sudah ada dengan berbagai cara, seperti: mengunjungi dan menambah bahan bacaan walapun tidak rutin satu bulan sekali, kembali menggelar Gerakan Kampung Membaca di Kampung yang sudah memiliki Pojok Baca, serta berkomunikasi melalui telepon atau pesan singkat dengan pengelola Pojok Baca ihwal perkembangan aktivitas membaca di Pojok Baca masing-masing.

PB Babakanlalay
Ruli Lesmana Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi di Pojok Baca Babakanlalay

Tentang minimnya dana operasional, ini karena kami belum memiliki usaha ekonomi yang kuat dalam menopang gerakan. Oleh karena itu, sejauh ini kami masih mendanai seluruh kegiatan dengan dana swadaya pengurus atau hadiah lomba atau uang pembinaan dari beberapa penghargaan yang kami terima. Kalaupun ada donasi, itu tidak lebih dari 5%. Karena sampai detik ini kami tidak membuka ruang donasi secara terbuka. Donasi uang yang kami terima, itu datang dari beberapa kawan saja yang sengaja menghubungi kami dan menawarkan membantu. Bukan kami yang menghubunginya. Guna mengatasi masalah dana operasional, salahsatu siasat yang tengah kami lakukan adalah dengan jualan kaos Gerakan Kampung Membaca. Keuntungannya kemudian kami gunakan untuk mendanai gerakan.

PB Sundabakti
Roni Nuroni Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi  Bahan Bacaan di Pojok Baca SundaBakti

Jika kami sudah lama tidak mengadakan silaturahmi ke Pojok Baca, kami kerap kali waswas takut Pojok Baca tersebut mati, bukunya dikilo lalu dijual dan raknya diterlantarkan atau dibuat jemuran. Oleh sebab itu, maka pada awal Ramadhan kami membuat target melakukan silaturahmi untuk menambah bahan bacaan minimal untuk 50% Pojok Baca. Setelah itu, disusunlah jadwal waktu kunjungan. Adalah Budi Iskandar, Roni Nuroni dan Ruli Lesmana yang kemudian bergerak mengunjungi pojok baca yang sudah masuk dalam list target kunjungan. Dari laporan ketiga pengurus sekaligus relawan yang melakukan kunjungan, dari 14 Pojok Baca yang dikunjungi, ternyata ada satu Pojok Baca yang sudah kurang efektif. Hal ini karena berbagai permasalahan. Namun, pihak pengelola masih ada niat untuk kemudian membenahinya dan bersama-sama melanjutkan gerakan menyebar virus membaca. Sementara 13 Pojok Baca lainnya menunjukan perkembangan, meski tidak semuanya signifikan.

PB.
Budi Iskandar Berfoto di Tengah Perjalanan Menuju Pojok Baca Babakanlalay

Terlepas dari hasil kunjungan, ada beberapa hal yang cukup menggembirakan melihat keberlangsungan Pojok Baca yang sudah kami dirikan. Bebeberapa diantaranya yaitu: (1) Adanya pengelola Pojok Baca yang berkunjung ke saung Komunitas Ngejah, bersilaturahmi dan meminta atau mengganti bahan bacan baru. (2) Adanya pengelola Pojok Baca yang rela mengeluarkan kocek sendiri membuat ruang khusus dan memindahkan rak beserta buku dari tempat asal kami menyimpannya. (3) Adanya pengelola Pojok Baca yang menambah bahan bacaan dengan usaha sendiri. (4) Adanya pengelola Pojok Baca yang membuat nadoman untuk bahan pembelajaran bagi santrinya dengan sumber bahan utama dari buku yang kami simpan di Pojok Baca. (5) Adanya perwakilan masyarakat yang datang ke saung meminta kami untuk mendirikan Pojok Baca di kampungnya setelah melihat Pojok Baca di kampung/desa tetangganya. (6) Adanya Pengelola Pojok Baca yang kemudian beencana bekerjasama dengan Komunitas Ngejah untuk membangun lembaga pendidikan lainnya, seperti mendirikan PAUD. Selain poin-poin di atas masih banyak kebahagiaan lain yang kami rasakan dengan mendirikan Pojok Baca. Yang utama tentu saja adalah karena menambah ruang silaturahmi. Bagi kami, mendirikan Pojok Baca adalah menanam harapan semakin menyebarnya virus membaca dan virus kerelawan untuk sama-sama bergerak meningkatkan budaya baca di republik ini. Urusan hasil itu tidak begitu kami permasalahkan, yang penting terus berusaha.** NTA