Latest Event Updates

“DIBAWAH RINTIK HUJAN”

Posted on Updated on

Sebuah cerita yang terhembus ke telingaku ketikaku sedang menengadahkan wajahku ke langit sambil menutup kedua mataku, lalu turunlah rintikan air yang perlahan turun membasahi seluruh wajah. Tanpa tersadar tangan kananku tergerak ke atas sambil melebarkan telapak tangan dan meresapi turunnya butiran air lalu akupun mengusap wajahku yang basah karena hujan, nikmat sekali rasanya dingin, segar, adem seperti berada di kutub selatan Jleeeeeb.. sesaat aku kembali terperanjat dari mimpi yang tak bertuan.. aku sadar ternyata aku tertidur di asrama setelah ku tengok ke luar jendela ternyata memang sudah ada rintikan air yang mulai turun memandikan rumput yang gersang. Baca entri selengkapnya »

Gerakan Kampung Membaca Edisi 57

Posted on

Ini merupakan kali ke-2 aku mengikuti GKM (Gerakan Kampung Membaca) edisi 57 bersama teman setiaku Rina. Setelah mengikuti GKM sebelumnya aku merasa ada perasaan bahagia ketika melihat anak-anak semangat membaca, itu yang membuatku juga semakin semangat.  Pada hari Jum’at, 18 November 2016 kegiatan GKM dilaksanakan di Kp. Citeureup Ds. Sukawangi Kec. Singajaya Kab. Garut. Kp. Citeureup ini merupakan salah satu kampong perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut. Karena hari Jum’at aku pulang sekolah pukul 10.30 WIB sedangkan GKM dimulai pukul 13.00 WIB. Aku dan temanku Rina alias Nose memutuskan untuk tetap di sekolah, biasa wi-fian dulu hehe. Sekitar pukul 12.10 WIB kita berangkat tapi kita singgah dulu di warung bakso karena sudah lapar. Oh iya, yang jadi relawan GKM kali ini nggak cuma aku dan Rina, ada relawan baru satu sekolah dengan kita mereka baru pertama ikut kegitan GKM ini diantaranya ada Retty, Rahifa, Tania, dan Iska. Semuanya anak IPA, kayak promosi hehe. Pukul 13.45 WIB kita semua berangkat ke TKP. Untuk mencapai ke TKP ternyata medannya sungguh mengundang adrenaline  karena jalan yang berliku dan turunan yang cukup tajam. Kata Kang Budi olahraga yang dapat membakar kalori dengan cepat dan efektif yaitu adventure yang mengundang adrenaline. Baca entri selengkapnya »

Pengalamanku Terbang Ke Palu

Posted on

sifaHai kawan… Namaku Syifa Siti Rahmawati. Teman-teman sepermainan, memanggilku Syifa. Aku sekarang duduk di bangku kelas VI, MI Riyadlul Huda. Selain sekolah dan mengaji, kegiatan sehari-hariku disibukkan dengan membantu orang tua serta bermain dengan teman. Tempat aku bermain tidak jauh dari rumah. Mau tahu tempatku bermain? Tempatku bermain dipenuhi dengan buku. Tempatku bermain tak lain adalah Saung Komunitas Ngejah. Di Saung Komunitas Ngejah, hampir saban hari aku membaca buku baru. Oiya, selain saung Komunitas Ngejah berdempetan dengan rumahku, pemilikinya adalah Kakek dan Nenekku, sementara pengelolanya adalah paman-pamanku bersama teman-temanya. Semua pamanku juga sering baca buku. Kata Mang Opik: Membaca buku itu, selain menambah pengetahuan, bisa juga menumbuhkan mimpi.

Tentang keberangkatanku ke Palu, begini ceritanya. Suatu hari, awal bulan Oktober Mang Opik memberitahukan bahwa akan ada satu orang anggota dan satu orang relawan Komunitas Ngejah yang ditugaskan mewakili Jawa Barat untuk mengikuti lomba pada Festival Literasi Nasional di Palu. Kriteria anggota, selain harus rajin baca buku, umurnya harus berkisar antara 12-15 tahun. Aku ingat, umurku sudah lebih dari 12 tahun. “Ah, semoga aku yang dipilih” begitu doa dalam hatiku. Setelah Mang Opik rapat dengan teman-temannya (para relawan di Saung Komunitas Ngejah), beliau memanggilku dan menyatakan bahwa aku yang diutus mewakili ke Palu. Sementara relawan diwakili oleh Mang Budi. Alahmdulillah, aku senang. Aku bahagia sekali. Aku sangat bahagia diberi kesempatan untuk mewakili Jawa Barat mengikuti perlombaan di acara Festival Literasi. Aku ditunjuk untuk menjadi peserta lomba membaca teks naratif. Lima belas hari sebelum berangkat, aku belajar untuk lomba ke Palu. Aku membaca buku-buku di Komunitas Ngejah mulai dari buku dongeng, buku bergambar, sampai buku legenda. Aku dibimbing oleh Mang Opik, Mang Budi serta oleh Relawan Komunitas Ngejah yang lainnya.

Setiap hari aku selalu memanfaatkan waktu untuk latihan, membaca berulang-ulang banyak legenda, merangkum cerita rakyat dan menceritakan kembali ke teman-teman di Komunitas Ngejah. Tak terasa seminggu sebelum berangkat, aku diberitahu ternyata aku tidak jadi mengikuti lomba meringkas buku, tetapi lomba membaca cerita. Aku disuruh memilih cerita yang aku suka, aku pun memilih cerita rakyat tentang Bengkarung Terperdaya. Cerita rakyat itu berasal dari Minangkabau.

Hari yang dinanti telah tiba, akhirnya aku bersiap-siap untuk berangkat ke Palu. Aku membawa beberapa baju, kerudung, satu buku cerita Paman Gober, dan perbekalan secukupnya. Aku meminta izin kepada orang tuaku, meminta doa pada keluarga, dan meminta dukungan pada teman-temanku.

Pukul 12.30 WIB, aku berangkat bersama Mang Budi. Kami berdua mengendarai motor ke Bandung. Perjalanan dari Sukawangi ke Bandung menghabiskan waktu lima jam setengah. Sampailah kami di Rumah Baca Taman Sekar binaan Kang Bojes. Kami langsung sholat magrib dan kami beristirahat. Kata Mang Budi, perwakilan Jawa Barat itu ada empat orang, dua orang dari Komunitas Ngejah yaitu aku dan Mang Budi, dua orang lagi dari Rumah Baca Taman Sekar, yang kemudian ku ketahui diwakili oleh Kang Bojes dan Andit.

Keesokan harinya kami (aku, Mang Budi & Kang Bojes) langsung menuju Bandara Husain Sastranegara. Kami berkumpul di Bandara, betemu dengan Andit, Mamahnya, dan Umi Kulsum dari Balai Bahasa Jawa Barat. Aku degdegan. Ini pengalaman pertamaku naik pesawat terbang lho. Setelah memeriksa tiket pesawat, satu persatu penumpang naik pesawat, termasuk aku. Duh degup jantungku semakin kencang, saat aku sudah duduk di atas kursi. Aku menarik napas dalam-dalam. Membuang rasa takut. Akhirnya pesawat Take Off, naik ke atas dan kemudian terbang. Kami terbang ke Palu tetapi Transit dulu di Makassar, yaitu di Banadara Sultan Hasanuddin. Selama tiga jam kami berada di pesawat. Sampai akhirnya tiba di di Bandara Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. Nah teman-teman, ternyata naik pesawat itu membuat telinga berdengung. Kuranglebih begitu yang aku rasakan, waktu pesawat mau terbang dan mau landing atau mendarat. Rasa kaget karena suara gemuruh dari badan pesawat dan gesekan antara roda dan landasan udara waktu mendarat juga adalah hal yang tak bisa aku lupakan. Dari Bandara Palu, kami naik Taxi menuju hotel. Kami mendapat kamar di hotel Palu City. Nomor kamarku dan Mang Udi 101, di Lantai 1. Kami langsung istirahat untuk siap-siap di acara pembukaan pada malam hari.

Acara pembukaan dimulai, kami bertemu banyak orang yang merupakan peserta dan pembimbing lomba dari seluruh Indonesia. Di acara pembukaan, kami menonton drama khas Sulawesi Tengah dan bahasanya asli Sulawesi. Acara pembukaan selesai. Akhirnya, aku dan Mang Udi kembali ke hotel. Kami kemudian beeristirahat.

Akhirnya pagi pun tiba. Suasana pagi di Palu sangat panas dan cukup ramai kendaraan, jika dibandingkan dengan di Singajaya, kampung halamanku. Kami bersiap-siap menuju tempat perlombaan. Sebelum berangkat, kami sarapan terlebih dahulu. Di tempat sarapan kami bertemu dengan banyak orang yang juga peserta lomba teks naratif. Setelah itu, kami berangkat menuju tempat perlombaan. Sambil menunggu acara lomba dimulai, kami berfoto-foto dulu sambil menikmati suasana di Teluk Palu.

Saatnya lomba dimulai. Rasa degdegan kembali hadir. Setiap peserta mengisi registrasi, masing-masing peserta menduduki kursi yang telah disediakan. Satu persatu peserta yang mewakili provinsinya dipanggil maju ke depan. Peserta yang telah tampil untuk mengambil undian untuk peserta yang akan tampil berikutnya.

Setelah peserta dari Jambi, tibalah giliran peserta Jawa Barat. Waktu tampil, aku sangat grogi, tapi aku berusaha percaya diri “Bismillah… Bismillah… Bismilahirrohamnirrohim” aku baca dalam hatiku. Kurang lebih begitulah yang aku ingat dari nasihat Mang Nana guru Ngajiku. “Ucapkan bismillah saat akan memulai apapun” Begitu tuturnya. Aku tampil bersama Andit dari Rumah Baca Taman Sekar Bandung. Kami berdua mewakili Jawa Barat.

Keesokan harinya, kami kembali berlomba. Kali ini yaitu lomba drama yang diikuti oleh peserta dan pembimbing. Aku, Andit, Mang Budi dan Kang Bojes, tampil satu panggung. Kami memainkan naskah Dalem Boncel. Yang menjadi narator dalam drama ini yaitu Kang bojes,ia merangkap juga sebagai ibu dan bapak  sementara aku menjadi boncel,dan mang udi menjadi juragan dan andit menjadi sakdes. Inti cerita dari drama ini adalah, seorang anak yang benama Boncel mencari pekrejaan untuk membantu ekonomi keluarga. Kehidupan yang miskin, membuat ia harus melawan beratnya hidup. Dalam kisah ini juga diceritakan, Boncel gigih belajar membaca. Ia guru dari anak juragannya.

Selesai tampil, kami kembali duduk di bangku penonton. Menyimak satu persatu penampilan dari provinsi lain. Usai acara, kami pun pulang ke hotel. Kemudian kami bersiap-siap pulang ke rumah.

Keesokan harinya, kami pun dijemput oleh Umi Kulsum dan temannya di Palu. Kami diajak jalan-jalna mengelilingi Palu. Kami membeli oleh-oleh di toko Ratu oleh-oleh. Lalu kami mengunjungi Taman Nusantara dan kami menuju Jembatan Kuning. Kami pun meminum es kelapa muda selanjutnya menuju bandara Palu. Kami menunggu keberangkatan dan menikmati suasana bandara. Kami pulang dengan rute yang berbeda, langsung menuju bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Ditengah jalan, kami mendapati informasi bahwa kami memenangkan perlombaan yang kami ikuti. Alhamdulillah, kami sangat bersyukur mendapat Juara III pada Lomba Membaca Teks Naratif. Kami pulang membawa kemenangan dengan gembira. Seperti tulisan yang kami lihat ketika berfoto bersama: Show Your Color. Tunjukkan Warnamu, tunjukkan karaktermu, dan mari kita bergembira. Berkarya bersama. Semoga tahun depan ada anggota Komunitas Ngejah yang lain yang memiliki kesempatan sepertiku. Salam Literasi!

Sukawangi – Palu – Sukawangi, 17-21 Oktober 2016

Syifa Siti Rahmawati (Ngejah Junior)

GKM 56

Posted on Updated on

gkm56......jpgTak ada hujan hari ini. Meski mendung sudah mengias langit sejak pagi. Rencana kami untuk menggelar Gerakan Kampung Membaca ke 56 hari ini, Jum’at Tgl 28 Oktober 2016 bisa dipastikan bakal terlaksana. Alhamdulillah… Selepas Jumatan, saya yang sudah dua bulan ini fokus menjadi relawan Komunitas Ngejah bersama Kang Ruli Lesmana dan Syifa Rahmawati membereskan peralatan yang akan kami bawa yaitu berupa tripoid, kamera, gitar, dan tentu buku sebagai amunisi utama. Sebenarnya saya sempat ikut kegiatan Gerakan Kampung Membaca sewaktu masih duduk di bangku SMA. Kata-kata relawan yang lebih senior, kegiatan ini untuk mendekatkan bacaan dengan masyarakat, terutama anak-anak. Sejak saya kecil, saya belum mengenal perpustakaan umum di sekitar tempat saya tinggal, kecuali setelah ada Komunitas Ngejah. Masih kata-kata relawan yang lebih senior, dengan membiasakan anak mau membaca, hal ini akan menumbuhkan budaya bacanya. Dengan membaca pula, imajinasi anak-anak akan terlatih. Hal itu kemudian, saya ketahui juga dari ‘Merangsang dan Melejitkan Minat Baca Anak’ karangan Bob Harjanto. Dalam buku itu tertulis bahwa dengan membaca imajinasi anak akan dirangsang untuk menggambarkan sesuatu, seperti bentuk, warna, suasana,  perasaan sedih, gembira dan sebagainya. Imajinasi tersebut jika sudah biasa dilatih akan turut pula membentuk motivasi hidup dan karakter anak. Itu mungkin salahsatu alasan kenapa kegiatan ini terus dilakukan, diluar alasan lainnya seperti membagi akses pendidikan lewat bahan bacaan.

gkm56Lanjut tentang kegiatan GKM 56. Saya bersama Kang Ruli dan Syifa berangkat pada pukul 13.30 WIB. Kami kemudian berhenti dulu dan mampir ke Asrama Perempuan Ponpes Riyadlul Huda. Tujuannya untuk menjemput Teh Ai Nurhalimah.Di asrama itu kemudian saya mengirim pesan singkat kepada Kang Roni Nuroni. “Assalamualaikum, nuju dimana pak? Diantosan di Asrama. GKM tea. Tidak berselang lama Kang Roni Nuroni tiba. Akhirnya kami berlima melanjutkan kembali perjalanan yang tadi tertunda. Di tengah jalan, Kang Iwan dan Teh Liza sudah menunggu untuk bergabung. Maka tim GKM 56 menjadi tujuh orang. Lokasi yang kami tuju yaitu Kampung Cipariuk. Untuk sampai di sana, kami harus melalui jalan yang agak jelek, meski rutenya tidak begitu panjang. Kegiatan di laksanakan di sebuah madrasah yang dikelilingi sawah. Rumah-rumah penduduk yang masih jarang juga berada di sekitar madrasah. Rumah-rumah itu tak lain adalah rumah anak-anak yang menjadi peserta GKM.

gkm56.....jpgSetelah ngobrol sebentar denagn Ajengan Juma, pengelola Madrasah. Kang Roni Nuroni membuka kegiatan. Menyampaikan tujuan kedatangan kepada anak-anak. Kegiatan kemudian dilanjutkan oleh Teh Ai Nurhalimah dengan Game-game yang seru. Anak-anak kelihatannya sangat suka dan senang sekali diajak bermain Game. Mereka merasa terhibur. Tak ayal satu dua orang tertawa lepas di tengah-tengah permainan. Setelah selesai bermain game lalu Kang Iwan Ridwan mengisi kegiatan dengan motivasi membaca. Kegiatan inti dan yang utama setiap kali GKM tentu saja membaca. Oleh karena itu, selepas motivasi membaca, kawan-kawan Relawan Gerakan Kampung Membaca membagikan Buku-buku untuk dibaca oleh para peserta kegiatan GKM. Setelah para peserta selesai membaca buku kegiatan selanjutnya diisi oleh Syipa Rahmawaty dengan mendongeng. Adapun judul dongengnya adalah “Sikancil dan Buaya”.

gkm56...jpgPada akhir kegiatan ada sesi tantangan, yakni ruang unjuk gigi para peserta GKM. Bagi peserta yang berani menyampaikan apa yang sudah dibacanya, ia akan diganjar dengan hadiah berupa buku tulis. Kegiatan ini dipimpin oleh Kang Roni. Untuk menutup kegiatan GKM 56, Kang Roni mengajak semua peserta dan juga relawan untuk berdoa agar semua yang hadiir diberikan semangat belajar sepanjang hayat. Setelah selesai membaca do’a relawan dan para peserta GKM berfoto bersama. Selesai berfoto,  akhirnya kami semua berpamitan kepada Aj. Juma.

Penulis: Jejen alias Anggi/Relawan Komunitas Ngejah

Mading Komunitas Ngejah Hidup Kembali

Posted on

Sudah tiga tahun lebih Mading Komunitas Ngejah berdiri menjadi salahsatu media dalam rangka meningkatkan budaya baca masyarakat sekitar, sekaligus ruang menampung karya-karya sederhana anggota Komunitas Ngejah. Selain itu Mading ini menjadi ruang berbagi informasi seputar kegiatan Komunitas Ngejah. Mading sederhana tersebut, awalnya hampir 100 persen terbuat dari kayu. Rupanya, pelan-pelan rayap menyergapnya. Akhirnya, dua bulan lamanya si Mading mati karena harus mendapat perbaikan. Kini Mading tersebut telah hidup kembali.  Di lokasi yang sama, yakni di halaman Saung Komunitas Ngejah, dengan menghadap ke jalan raya, kini ia sudah kembali berdiri tegak. Meski belum dicat 100% mading tersebut sudah mulai menemani para relawan melakukan gerakan literasi. Adalah Selli dan Ai yang menyatakan siap mengelolanya. Mengisi dan mengkreasi Mading setiap satu Minggu sekali.