Latest Event Updates

Hadiah GRCC 2016

Posted on Updated on

IMG_3100.jpg“Jauh benget” ujar salahseorang tim Gramedia saat turun dari mobil, tepat di halaman depan Saung Komunitas Ngejah. Kedatangan tim Gramedia, Kamis (1/9)  yang terdiri dari 8 orang, tak lain yaitu untuk menyerahkan buku sebagai hadiah Juara 1 sekaligus Juara favorit Gramedia Reading Community Competition 2016. Tim Gramedia mengaku berangkat dari Jakarta jam 10 siang, Rabu (31/8). Karena mereka butuh istirahat, sementara di lokasi sekitar Komunitas Ngejah tidak ada penginapan, mereka memilih untuk beristirahat di Pantai Santolo Pameungpeuk. “Jalan ke sini kulak-kelok ya. Kecil lagi” Imbuh salahseorang tim Gramedia lainnya, yang kemudian diketahui bernama, Yosef Adityo, Corporate Secretary General Manager Gramedia. Setelah sampai mereka langsung masuk ke dalam ruangan tempat menyimpan koleksi buku Komunitas Ngejah. Ketika ia melihat beberapa tropi yang ada, Yosef sempat melemparkan pernyataan sekaligus pertanyaan. “Banyak juga ya tropinya. Oh pernah dapat Nugra Jasadarma Pustaloka juga ya?”

Merasa puas melihat koleksi buku, dokumentasi kegiatan dan juga bercakap ihwal awal mula kegiatan serta tujuan berdirinya Komunitas Ngejah. Tim Gramedia memilih untuk bercakap santai di saung sembari menikmati semilir angin, menyaksikan gerak daun bambu dan lalulalang orang-orang. Tak lama kemudian, Yosep mewakili tim gramedia menyerahkan 10 dus buku kepada Presiden Komunitas Ngejah, Opik. Lebih lanjut, melalui percakapan singkat, ia memberikan apresiasi serta berharap bahwa gerakan Komunitas Ngejah terus berlangsung. “Ini keren, kawan-kawan Komunitas Ngejah berjuang untuk menghadirkan semangat membaca di wilayah pelosok. Melalui GRCC 2016, kami jadi tahu gerakan-gerakan di pelosok. Dan kami bisa memberikan bantuan buku kepada komunitas yang tepat” Di tengah-tengah percakapan Yosef juga sempat memotivasi para pelajar, pengunjung Saung Komunitas Ngejah untuk terus semangat membaca dan belajar menulis. Azas Rifai sebagai Ketua Pelaksana, menyatakan bahwa GRCC 2016 merupakan usaha menjalin kerjasama antara pihak Gramedia dengan Komunitas Baca, dalam rangka membantu pemerintah meningkatkan budaya baca masyarakat Indonesia. “Kalau budaya membacanya sudah tinggi, mudah-mudahan gerbang kesejahteraannya juga terbuka” Imbuhnya. Adapun hadiah buku, menurut Azas akan diserahkan secara berkala, setiap tiga bulan sekali selama satu tahun penuh.

IMG_3132.jpgMenerima hadiah ini, relawan Komunitas Ngejah sangat bergembira. “Wah bisa nambah Pojok Baca lagi, dong” Ujar Budi Iskandar saat menurunkan dus demi dus buku dari mobil. “Siap!” Jawab Roni Nuroni, dengan wajah sumringahnya. Pernyataan Budi dan Roni, kemudian diiyakan oleh Iwan, Atif, Aie, Ruli dan beberapa orang relawan Komunitas Ngejah yang sama-sama menghadiri penyerahan buku tersebut. Selain itu, tentu saja buku-buku tesebut akan disebar ke Pojok Baca yang sudah ada, menjadi amunisi Gerakan Kampung Membaca dan menambah koleksi bacaan TBM AIUEO-Komunitas Ngejah.

Sebelum berpamitan, tim Gramedia beserta seluruh relawan menyempatkan berfoto bersama di halaman Saung Komunitas Ngejah. Semoga berkah*** NTA

Komunitas Ngejah pada GRCC 2016

Posted on Updated on

IMG_8968IMG_8942IMG_8970IMG_8979-.jpgDari total 815 komunitas yang terdaftar, 120 komunitas dinyatakan lolos pada penjurian tahap seleksi esai Gramedia Reading Community Competition. Kemudian panitia melakukan penjaringan untuk menenetukan 50 besar yang dibagi ke dalam 5 wilayah, masing-masing 10 komunitas. Tahap selanjutnya adalah voting video para finalis yang ditampilkan di YouTube. Adapun pelaksanaan voting video dimulai dari 20 Juli sampai 3 Agustus 2016 pukul 00.01 WIB.

Pada event ini, Komunitas Ngejah termasuk kelompok Regional Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Pengumuman pemenang  dilaksanakan di Perpustakaan Nasional R.I. Salemba, pada hari Sabtu (27/8). Adapun hasilnya adalah sebagi berikut:

  1. Komunitas Ngejah dari Garut sebagai Juara 1 dan Favorit
  2. Warung Baca Mata Air dari Tangerang Selatan sebagai Juara 2
  3. Taman Ceria dari Jatibening sebagai Juara 3

Selain hiburan seperti penampilan tari tradisional dan musik, acara ini diisi oleh Bapak Anies Baswedan dan Ibu Butet Manurung yang sengaja diundang untuk berbagi motivasi, inspirasi, dan pengalaman dalam memajukan dunia literasi di Indonesia.

Atas keberhasilan ini, Komunitas Ngejah mengucapkan terimakasih, puji syukur kepada Alloh SWT. Pun kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung gerakan kami. ***NTA

 

Gapura Kemerdekaan

Posted on Updated on

gapura-1.jpg
RW Citeureup Juara 1 Gapura Kemerdekaan Desa Sukawangi

Selain umbul-umbul dan bendera merah putih, gapura sebagai tanda pernyataan hormat untuk sebuah peristiwa besar, berdiri di setiap pintu gerbang atau perbatasan antar RW di Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Peristiwa besar apa gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah peristiwa kemerdekaan. Ya, sejak tanggal 1 Agustus, warga masyarakat masing-masing RW bahu-membahu mendirikan Gapura Kemerdekaan. Warna merah putih mendominasi. Tulisan “HUT RI Ke 71” beserta identitas masing-masing RW terpampang pada gapura. Kreativitas masyarakat terlihat pada masing-masing gapura. Ditilik dari bahan, hampir semua RW memilih mengunakan sebagian besar bahan baku dari bambu.  Rupanya, Gapura Kemerdekaan ini menjadi salahsatu mata lomba dalam rangkaian Gebyar Kemerdekaan HUT RI Ke 71. Tiga hari sebelum menginjak tanggal 17 Agustus, Gapura Kemerdekaan sudah rampung dikerjakan oleh setiap RW. Spekulasi mengenai pemenang lomba sudah menjadi obrolan warung kopi. Saat malam Panggung Kemerdekaan digelar, panitia mengumumkan RW mana saja yang beruntung menyabet gelar juara. Warga masyarakat yang tampak memenuhi area sekitar panggung yang didirikan di jalan utama Desa Sukawangi, mulai hening. Konsentrasi, menyimak Roni Nuroni sang pembawa acara mengumumkan hasil kejuaraan.

“Hadirin yang saya hormati, inilah hasil kejuaraa Lomba Gapura Kemerdekaan” lantang sura Roni sang MC Panggung Kemerdekaan malam itu, diikuti oleh musik drum yang ditabuh oleh salahseorang personil GSP asuhan Agus Awaludin. “Juara ke-tiga diraih oleh RW Puncakkawung” gemuruh tepuk tangan hadirin mengikuti pengumuman. “Juara ke-dua diraih oleh RW Sukawangi” tepuk tangan makin bergemuruh. “Dan juara pertama adalah…” sebelum Roni menyebutkan nama RW yang menyandang juara pertama. Para penonton sudah berteriak lebih dulu “Citeureup” Dan benar saja apa yang disebutkan oleh para penonton. Roni sebagai MC menyebut nama RW Citeureup sebagai pemenang Lomba Gapura Kemerdekaan HUT RI Ke-71 di Desa Sukawangi. Selain menerima piagam dan tropi, para pemenang berhak atas uang pembinaan, secara berurutan, 1.500.000, 1.000.000, dan 500.000. Hendar sebagai koordinator lomba, berharap pembuatan gapura akan menjadi tradisi masyarakat dalam rangka menyongsong HUT RI, meski tidak dalam bentuk lomba. Hal ini kemudian diamini oleh Hadiansyah, selaku Kepala Desa Sukawangi***NTA

Karnaval Kemerdekaan di Desa Sukawangi

Posted on Updated on

MP.jpgKarnaval Kemerdekaan begitulah panitia kegiatan mengusung nama kegiatan untuk acara karnaval yang dilaksanakan dalam rangka peringatan HUT RI Ke 71 di Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. 200 x 3 m kain merah putih dibentang dan diarak dari pusat Desa Sukawangi menuju perbatasan antara Desa Sukawangi dengan Desa Cigintung. Menurut Asep Ahmad Yusuf, koordinator kegiatan, jumlah peserta kegiatan tidak kurang dari 1.000 orang. Faktanya, hampir seluruh pelajar yang berasal dari SD sampai SMA yang ada di desa tersebut, larut dalam kegiatan. Selain itu masyarakat perwakilan masing-masing ke-RT-an juga terlibat menjadi bagian dari Karnaval Kemerdekaan. Tentu saja, karnaval ini bukan semata-mata karnaval, melainkan membawa misi tersendiri yakni dalam rangka memperkuat rasa nasionalisme. Selain kain merah putih, araka-arakan yang terdiri dari jampana, orang-orangan, tabuh-tabuhan, bahkan ada yang sengaja membuat tank waja selayaknya tank waja sungguhan, ikut meramaikan karnaval kemerdekaan kali ini.

MD.jpg

Pada karnaval ini, hadir juga sebuah tandu yang menganggkut Mang Dohir. Mang Dohir merupakan Hansip sekaligus RT teladan yang mendarmabaktikan dirinya demi kemajuan desa. Saya secara pribadi, terkenang saat saya SD. Ketika agustusan tiba, beliau selalu tampil kemuka. Meski tanpa orasi yang berapi-api, tapi sungguh membuat saya terpukau. Beliau selalu tampil ke depan, membawa jampana dengan hasil bumi yang beliau tanam dengan tangan sendiri. Segala kesederhanaannya adalah kemewahan yang kini mulai langka. Pada hari ulang tahun RI yang ke 71, kami sepakat untuk menandunya dalam kegiatan karnaval. Ini sebagai simbol penghormatan warga Desa Sukawangi Singajaya kepada beliau. Selain itu, Pemerintahan Desa Sukawnagi memberikan sebuah piagam penghargaan kepada beliau sebagai Hansip Teladan. “Supados janten conto kanggo masyarakat nu sanes, janten Pamarentah Desa masihan piagam penghargaan kanggo anjeuna sebagai Hansip Teladan. Ngabangunteh seueur jenisna, tah anu dilakukeun ku Mang Dohir oge, sami etateh ngabangun” Begitu utu Kepala Desa selepas memberikan piagam penghargaan.

MP--
“Kumaha ieu kagiatanteh, tahun payun ayakeun deui?”  sebuah lontaran pertanyaan sengaja dilempar kepada masyarakat oleh Kepala Desa Sukawangi pada saat memberikan sambutan. Dengan serempak, masyarakat menjawab “Ayakeun…” diikuti oleh riuh tepuk tangan. Dengan demikian, maka Pemerintah Desa Sukawangi serta seluruh masyarakat berencana akan menjadikan kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan. “Tahun payun, insyaa Alloh kaen merah putihna ditambihan deui 100 m. Karnaval ieu berlangsung tos nembe 2 tahun, janten nembe 200 m” tutur Hadiansyah. Selain Karnaval Kemerdekaan, beberapa kegaiatan lainnya yang digelar adalah Liga Sepakbola Kemerdekaan antar RWA, Lomba Gapura antar RW, Catur Lomba (Baca Puisi, Tahfidz, MTQ, Pidato) antar MDA. Adapun seluruh anggaran kegiatan tersebut, murni patungan masyarakat dan pemerintahan desa, ditambah sebagian kecil dari beberapa sponsor perorangan. Sementara kepanitiaan dibentuk dari berbagai elemen yang ada di Desa Sukawangi*** NTA

 

Saltum dan GKM

Posted on

p---Namaku Dewi, siswi SMAN 20 Garut. Beberapa bulan terakhir aku menjadi pengunjung setia TBM aiueo Komunitas Ngejah. Mambaca dan meminjam buku di sana. Aku berkunjung biasanya pada hari Minggu atau selapas pulang sekolah. Biasanya aku membaca dan meminjam novel. Banyak novel-novel bagus dan baru lho. Nah, kebetulan pada hari Minggu, 31 Juli 2016, aku pun berkunjung kembali. Tujuan kunjungan waktu itu untuk baca-baca buku sekalian memperpanjang buku. Aku berangkat bersama Rina, teman satu sekolah. Sesampainya di Komunitas Ngejah, kita dikasih tahu oleh Kang Budi sama Kang Ruli bahwa hari itu akan ada kegiatan GKM atau Gerakan Kampung Membaca. Sudah lama aku mengetahui kegiatan ini. Namun belum ada kesempatan untuk ikut dalam kegiatan.

p-0Sebetulnya aku agak ragu-ragu untuk ikut karena takut disuruh tamil di depan untuk bicara. Waktu aku sampaikan alasan keragu-raguanku ikut, Kang Budi bilang, katanya aku sama Rina hanya disuruh ngeliatin aja dulu nanti buat catatan kegiatannya, ya seperti ini.  Aku sama Rina lirik-lirikan, Kang Budi malah nyanyi lirikan matamu… Engga hafal lagi aku lagu dangdut, ok sudah cukup…hehe. Seperti yang aku tulis di atas, bahwa kunjunganku ke Komunitas Ngejah tadinya hanya mau baca dan memperpanjang peminjaman. Jadi aku enggak ada persiapan sama sekali. Tapi enggak apa-apalah. Itung-itung mencari pengalaman jadi relawan. Cie…cie… relawan.  Akhirnya kita memutuskan ikut kegiatan. Lumayan, minimal biar enggak jenuh. Dibanding melongo tidak karuan di rumah, kan mending jadi relawan Gerakan Kampung Membaca, walapun baru ikut-ikutan.

Kami pun berangkat. Kegiatan dimulai dari pukul 14.00. Kegiatan GKM kali ini dilaksanakan di sebuah madrasah yang berlokasi di Kampung Sindangsari RT 03 RW 01 Desa Sukawangi Kec.Singajaya Kab.Garut. Setelah sampai di tempat kegiatan aku sedikit kaget, karena apa? Ya karena pakaianku yang serasa tidak sesuai dengan tempatnya. Oalah aku memakai celana jeans, sementara kegiatan bertempat di sebuah Madrasah.Anak-anak yang menjadi peserta secara umum mereka pakai sarung dan samping atau rok. Aduh malunya aku waktu itu,  saltum alias salah kostum gitu lho… Untung temanku, Rina saltum juga. Jadi malunya bisa bagi-bagi. Aduh parah juga ya? Tapi enggak apa-apa buat pengalaman, jadi kalau lain waktu mau ikutan GKM harus siap-siap dan menyesuikan kostumnya. heheh….

p9Suasana di madrasah cukup ramai. Peserta yang datang mulai dari anak-anak PAUD, SD, sampai SMP. Pengurus Madrasah itu yaitu Ustadz Ndo dan Ustadz Usep turut hadir. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ustadz Ndo. Lalu dilanjutkan oleh Kang Roni dengan memberikan motivasi mengenai pentingnya membaca buku. Selanjutnya serah terima Al-Qur’an. Games seru  yang dikomandani oleh Teh Ai cukup menyedot semangat peserta. gelak tawa tak terhindarkan. Mendongeng bareng Kang Budi dan Si Sam juga tak kalah serunya. Oiya, perlu diketahui bahwa Si Sam itu bukan manusia, melainka boneka lucu yang setia menemani Kang Budi menyampaikan kisah-kisah inspiratif. Pada kegiatan baca buku bersama sebagai acara puncak , akhirnya aku dan Rina turun tangan menjadi mentor. Aku menemani peserta yang berusia SD, untuk memilih buku dan membagikannya kepada mereka. Anak-anak terlihat sangat bersemangat mengikuti kegiatan ini. Sebelum pulang, kami berdoa dan selfie bareng. Seru sekali aku rasa kegiatan ini. Kami bergembira bersama. Enggak nyesel deh ikutan walaupun harus nanggung malu gara-gara saltum. Dari kegiatan GKM aku banyak mendapat manfaat dan pengalaman baru. Semoga aku bisa kembali menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca. Berbagi tanggung jawab dengan relawan yang lain dalam menyebarkan virus membaca.

Nah teman, itulah pengalaman pertamaku menjadi relawan Gerakan Kampung Membaca. Duh saltum, alias salah kostum.Malu deh, ah!

Penulis: Dewi (Pengunjung setia TBM AIUEO KOMUNITAS NGEJAH/Siswi SMAN 20 Garut)

KDI Hari Pertama Sekolah

Posted on

Sam.jpgTahun ajaran baru penuh dengan inovasi di dunia pendidikan. Di hari pertama sekolah Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan meluncurkan program #HariPertamaSekolah. Programnya berupa ajakan pada orang tua murid untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah di hari pertama. Antusisasme masyarakat sangat membeludak. Terbukti dari bermunculannya foto-foto orang tua maupun teman-teman saya yang diupdate di media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Instagram. Sebuah dukungan positif yang menurut saya sangat membangun kesadaran para orang tua agar lebih peduli terhadap pendidikan anak. Gerakan #HariPertamaSekolah ini mungkin kecil, tapi menurut saya dampak terhadap psikologi anak sangat besar. Anak akan sangat senang ketika hari pertamanya berangkat kesekolah pergi diantar Ibu atau Ayahnya. Sebuah kebanggaan bisa mengenalkan orang tuanya pada teman-temannya yang lain. Ketika orang tua menatap mereka dari balik kaca ruang kelas.

Sebagai upaya dukungan dan sebuah bentuk kegiatan dibalik pendidikan formal. Melalui Komunitas Ngejah, saya bersama teman-teman saya yang lainnya, mencoba belajar berbagi ruang. Melalui program baru yang diluncurkan diminggu pertema masuk sekolah. Kelas Dongeng Inspiratif (KDI) membuat atmosfer bahagia untuk adik-adik pelajar tingkat PAUD dan Sekolah Dasar di dalam ruang kelas mereka. Selasa, 19 Juli 2016 merupakan hari pertama KDI berlangsung. Saya berdampingan dengan para relawan lainnya menyambangi sebuah sekolah yang berada di Kampung. Puncakawung-Garut. Lokasinya tidak begitu jauh dari Sekretariat Komunitas Ngejah. Sekitar 15 menit ditempuh menggunakan sepeda motor roda dua. Disana kami berjumpa dengan adik-adik Madrasa Ibtidaiah Fahunnajah. Dan ibu-bu guru yang sedang mengajri adik-adik perkenalan berkenalan dengan huruf-hurf Alphabet.

MI Fathunnajah merupakan sekolah yang baru saja berdiri, dengan ruang belajar satu kelas, belum ada ruang kantor ataupun yang lainnya. Cukup sederhana namun bangunnnya sudah permanen. Ruang kelas itu dihuni oleh 16 siswa menjadi peserta KDI sesion 1. Ada senyuman disana, keceriaan juga, ditambah keberanian adik-adik MI Fathunnajah saat berbicara dan berdialog dengan saya serta si Sam (Boneka Tangan). Mereka sudah sangat paham dengan bahasa negaranya sendiri Bahasa Indonesia. Meski awal masuk saya agak sedikit ragu untuk menyampaikan dongeng berbahasa Indonesi. Rupanya kekhawatiran terpatahkan saat saya mencoba berinteraksi melalui nyanyian, mereka cepat paham. Adik-adik MI Fathunnajah sepertinya sudah sangat akrab dengan bahasa pertiwi. Saya pun memilih melanjutkan setiap kalimat dalam Kelas Dongeng Inspiratif menggunakan Bahasa Indonesia. Saya berfikir mungkin ini faktor posotif dari adanya Televisi, meski faktor negatifnya juga tidak kalah banyak.

Pilihan dongeng yang cocok untuk mereka, di hari-hari pertama memasuki mruang kelas adalah Tentang seorang anak dan pohon pengetahuan. Isi dongeng ini berceritakan tentang seorang anak yang rajin sejak kecil. Selalu penasaran dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dia mampu menjadi manusia yang sukses dikemudian hari. KDI kali ini berhasil memukau mereka. Jam kepulanganpun mundur, biasanya jam 10.00 WIB sekarang sedikit lewat, mereka lupa waktu. Merasa senang dengan pertemuan pertamanya dengan si Sam. Satu anak di bangku belakang yang saya tidak tahu siapa namanya sempat berkata.

“Itu mah anu sok aya na TV” maksudnya Si Sam pernah dia lihat di Televisi. Jika biasanya mereka lihat di Televisi, dengan melihatnya langsung bisa menjadi sebuah tontonan menarik dong, saya pun merasa cukup senang bisa mempertemukan mereka dengan boneka tangan yang gayanya so *bisa bicara hehe.

Saya bersama relawan Komunitas Ngejah lainnya berencana membudayakan KDI sebagai alternatif pendidikan formal yang menyasar adik-adik di bangku PAUD serta SD. Semoga kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar sahabat pendidik semua. Ya minimal 1 minggu sekali kami bisa melihat senyuman bertebaran dari mulut mungin mereka.

Sebagai Komuitas Literasi tentunya program KDI ini tidak sebatas Dongeng yang menghibur atapun menginspirasi adik-adik peserta untuk belajar hidup mandiri dan lebih baik. Program ini juga dijadikan sebagai sebuah upaya meningkatkan motivasi adik-adik pelajar dalam bidang membaca dan menulis (baca:literasi).

Doa dari Sahabat Pejuang pendidikan, Sahabat Literasi bisa menjadi suport lo buat gerakan kecil ini.

Oke.. akhirnya saya mau mengajak teman-teman sekalian untuk terus bergerak membuat program-program inovastif untuk membangun atmosfer pendidikan anak yang lebih baik lagi. Keep semangat, dan mari “Belajar Berbagi, Belajar Berkarya, Belajar Bersma”.*** Budi Iskandar

 

Milang Kala Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

milad=milad,

Segala puji bagi Alloh, SWT. Sebuah kebahagiaan tersendiri Komunitas Ngejah masih bisa bernapas sampai usianya yang ke-6. Seperti saung kami yang kecil, gerakan kami pun hanya sebuah langkah kecil, sebuah ikhtiar untuk mencoba memberi warna bagi tumbuh kembang kampung halaman. Sebagaimana fokus rencana gerakan awal, sejauh ini kami masih terus mencoba berupaya melakukan gerakan lewat jalan literasi. Penyediaan layanan membaca dan peminjam buku gratis melalui Taman Baca Aiueo, melakukan Gerakan Kampung Membaca, mendirikan 26 Pojok Baca di kampung-kampung, mengadakan Pelatihan Jurnalistik Pelajar, dan aneka macam kegiatan lainnya. Banyak peristiwa, banyak adegan, banyak tempat yang pernah kami lalui. Seiring perjalanan kami, berbagai lubang kelemahan masih begitu banyak. Itu semua kemudian menjadi tugas kami untuk memperbaikinya. Selain itu, keberadaan kami sampai detik ini tentu saja karena adanya doa dan dukungan dari berbagai pihak. Terlalu banyak dan rasanya tidak mungkin kalau saya tulis satu-satu, karena saya sangat sadar banyak sekali yang mendoakan dan mendukung langkah kecil kami ini, yang pasti tanpa mengurangi rasa hormat, saya mewakili Komunitas Ngejah melalui status ini mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Semoga doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi ladang amal. 

milad-Spesial terimakasih untuk orang tua kami (para relawan) yang mengizinkan anak-anaknya berhimpun dalam gerakan kecil ini, guru-guru kami, sahabat kami, pemerintahan dan masyarakat Desa Sukawangi, para pegiat literasi di republik ini, serta semua orang yang pernah berkunjung dan menyedekahkan ilmu di Saung Komunitas Ngejah. Melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang kami perbuat. Kepada sahabat semua, sudilah kiranya terus mendukung dan mendoakan kami agar gerakan ini mendapat keberkahan. Pada acara Milang Kala Komunitas Ngejah ke-6 yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2016, acara sederhana kami selenggakan. Diantaranya: mendongeng, lomba menggambar dan mewarnai untik SD dan Paud, aneka permainan berhadiah, membaca buku bersama, tadarus alquran, dan potong tempung. Selain itu, momen milang kala  kami jadikan juga sebagai ruang refleksi atas apa yang telah kami lewati.  Bismillah… Bergegas untuk terus memperbaiki diri pada usia ke-7. Kepada kawan-kawan pengurus pun relawan mari kita terus berpegangan tangan, melanjutkan gerakan.***NTA