Latest Event Updates

KDI Hari Pertama Sekolah

Posted on

Sam.jpgTahun ajaran baru penuh dengan inovasi di dunia pendidikan. Di hari pertama sekolah Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan meluncurkan program #HariPertamaSekolah. Programnya berupa ajakan pada orang tua murid untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah di hari pertama. Antusisasme masyarakat sangat membeludak. Terbukti dari bermunculannya foto-foto orang tua maupun teman-teman saya yang diupdate di media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Instagram. Sebuah dukungan positif yang menurut saya sangat membangun kesadaran para orang tua agar lebih peduli terhadap pendidikan anak. Gerakan #HariPertamaSekolah ini mungkin kecil, tapi menurut saya dampak terhadap psikologi anak sangat besar. Anak akan sangat senang ketika hari pertamanya berangkat kesekolah pergi diantar Ibu atau Ayahnya. Sebuah kebanggaan bisa mengenalkan orang tuanya pada teman-temannya yang lain. Ketika orang tua menatap mereka dari balik kaca ruang kelas.

Sebagai upaya dukungan dan sebuah bentuk kegiatan dibalik pendidikan formal. Melalui Komunitas Ngejah, saya bersama teman-teman saya yang lainnya, mencoba belajar berbagi ruang. Melalui program baru yang diluncurkan diminggu pertema masuk sekolah. Kelas Dongeng Inspiratif (KDI) membuat atmosfer bahagia untuk adik-adik pelajar tingkat PAUD dan Sekolah Dasar di dalam ruang kelas mereka. Selasa, 19 Juli 2016 merupakan hari pertama KDI berlangsung. Saya berdampingan dengan para relawan lainnya menyambangi sebuah sekolah yang berada di Kampung. Puncakawung-Garut. Lokasinya tidak begitu jauh dari Sekretariat Komunitas Ngejah. Sekitar 15 menit ditempuh menggunakan sepeda motor roda dua. Disana kami berjumpa dengan adik-adik Madrasa Ibtidaiah Fahunnajah. Dan ibu-bu guru yang sedang mengajri adik-adik perkenalan berkenalan dengan huruf-hurf Alphabet.

MI Fathunnajah merupakan sekolah yang baru saja berdiri, dengan ruang belajar satu kelas, belum ada ruang kantor ataupun yang lainnya. Cukup sederhana namun bangunnnya sudah permanen. Ruang kelas itu dihuni oleh 16 siswa menjadi peserta KDI sesion 1. Ada senyuman disana, keceriaan juga, ditambah keberanian adik-adik MI Fathunnajah saat berbicara dan berdialog dengan saya serta si Sam (Boneka Tangan). Mereka sudah sangat paham dengan bahasa negaranya sendiri Bahasa Indonesia. Meski awal masuk saya agak sedikit ragu untuk menyampaikan dongeng berbahasa Indonesi. Rupanya kekhawatiran terpatahkan saat saya mencoba berinteraksi melalui nyanyian, mereka cepat paham. Adik-adik MI Fathunnajah sepertinya sudah sangat akrab dengan bahasa pertiwi. Saya pun memilih melanjutkan setiap kalimat dalam Kelas Dongeng Inspiratif menggunakan Bahasa Indonesia. Saya berfikir mungkin ini faktor posotif dari adanya Televisi, meski faktor negatifnya juga tidak kalah banyak.

Pilihan dongeng yang cocok untuk mereka, di hari-hari pertama memasuki mruang kelas adalah Tentang seorang anak dan pohon pengetahuan. Isi dongeng ini berceritakan tentang seorang anak yang rajin sejak kecil. Selalu penasaran dengan ilmu pengetahuan. Sehingga dia mampu menjadi manusia yang sukses dikemudian hari. KDI kali ini berhasil memukau mereka. Jam kepulanganpun mundur, biasanya jam 10.00 WIB sekarang sedikit lewat, mereka lupa waktu. Merasa senang dengan pertemuan pertamanya dengan si Sam. Satu anak di bangku belakang yang saya tidak tahu siapa namanya sempat berkata.

“Itu mah anu sok aya na TV” maksudnya Si Sam pernah dia lihat di Televisi. Jika biasanya mereka lihat di Televisi, dengan melihatnya langsung bisa menjadi sebuah tontonan menarik dong, saya pun merasa cukup senang bisa mempertemukan mereka dengan boneka tangan yang gayanya so *bisa bicara hehe.

Saya bersama relawan Komunitas Ngejah lainnya berencana membudayakan KDI sebagai alternatif pendidikan formal yang menyasar adik-adik di bangku PAUD serta SD. Semoga kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar sahabat pendidik semua. Ya minimal 1 minggu sekali kami bisa melihat senyuman bertebaran dari mulut mungin mereka.

Sebagai Komuitas Literasi tentunya program KDI ini tidak sebatas Dongeng yang menghibur atapun menginspirasi adik-adik peserta untuk belajar hidup mandiri dan lebih baik. Program ini juga dijadikan sebagai sebuah upaya meningkatkan motivasi adik-adik pelajar dalam bidang membaca dan menulis (baca:literasi).

Doa dari Sahabat Pejuang pendidikan, Sahabat Literasi bisa menjadi suport lo buat gerakan kecil ini.

Oke.. akhirnya saya mau mengajak teman-teman sekalian untuk terus bergerak membuat program-program inovastif untuk membangun atmosfer pendidikan anak yang lebih baik lagi. Keep semangat, dan mari “Belajar Berbagi, Belajar Berkarya, Belajar Bersma”.*** Budi Iskandar

 

Milang Kala Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

milad=milad,

Segala puji bagi Alloh, SWT. Sebuah kebahagiaan tersendiri Komunitas Ngejah masih bisa bernapas sampai usianya yang ke-6. Seperti saung kami yang kecil, gerakan kami pun hanya sebuah langkah kecil, sebuah ikhtiar untuk mencoba memberi warna bagi tumbuh kembang kampung halaman. Sebagaimana fokus rencana gerakan awal, sejauh ini kami masih terus mencoba berupaya melakukan gerakan lewat jalan literasi. Penyediaan layanan membaca dan peminjam buku gratis melalui Taman Baca Aiueo, melakukan Gerakan Kampung Membaca, mendirikan 26 Pojok Baca di kampung-kampung, mengadakan Pelatihan Jurnalistik Pelajar, dan aneka macam kegiatan lainnya. Banyak peristiwa, banyak adegan, banyak tempat yang pernah kami lalui. Seiring perjalanan kami, berbagai lubang kelemahan masih begitu banyak. Itu semua kemudian menjadi tugas kami untuk memperbaikinya. Selain itu, keberadaan kami sampai detik ini tentu saja karena adanya doa dan dukungan dari berbagai pihak. Terlalu banyak dan rasanya tidak mungkin kalau saya tulis satu-satu, karena saya sangat sadar banyak sekali yang mendoakan dan mendukung langkah kecil kami ini, yang pasti tanpa mengurangi rasa hormat, saya mewakili Komunitas Ngejah melalui status ini mengucapkan terimakasih kepada semuanya. Semoga doa dan dukungan dari berbagai pihak menjadi ladang amal. 

milad-Spesial terimakasih untuk orang tua kami (para relawan) yang mengizinkan anak-anaknya berhimpun dalam gerakan kecil ini, guru-guru kami, sahabat kami, pemerintahan dan masyarakat Desa Sukawangi, para pegiat literasi di republik ini, serta semua orang yang pernah berkunjung dan menyedekahkan ilmu di Saung Komunitas Ngejah. Melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang kami perbuat. Kepada sahabat semua, sudilah kiranya terus mendukung dan mendoakan kami agar gerakan ini mendapat keberkahan. Pada acara Milang Kala Komunitas Ngejah ke-6 yang dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2016, acara sederhana kami selenggakan. Diantaranya: mendongeng, lomba menggambar dan mewarnai untik SD dan Paud, aneka permainan berhadiah, membaca buku bersama, tadarus alquran, dan potong tempung. Selain itu, momen milang kala  kami jadikan juga sebagai ruang refleksi atas apa yang telah kami lewati.  Bismillah… Bergegas untuk terus memperbaiki diri pada usia ke-7. Kepada kawan-kawan pengurus pun relawan mari kita terus berpegangan tangan, melanjutkan gerakan.***NTA

Ngabuburit Rasa Literasi

Posted on Updated on

ngabuburit rasa literasi0=09.jpgDalam rangka terus menggenjot budaya literasi bagi  masyarakat yang berada di wilayah Singajaya dan sekitarnya, maka Komunitas Ngejah mencoba menghadirkan berbagai mmacam kegiatan, salahsatunya yakni acara Ngabuburit Rasa Literasi. Acara ini kedepannya akan menjadi agenda tahunan yang rutin akan dilaksanakan setiap bulan Ramadhan. Pada tahun ini, sebagai tahun pertama terselenggaranya ajang Ngabuburit Rasa Literasi, sejak 27 Juni sampai 3 Juli 2016, beberapa orang peserta yang terdiri dari pelajar SMP dan SMU serta satu orang ibu rumah tangga, melarutkan diri untuk bersama-sama belajar membuat blog, menulis catatan perjalanan, menulis resensi buku dan mengisi serta mengkreasi mading. Bertindak sebagai  fasilitator kegiatan adalah mereka kawan-kawan relawan Komunitas Ngejah.***NTA

Pojok Baca dan Keberlangsungannya

Posted on Updated on

PB Cipariuk
Budi Iskandar menyerahkan buku untuk menambah koleksi di Pojok Baca Cipariuk

Pojok Baca begitulah saya dan kawan-kawan Komunitas Ngejah memberikan nama untuk satu atau dua rak beserta 150-300 buku yang disimpan di beberapa tempat, seperti posyandu, warung,  madrasah diniyah, pertigaan ojeg dan rumah aktifis kampung. Namun pada perkembangnyanya, ada juga beberapa orang pengelola pojok baca yang kemudian membangun ruang khusus dengan dana swadaya, memindahkan rak dan buku dari tempat asal kami menyimpannya.  Pada mulanya, pendirian Pojok Baca dilakukan sebagai tindaklanjut Gerakan Kampung Membaca yang sudah dirintis sebelumnya. Sejauh ini, kami sudah mendirikan sebanyak 26 Pojok Baca yang tersebar di beberapa kecamatan di Garut bagian selatan (Singajaya, Peundeuy, Banjarwangi, Cisompet dan Cibalong) dan di Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Pendirian Pojok Baca adalah ruang menanam harapan semakin meningkatnya  virus membaca melalui cara membuka akses bacaan di berbagai kampung, khususnya akses bacaan untuk anak-anak dan remaja.

PB Girimukti
Roni Nuroni Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi Bacaan di Pojok Baca Girimukti

Pada perkembangannya Pojok Baca yang kami dirikan ada yang rutin kami kunjungi, satu atau dua bulan, ada juga yang kami kunjungi enam bulan sekali. Sebenarnya, kami ingin mengunjungi Pojok Baca tersebut serta meroling dan menambah bahan bacaannya secara rutin, maksimal satu bulan sekali. Namun banyak hal yang membuat keinginan ini belum bisa terealisasi dengan optimal. Kendala untuk merealisasikan hal ini, salahsatunya terletak pada masih minimnya tambahan bahan bacaan yang kami miliki untuk setiap bulannya. Kebanyakan tambahan yang kami miliki, baik dengan membeli sendiri ataupun bantuan dari berbagai pihak, masih fokus untuk menambah bahan bacaan di Saung Komunitas Ngejah/ Taman Baca AIUEO sebagai pusat gerakan. Diluar itu, karena lokasi Pojok Baca dengan sekretariat Komunitas Ngejah banyak yang jaraknya jauh, maka membutuhkan tenaga dan waktu dari para relawan yang cukup ekstra. Dalam hal ini kami agak sedikit terkendala. Hal yang paling utama  dari kendala merealisasikan keinginan mengunjungi Pojok Baca secara rutin satu bulan sekali tentu saja urusan dana operasional.

PB Cibongas
Budi Iskandar Menyerahkan Buku untuk Menambah Bahan Bacaan di Pojok Baca Cibongas

Namun dengan adanya permaslahan di atas tidak lantas membuat kami berdiam diri. Kami mencoba terus berupaya merawat budaya baca yang sudah mulai tumbuh di lingkungan masyarakat sekitar Pojok Baca yang sudah ada dengan berbagai cara, seperti: mengunjungi dan menambah bahan bacaan walapun tidak rutin satu bulan sekali, kembali menggelar Gerakan Kampung Membaca di Kampung yang sudah memiliki Pojok Baca, serta berkomunikasi melalui telepon atau pesan singkat dengan pengelola Pojok Baca ihwal perkembangan aktivitas membaca di Pojok Baca masing-masing.

PB Babakanlalay
Ruli Lesmana Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi di Pojok Baca Babakanlalay

Tentang minimnya dana operasional, ini karena kami belum memiliki usaha ekonomi yang kuat dalam menopang gerakan. Oleh karena itu, sejauh ini kami masih mendanai seluruh kegiatan dengan dana swadaya pengurus atau hadiah lomba atau uang pembinaan dari beberapa penghargaan yang kami terima. Kalaupun ada donasi, itu tidak lebih dari 5%. Karena sampai detik ini kami tidak membuka ruang donasi secara terbuka. Donasi uang yang kami terima, itu datang dari beberapa kawan saja yang sengaja menghubungi kami dan menawarkan membantu. Bukan kami yang menghubunginya. Guna mengatasi masalah dana operasional, salahsatu siasat yang tengah kami lakukan adalah dengan jualan kaos Gerakan Kampung Membaca. Keuntungannya kemudian kami gunakan untuk mendanai gerakan.

PB Sundabakti
Roni Nuroni Menyerahkan Buku untuk Menambah Koleksi  Bahan Bacaan di Pojok Baca SundaBakti

Jika kami sudah lama tidak mengadakan silaturahmi ke Pojok Baca, kami kerap kali waswas takut Pojok Baca tersebut mati, bukunya dikilo lalu dijual dan raknya diterlantarkan atau dibuat jemuran. Oleh sebab itu, maka pada awal Ramadhan kami membuat target melakukan silaturahmi untuk menambah bahan bacaan minimal untuk 50% Pojok Baca. Setelah itu, disusunlah jadwal waktu kunjungan. Adalah Budi Iskandar, Roni Nuroni dan Ruli Lesmana yang kemudian bergerak mengunjungi pojok baca yang sudah masuk dalam list target kunjungan. Dari laporan ketiga pengurus sekaligus relawan yang melakukan kunjungan, dari 14 Pojok Baca yang dikunjungi, ternyata ada satu Pojok Baca yang sudah kurang efektif. Hal ini karena berbagai permasalahan. Namun, pihak pengelola masih ada niat untuk kemudian membenahinya dan bersama-sama melanjutkan gerakan menyebar virus membaca. Sementara 13 Pojok Baca lainnya menunjukan perkembangan, meski tidak semuanya signifikan.

PB.
Budi Iskandar Berfoto di Tengah Perjalanan Menuju Pojok Baca Babakanlalay

Terlepas dari hasil kunjungan, ada beberapa hal yang cukup menggembirakan melihat keberlangsungan Pojok Baca yang sudah kami dirikan. Bebeberapa diantaranya yaitu: (1) Adanya pengelola Pojok Baca yang berkunjung ke saung Komunitas Ngejah, bersilaturahmi dan meminta atau mengganti bahan bacan baru. (2) Adanya pengelola Pojok Baca yang rela mengeluarkan kocek sendiri membuat ruang khusus dan memindahkan rak beserta buku dari tempat asal kami menyimpannya. (3) Adanya pengelola Pojok Baca yang menambah bahan bacaan dengan usaha sendiri. (4) Adanya pengelola Pojok Baca yang membuat nadoman untuk bahan pembelajaran bagi santrinya dengan sumber bahan utama dari buku yang kami simpan di Pojok Baca. (5) Adanya perwakilan masyarakat yang datang ke saung meminta kami untuk mendirikan Pojok Baca di kampungnya setelah melihat Pojok Baca di kampung/desa tetangganya. (6) Adanya Pengelola Pojok Baca yang kemudian beencana bekerjasama dengan Komunitas Ngejah untuk membangun lembaga pendidikan lainnya, seperti mendirikan PAUD. Selain poin-poin di atas masih banyak kebahagiaan lain yang kami rasakan dengan mendirikan Pojok Baca. Yang utama tentu saja adalah karena menambah ruang silaturahmi. Bagi kami, mendirikan Pojok Baca adalah menanam harapan semakin menyebarnya virus membaca dan virus kerelawan untuk sama-sama bergerak meningkatkan budaya baca di republik ini. Urusan hasil itu tidak begitu kami permasalahkan, yang penting terus berusaha.** NTA

 

Catatan Kecil Dari Kawaluyaan

Posted on

kawaluyaan“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”

Seno Gumira Ajidarma

Jika tiga serangkai Ngejah harus terbang dengan Air Asia untuk vokasi menulis di Singapura, saya cukup duduk manis di jok belakang si roda dua untuk pergi ke “Workshop Peningkatan Layanan Implementatif, Melalui Teknik Menulis Essay” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Deposit Bapusipda Jabar di Jl. KawaluyaanIndah No.4 Bandung, bertepatan dengan peresmian hari Pancasila pada Rabu, 1 Juni 2016 lalu.

Bersama tiga pemateri gagah, Jumari haryadi kohar, Adrie soenarto dan Drajat al-farisi, Saya beserta para pegiat literasi delegasi TBM se-Jawabarat dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, yang tentunya memiliki cita-cita yang seirama, mewujudkan Indonesia yang berbudaya literat, digiring menuju gerbang paling urgent  kedua dalam dunia literasi setelah membaca, yaitu menulis.

Para aktifis TBM yang hadir disuguhi menu pembuka yang manis oleh penulis gagah, Jumari haryadi kohar. Sosok yang lebih populer dengan sebutan J. Haryadi ini memberi kami sebuah jurus hebring, yaitu “Jurus Anti Macet Menulis”. dalam pembahasannya, beliau tidak hanya memberi teori dan motivasi, melainkan lansung simulasi menulis.

Free writing, istilah yang digunakan bagi penulis pemula, untuk memulai menulis, yang mana penulis tidak perlu memikirkan terori, aturan, atau teknik menulis. Cukup satu langkah mudah, Menulis. Menulis apapun yang difirkan dari sebuah foto tanpa keterangan dalam waktu lima menit, kemudian dikumpulkan dan di evaluasi.

Metode tersebut cukup efektif sebagai salam perkenalan kami dengan dunia kepenulisan. Setelah semangat menulis itu mulai tumbuh, barulah kami dipandu untuk menjadi seorang jurnalis oleh Adrie Mesapati, dengan pembahasan “Teknis Mudah Menulis Berita”.

Beliau memberi kami sebuah rumus sederhana dalam menulis berita, dan tentunya dengan simulasi menulis berita berdasarkan topik yang telah di tentukan, setelah itu kami dipersilakan untuk  memadukan konsep free writing dengan metode menulis berita melalui sebuah potret ironi pendidikan masa kini di tengah kemajuan teknologi.

Sesi selanjutnya adalah sesi dimana semua peserta cukup terpukau dengan kisah yang di paparkan pak Drajar, seorang penulis feature pariwisata yang melepaskan jabatan PNSnya karena jatuh cinta dengan dunia menulis. Beliau bisa ke luar negeri dengan gratis tentunya berkat menulis, beliau juga berbagi pengalaman terkait hal yang harus diperhatikan oleh seorang penulis ketika memasuki industri percetakan dan legalitas hak cipta kepenulisan.

Selain itu, di detik-detik terakhir workshop, kami di beri hidangan penutup yang cukup mengenyangkan oleh kepala Bapusipda. Beliau memberikan motivasi bagi para calon penulis yang hadir melalui pengalaman lapangannya ketika memasuki arena menulis. Acara berakhir sekitar pukul 17.15 dengan sesi foto bersama. Sepuluh jam yang cukup berkesan untuk sepuluh tahun yang akan datang.

Ketika kita tunggu waktu yang tepat untuk menulis, maka waktu itu tidak pernah muncul

 –James Russel Lowell-

Penulis: Novia Susanti Dewi ( Koord. Satelit Ngejah)

100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca

Posted on Updated on

HITAM PUTIH 22MENJUAL 100.000 kaos bagi kami bukan perkara enteng. Mungkin juga bagi yang lain. Tapi tentu bukan hal yang mustahil. Seperti juga sebuah pernyataan yang saya dengar dari seorang kakek tua yang berlindung dari deras hujan di saung komunitas ngejah, saung miliki kami, tempat beternak mimpi. Dalam sebuah percakapan yang saya lupa temanya, kakek tua itu berujar “Di dunia ini tak ada hal yang mustahil, kecuali menelan kepala sendiri” Entah kalimat itu memang hasil perenungannya, atau hasil menyadur dari buku atau mungkin juga ia dengar dari mulut orang lain? Entahlah? Saya tak tahu pasti. Yang pasti, kakek tua itu tak menyatakan bahwa menjual 100.000 kaos merupakan hal yang mustahil.

Terlepas dari pernyataan kakek tua tersebut, saya akan mencoba fokus, menyampaikan tentang penjulan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca.Bagaimana caranya agar target penjualan 100.000 kaos bisa tercapai? Hal pertama adalah berdoa. Kemudian hal yang tentu utama adalah bekerja. Mempromosikan kaos, baik di dunia nyata, pun di dunia maya. Bertemu dengan 100.000 orang calon pembeli di dunia nyata bagi kami tentu perkara yang susah, karena kami bukan tim sukses calon presiden. Maka saya berpikir salahsatunya cara yang paling memungkinkan adalah memanfaatkan keberadaan media sosial.

Bukan sebuah kebetulan jika saya melakukan promosi melalui media sosial bernama FB. Ya, FB merupakan media sosial yang paling akrab dengan kehidupan saya. Untuk melakukan promosi maka saya memilih menggunakan akun pribadi, pun akun Komunitas Ngejah. Tentu, dibantu oleh relawan yang lain. Tanpa sengaja ketika saya mau menulis status promosi dari akun FB Komunitas Ngejah, saya melihat  jumlah temannya hanya 1.736 orang. Jika ditambah dengan jumlah teman FB dari akun pribadi saya, jumlahnya tidak akan mungkin melebihi angka 6.500. Itu sudah termasuk akun teman-teman yang sudah jarang bahkan tidak aktif. Menyadari kenyataan ini, saya jadi berpikir jangankan menjual, target menemui 100.000 orang calon pembeli pun menjadi sangat kecil kemungkinannya, bahkan tertutup.

Lalu bagaimana agar 100.000 orang  calon pembeli mengetahui keberadaan kami yang sedang jualan kaos Gerakan Kampung Membaca? Satu-satunya cara yaitu dibutuhkan orang-orang yang mau terlibat, turun tangan mempromosikan secara gencar dari medsos ke medsos, dari mulut ke mulut, meski tanpa adanya permintaan langsung dari saya, pun teman-teman relawan Komunitas Ngejah. Dengan demikian, minimal kemungkinan 100.000 orang calon pembeli akan mengetahui, bahwa kami sedang jualan kaos. Sebetulnya, kalaupun tahap tersebut sudah dilakukan, itu baru sebatas bertemu dengan calon pembeli. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika target penjualan 100.000 kaos ingin tercapai? Yo ini dituntut keikhlasan kawan-kawan yang budiman, sebelum berbagi informasi tentang penjualan kaos ini alangkah baiknya jika memesan dan membeli terlebih dahulu. Itu juga kalau sedang punya uang. Kalau sedang bokek, yo jangan. Jangan merepotkan diri sendiri. Cukup share aja informasinya.

Sejak awal tulisan, saya belum menyentuh alasan kenapa saya dan kawan-kawan relawan di Komunitas Ngejah begitu gencar mempromosikan kaos Gerakan Kampung Membaca dan membuat target. Baiklah, saya akan perinci alasan dari belakang. Yakni terkait alasan membuat target. Pertama, agar saya dan kawan-kawan semangat untuk terus gencar mempromosikan. Kedua, target tersebut adalah salahsatu upaya merealisasikan mimpi kami untuk memiliki kendaraan operasional berupa mobil adventure. Mobil yang akhir-akhir ini hidup dalam imajinasi. Mobil yang kemudian bisa mengantarkan kami ke banyak kampung terpencil untuk melaksanakan Gerakan Kampung Membaca. Jika saya tidak salah hitung, andai 100.000 kaos terjual maka uang 1.000.000.000 akan menjadi milik kami, sebagai keuntungan dari penjualan kaos. Itu dengan perhitungan keuntungan 10.000 untuk 1 PCS kaos. Jika target meleset bagaimana? Yo tidak apa-apa, bukankah hidup itu kata nenek saya juga hanya sekedar BABALEDOGAN. Sama halnya dengan melempar buah, bisa kena, bisa enggak. Kalaupun sangat jauh dari target, yo tidak apa-apa juga yang penting kami sudah berusaha.Di luar target penjualan 100.000 Gerakan Kampung Membaca, penjualan kaos ini kami pilih sebagai gerbang menuju usaha-usaha lainnya yang halal dan tidak megikat, tentunya. Setelah 6 tahun berjalan, saya bersama teman-teman di Komunitas Ngejah, semakin sadar bahwa napas gerakan akan berhenti jika kami tertumpu mengandalkan dana operasional swadaya pengurus yang hanya seadanya. Beruntung jika gerakan ini mati namun sudah ada gerakan serupa yang dilakukan oleh pihak lain, jika tidak? maka bisa saja masyarakat terutama anak-anak yang sudah mulai memilki kecintaan terhadap dunia baca  kembali luntur minat bacanya. Atau mungkin ada dampak-dampak lain, jika gerakan ini benar-benar mati. Sebetulnya, ya tidak apa-apa juga kalau memang gerakan ini harus mati. Dunia tidak akan tiba-tiba kiamat ko! Kampung kami tidak akan berubah suasananya, seketika. Kembali pada pertanyaan kenapa kami jualan kaos? Simpulnya adalah: Pertama, melatih jiwa wirausaha pada anak-anak muda relawan Komunitas Ngejah. Kedua,  Membuka gerbang usaha komunitas yang pada perkembangannya akan digunakan untuk dana operasional menambah usia gerakan. Tiga, jika kaos Gerakan Kampung Membaca ini dipakai banyak orang, kami berharap akan banyak pula orang/parapihak yang tergerak membangun gerakan serupa. Karena gerakan literasi yang di dalamnya terkait kampanye menumbuhkan budaya baca. Dalam hal ini, saya pikir butuh iuran pemikiran, tenaga, bahkan dana dari banyak orang. Kenapa demikian? Fakta mencengangkan sekaligus memprihatinkan diungkap oleh Most Literate Nations in the World, yang kemudian diterbitkan Central Connecticut State University. Bahwasannya, tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Indonesia hanya lebih baik dari Botswana, salahsatu negara di Afrika.

Ah… sudahlah! Penjualan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca ini terlepas dari kenyataan bahwa negara kita terpuruk dalam hal budaya baca tulis, karena belum tentu juga apa yang kami lakukan dapat merubah kondisi tersebut. Ini hanya langkah kecil.

Oiya, alasan lain dari penjualan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca adalah cara kami membuka ruang yang lebih luas kepada khalayak, membiarkan parapihak menyuntikan energi ke dalam tubuh kami. Karena senyatanya, dengan membeli kaos Gerakan Kampung Membaca, Tuan dan Puan selain akan memiliki kaosnya, secara tidak langsung telah terlibat dalam gerakan, mendukung apa yang kami lakukan.

Aha… Dan ini tidak kalah penting dari sebuah promosi, yakni KUALITAS. Insya Alloh kaos yang kami jual tidak akan jauh beda dari kualitas yang dijual di mall, tentu dibandingkan dengan harga yang sama.

Bergerak dan berusaha, urusan hasil itu nomor seratus juta. Harapan akan selalu ada jika kita fokus. Sebagaimana sebuah pepatah arab mengatakan man jadda wajada yang berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pasti dapat.
Terakhir saya ucapkan terimakasih kepada Tuan dan Puan yang akan dan sudah memesan, terimakasih kepada yang sudah ikut membagikan informasi ini, terimakasih juga kepada teman-teman yang sudah mendoakan.

BIRU PUTIH 22

————————————————————————–
Kepada kawan-kawan yang merasa sudah memesan kaos dan mau mentransfer uang pembayaran, kirim melalui NOMOR REKENING 4468-01-000142-50-7 BANK BRI atas NAMA Roni Nuroni (Relawan sekaligus Pengurus Komunitas Ngejah). Bukti pembayaran dikirim melalui inbok FB Komunitas Ngejah. Sertakan alamat lengkap, ukuran, keterangan tangan panjang atau tangan 3/4. Harga kaos @100.000 (tangan 3/4) 105.000 (tangan panjang).
Kepada kawan-kawan lainnya, yang berminat memesan silahkan tulis pada kolom komentar status FB Komunitas Ngejah.

Pengiriman kaos untuk para pemesan tahap pertama, insyaalloh akan kami lakukan mulai tanggal 27 Mei 2016.

Nuhun…
Salam literasi…

NTA

GERAKAN KAMPUNG MEMBACA, KOLABORASI UNTUK NEGERI

Posted on Updated on

13242151_1059408697458352_1143845659_oMenyadari bahwa kerjasama antar komunitas menjadi salah satu kunci kesuksesan membangun atmosfer gerakan, maka Komunitas Ngejah membuka diri kepada berbagai komunitas untuk terlibat dalam gerakan literasi yang diusung selama ini, termasuk dalam kegiatan Gerakan Kampung Membaca. Gerakan Kampung Membaca adalah salah satu cara yang digagas Komunitas Ngejah untuk memperkenakan dan meningkatkan minat dan kemampuan membaca masayarakat, khususnya anak-anak di daerah Garut bagian selatan. Meskipun pada kenyataannya gerakan literasi Komunitas Ngejah ini sudah merambah di dua kabupaten, yaitu Garut dan Tasikmalaya. Komunitas Ngejah kembali beraksi menjambangi kampung-kampung terdalam dan tertinggal di wilayah Garut bagian selatan. Kali ini Gerakan Kampung Membaca disokong oleh dua komunitas lainnya, yang memiliki visi yang sama namun dalam pola gerakan yang berbeda. Kehadirannya tentu saja semacam energi yang disuntikan pada tubuh dan ruh gerakan Komunitas Ngejah.

GKM-tt

Komunitas Trooper Nusantara yang digawangi Pak Yamin yang juga merupakan pengurus Yayasan STMIK DCI, memfasilitas dua buah mobil untuk mengantarkan Tim Gerakan Kampung membaca menuju 3 titik lokasi GKM yang diselenggarakan mulai 5 Mei s.d 6 Mei 2016. Tidak hanya komunitas tersebut yang ikut andil dalam GKM kali ini. Untuk mengabadikan setiap moment, Komunitas 1001 wajah nusantara juga ikut bergabung menjambangi anak-anak di pelosok negeri. 12 orang relawan siap berangkat. Dengan bertumpuk buku dan barang-barang kebutuhan sepanjang perjalanan. Juga beberapa hadiah untuk anak-anak di lokasi.

gkmtttLokasi pertama GKM yaitu Kampung Sagara Desa Maroko Kecamatan Cibalong. Di lokasi tersebut sudah berdiri satu pojok baca yang digagas oleh Aan, salat satu tokoh di kampung tersebut. Aan mengaku senang dan memiliki harapan besar untuk Gerakan kampung Membaca. “Gerakan Kampung Membaca, memfasilitasi kami bahan bacaan. Sehingga meskipun kami berada jauh dari keramaian kota dan toko-toko buku, kini kami bisa membaca buku seperti orang lainnya” begitu pengakuan Aan tokoh masyarakat setempat yang kemudian menjadi pengelola Pojok Baca Sagarabiakta. Selain itu dia menambahkan dengan adanya GKM, anak-anak menjadi terhibur dan minat membaca mereka jadi meningkat, karena bantuan fasilitas yang ada.

gkm---t.jpgSelepas dari kampung Sagara Tim GKM melanjutkan prjalanan menuju dua lokasi laiinnya. Mereka bermalam di Kampung Gorowong. Lama perjalanan 3 jam mereka tempuh untuk sampai dilokasi kedua. Dan tim bermalam dilokasi tersebut. Pagi harinya baru acara GKM kembali digelar. Antusiasme peserta GKM sangat tinggi. Pukul 07.00 WIB sekitar 95 anak-anak usia Sekolah Dasar s.d Sekolah Menengah Atas berkumpul di tengah lapangan. Relawan memulai aktifitas GKM dengan senam, dialanjutkan dongeng dari Kak Budi dan sam (boeka Tangan). Saat mendengarkan dongeng, peserta riuh dan sangat menikmati dongengnya. Sehingga tidak jarang dibeberapa bagian peserta mengangguk-anggukan kepala atau tertawa.

“Saat aak-anak tertawa bahagia karena kedatangan kami, ini adalah salah satu bukti bahwa mereka senang. Gerakan Kampung Membaca adalah hal yang bisa kami lakukan. Dan ini menjadi suatu kebahagiaan yang tak ternilai buat kami” ucap Roni Nuroni selaku koordinator GKM kali ini. Kegiatan membaca bersama selama 30 menit menjadi agenda wajib dalam GKM. Dan rangkaian acara GKM biasa diakhiri denga permainan-permainan kecil bersama anak-anak.

13224240_1059395700792985_689343928_oHari semakin siang. Tim relawan kembali melanjutakan perjalanan menuju Lokasi terakhir di kampung Cinangsi Kecamatan Peundeuy. GKM digelar selepas melaksanakan shalat jumat. Rangkaian acara GKM berjalan dengan lancar. Di setiap lokasi, ti relawan menyerahkan tambahan buku kepada para koordinator pojok baca dimasing-masing kampung. Sedangkan khusus kampung gorowong diberikan tambahan Al-quran. Matahari perlahan tenggelam, hujan pun menemani kepulangan relawan GKM dari Cinangsi untuk kembali melanjutkan gerakan literasinya di lokasi-lokasi berikutnya.

Budi Iskandar- Relawan Komunitas Ngejah