Latest Event Updates

100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca

Posted on Updated on

HITAM PUTIH 22MENJUAL 100.000 kaos bagi kami bukan perkara enteng. Mungkin juga bagi yang lain. Tapi tentu bukan hal yang mustahil. Seperti juga sebuah pernyataan yang saya dengar dari seorang kakek tua yang berlindung dari deras hujan di saung komunitas ngejah, saung miliki kami, tempat beternak mimpi. Dalam sebuah percakapan yang saya lupa temanya, kakek tua itu berujar “Di dunia ini tak ada hal yang mustahil, kecuali menelan kepala sendiri” Entah kalimat itu memang hasil perenungannya, atau hasil menyadur dari buku atau mungkin juga ia dengar dari mulut orang lain? Entahlah? Saya tak tahu pasti. Yang pasti, kakek tua itu tak menyatakan bahwa menjual 100.000 kaos merupakan hal yang mustahil.

Terlepas dari pernyataan kakek tua tersebut, saya akan mencoba fokus, menyampaikan tentang penjulan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca.Bagaimana caranya agar target penjualan 100.000 kaos bisa tercapai? Hal pertama adalah berdoa. Kemudian hal yang tentu utama adalah bekerja. Mempromosikan kaos, baik di dunia nyata, pun di dunia maya. Bertemu dengan 100.000 orang calon pembeli di dunia nyata bagi kami tentu perkara yang susah, karena kami bukan tim sukses calon presiden. Maka saya berpikir salahsatunya cara yang paling memungkinkan adalah memanfaatkan keberadaan media sosial.

Bukan sebuah kebetulan jika saya melakukan promosi melalui media sosial bernama FB. Ya, FB merupakan media sosial yang paling akrab dengan kehidupan saya. Untuk melakukan promosi maka saya memilih menggunakan akun pribadi, pun akun Komunitas Ngejah. Tentu, dibantu oleh relawan yang lain. Tanpa sengaja ketika saya mau menulis status promosi dari akun FB Komunitas Ngejah, saya melihat  jumlah temannya hanya 1.736 orang. Jika ditambah dengan jumlah teman FB dari akun pribadi saya, jumlahnya tidak akan mungkin melebihi angka 6.500. Itu sudah termasuk akun teman-teman yang sudah jarang bahkan tidak aktif. Menyadari kenyataan ini, saya jadi berpikir jangankan menjual, target menemui 100.000 orang calon pembeli pun menjadi sangat kecil kemungkinannya, bahkan tertutup.

Lalu bagaimana agar 100.000 orang  calon pembeli mengetahui keberadaan kami yang sedang jualan kaos Gerakan Kampung Membaca? Satu-satunya cara yaitu dibutuhkan orang-orang yang mau terlibat, turun tangan mempromosikan secara gencar dari medsos ke medsos, dari mulut ke mulut, meski tanpa adanya permintaan langsung dari saya, pun teman-teman relawan Komunitas Ngejah. Dengan demikian, minimal kemungkinan 100.000 orang calon pembeli akan mengetahui, bahwa kami sedang jualan kaos. Sebetulnya, kalaupun tahap tersebut sudah dilakukan, itu baru sebatas bertemu dengan calon pembeli. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika target penjualan 100.000 kaos ingin tercapai? Yo ini dituntut keikhlasan kawan-kawan yang budiman, sebelum berbagi informasi tentang penjualan kaos ini alangkah baiknya jika memesan dan membeli terlebih dahulu. Itu juga kalau sedang punya uang. Kalau sedang bokek, yo jangan. Jangan merepotkan diri sendiri. Cukup share aja informasinya.

Sejak awal tulisan, saya belum menyentuh alasan kenapa saya dan kawan-kawan relawan di Komunitas Ngejah begitu gencar mempromosikan kaos Gerakan Kampung Membaca dan membuat target. Baiklah, saya akan perinci alasan dari belakang. Yakni terkait alasan membuat target. Pertama, agar saya dan kawan-kawan semangat untuk terus gencar mempromosikan. Kedua, target tersebut adalah salahsatu upaya merealisasikan mimpi kami untuk memiliki kendaraan operasional berupa mobil adventure. Mobil yang akhir-akhir ini hidup dalam imajinasi. Mobil yang kemudian bisa mengantarkan kami ke banyak kampung terpencil untuk melaksanakan Gerakan Kampung Membaca. Jika saya tidak salah hitung, andai 100.000 kaos terjual maka uang 1.000.000.000 akan menjadi milik kami, sebagai keuntungan dari penjualan kaos. Itu dengan perhitungan keuntungan 10.000 untuk 1 PCS kaos. Jika target meleset bagaimana? Yo tidak apa-apa, bukankah hidup itu kata nenek saya juga hanya sekedar BABALEDOGAN. Sama halnya dengan melempar buah, bisa kena, bisa enggak. Kalaupun sangat jauh dari target, yo tidak apa-apa juga yang penting kami sudah berusaha.Di luar target penjualan 100.000 Gerakan Kampung Membaca, penjualan kaos ini kami pilih sebagai gerbang menuju usaha-usaha lainnya yang halal dan tidak megikat, tentunya. Setelah 6 tahun berjalan, saya bersama teman-teman di Komunitas Ngejah, semakin sadar bahwa napas gerakan akan berhenti jika kami tertumpu mengandalkan dana operasional swadaya pengurus yang hanya seadanya. Beruntung jika gerakan ini mati namun sudah ada gerakan serupa yang dilakukan oleh pihak lain, jika tidak? maka bisa saja masyarakat terutama anak-anak yang sudah mulai memilki kecintaan terhadap dunia baca  kembali luntur minat bacanya. Atau mungkin ada dampak-dampak lain, jika gerakan ini benar-benar mati. Sebetulnya, ya tidak apa-apa juga kalau memang gerakan ini harus mati. Dunia tidak akan tiba-tiba kiamat ko! Kampung kami tidak akan berubah suasananya, seketika. Kembali pada pertanyaan kenapa kami jualan kaos? Simpulnya adalah: Pertama, melatih jiwa wirausaha pada anak-anak muda relawan Komunitas Ngejah. Kedua,  Membuka gerbang usaha komunitas yang pada perkembangannya akan digunakan untuk dana operasional menambah usia gerakan. Tiga, jika kaos Gerakan Kampung Membaca ini dipakai banyak orang, kami berharap akan banyak pula orang/parapihak yang tergerak membangun gerakan serupa. Karena gerakan literasi yang di dalamnya terkait kampanye menumbuhkan budaya baca. Dalam hal ini, saya pikir butuh iuran pemikiran, tenaga, bahkan dana dari banyak orang. Kenapa demikian? Fakta mencengangkan sekaligus memprihatinkan diungkap oleh Most Literate Nations in the World, yang kemudian diterbitkan Central Connecticut State University. Bahwasannya, tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia berada di urutan ke-60 dari total 61 negara. Indonesia hanya lebih baik dari Botswana, salahsatu negara di Afrika.

Ah… sudahlah! Penjualan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca ini terlepas dari kenyataan bahwa negara kita terpuruk dalam hal budaya baca tulis, karena belum tentu juga apa yang kami lakukan dapat merubah kondisi tersebut. Ini hanya langkah kecil.

Oiya, alasan lain dari penjualan 100.000 kaos untuk Gerakan Kampung Membaca adalah cara kami membuka ruang yang lebih luas kepada khalayak, membiarkan parapihak menyuntikan energi ke dalam tubuh kami. Karena senyatanya, dengan membeli kaos Gerakan Kampung Membaca, Tuan dan Puan selain akan memiliki kaosnya, secara tidak langsung telah terlibat dalam gerakan, mendukung apa yang kami lakukan.

Aha… Dan ini tidak kalah penting dari sebuah promosi, yakni KUALITAS. Insya Alloh kaos yang kami jual tidak akan jauh beda dari kualitas yang dijual di mall, tentu dibandingkan dengan harga yang sama.

Bergerak dan berusaha, urusan hasil itu nomor seratus juta. Harapan akan selalu ada jika kita fokus. Sebagaimana sebuah pepatah arab mengatakan man jadda wajada yang berarti barangsiapa bersungguh-sungguh pasti dapat.
Terakhir saya ucapkan terimakasih kepada Tuan dan Puan yang akan dan sudah memesan, terimakasih kepada yang sudah ikut membagikan informasi ini, terimakasih juga kepada teman-teman yang sudah mendoakan.

BIRU PUTIH 22

————————————————————————–
Kepada kawan-kawan yang merasa sudah memesan kaos dan mau mentransfer uang pembayaran, kirim melalui NOMOR REKENING 4468-01-000142-50-7 BANK BRI atas NAMA Roni Nuroni (Relawan sekaligus Pengurus Komunitas Ngejah). Bukti pembayaran dikirim melalui inbok FB Komunitas Ngejah. Sertakan alamat lengkap, ukuran, keterangan tangan panjang atau tangan 3/4. Harga kaos @100.000 (tangan 3/4) 105.000 (tangan panjang).
Kepada kawan-kawan lainnya, yang berminat memesan silahkan tulis pada kolom komentar status FB Komunitas Ngejah.

Pengiriman kaos untuk para pemesan tahap pertama, insyaalloh akan kami lakukan mulai tanggal 27 Mei 2016.

Nuhun…
Salam literasi…

NTA

GERAKAN KAMPUNG MEMBACA, KOLABORASI UNTUK NEGERI

Posted on Updated on

13242151_1059408697458352_1143845659_oMenyadari bahwa kerjasama antar komunitas menjadi salah satu kunci kesuksesan membangun atmosfer gerakan, maka Komunitas Ngejah membuka diri kepada berbagai komunitas untuk terlibat dalam gerakan literasi yang diusung selama ini, termasuk dalam kegiatan Gerakan Kampung Membaca. Gerakan Kampung Membaca adalah salah satu cara yang digagas Komunitas Ngejah untuk memperkenakan dan meningkatkan minat dan kemampuan membaca masayarakat, khususnya anak-anak di daerah Garut bagian selatan. Meskipun pada kenyataannya gerakan literasi Komunitas Ngejah ini sudah merambah di dua kabupaten, yaitu Garut dan Tasikmalaya. Komunitas Ngejah kembali beraksi menjambangi kampung-kampung terdalam dan tertinggal di wilayah Garut bagian selatan. Kali ini Gerakan Kampung Membaca disokong oleh dua komunitas lainnya, yang memiliki visi yang sama namun dalam pola gerakan yang berbeda. Kehadirannya tentu saja semacam energi yang disuntikan pada tubuh dan ruh gerakan Komunitas Ngejah.

GKM-tt

Komunitas Trooper Nusantara yang digawangi Pak Yamin yang juga merupakan pengurus Yayasan STMIK DCI, memfasilitas dua buah mobil untuk mengantarkan Tim Gerakan Kampung membaca menuju 3 titik lokasi GKM yang diselenggarakan mulai 5 Mei s.d 6 Mei 2016. Tidak hanya komunitas tersebut yang ikut andil dalam GKM kali ini. Untuk mengabadikan setiap moment, Komunitas 1001 wajah nusantara juga ikut bergabung menjambangi anak-anak di pelosok negeri. 12 orang relawan siap berangkat. Dengan bertumpuk buku dan barang-barang kebutuhan sepanjang perjalanan. Juga beberapa hadiah untuk anak-anak di lokasi.

gkmtttLokasi pertama GKM yaitu Kampung Sagara Desa Maroko Kecamatan Cibalong. Di lokasi tersebut sudah berdiri satu pojok baca yang digagas oleh Aan, salat satu tokoh di kampung tersebut. Aan mengaku senang dan memiliki harapan besar untuk Gerakan kampung Membaca. “Gerakan Kampung Membaca, memfasilitasi kami bahan bacaan. Sehingga meskipun kami berada jauh dari keramaian kota dan toko-toko buku, kini kami bisa membaca buku seperti orang lainnya” begitu pengakuan Aan tokoh masyarakat setempat yang kemudian menjadi pengelola Pojok Baca Sagarabiakta. Selain itu dia menambahkan dengan adanya GKM, anak-anak menjadi terhibur dan minat membaca mereka jadi meningkat, karena bantuan fasilitas yang ada.

gkm---t.jpgSelepas dari kampung Sagara Tim GKM melanjutkan prjalanan menuju dua lokasi laiinnya. Mereka bermalam di Kampung Gorowong. Lama perjalanan 3 jam mereka tempuh untuk sampai dilokasi kedua. Dan tim bermalam dilokasi tersebut. Pagi harinya baru acara GKM kembali digelar. Antusiasme peserta GKM sangat tinggi. Pukul 07.00 WIB sekitar 95 anak-anak usia Sekolah Dasar s.d Sekolah Menengah Atas berkumpul di tengah lapangan. Relawan memulai aktifitas GKM dengan senam, dialanjutkan dongeng dari Kak Budi dan sam (boeka Tangan). Saat mendengarkan dongeng, peserta riuh dan sangat menikmati dongengnya. Sehingga tidak jarang dibeberapa bagian peserta mengangguk-anggukan kepala atau tertawa.

“Saat aak-anak tertawa bahagia karena kedatangan kami, ini adalah salah satu bukti bahwa mereka senang. Gerakan Kampung Membaca adalah hal yang bisa kami lakukan. Dan ini menjadi suatu kebahagiaan yang tak ternilai buat kami” ucap Roni Nuroni selaku koordinator GKM kali ini. Kegiatan membaca bersama selama 30 menit menjadi agenda wajib dalam GKM. Dan rangkaian acara GKM biasa diakhiri denga permainan-permainan kecil bersama anak-anak.

13224240_1059395700792985_689343928_oHari semakin siang. Tim relawan kembali melanjutakan perjalanan menuju Lokasi terakhir di kampung Cinangsi Kecamatan Peundeuy. GKM digelar selepas melaksanakan shalat jumat. Rangkaian acara GKM berjalan dengan lancar. Di setiap lokasi, ti relawan menyerahkan tambahan buku kepada para koordinator pojok baca dimasing-masing kampung. Sedangkan khusus kampung gorowong diberikan tambahan Al-quran. Matahari perlahan tenggelam, hujan pun menemani kepulangan relawan GKM dari Cinangsi untuk kembali melanjutkan gerakan literasinya di lokasi-lokasi berikutnya.

Budi Iskandar- Relawan Komunitas Ngejah

 

Selfie Bareng Buku sebagai Puncak Kegiatan World Book Day

Posted on

selfiSabtu 23 April 2016, merupakan hari keempat bagi para pelajar yang tiada lain merupakan anggota Komunitas Ngejah, berkumpul di saung  untuk belajar labelling buku, membuat kategorisasi, menyampul atau mengganti sampul buku dengan dibimbing oleh Budi Iskandar, salah seorang pengurus Taman Baca AIUEO Komunitas Ngejah. Ya, kegiatan tersebut dilaksanakan sejak tanggal 20-23 April 2016.  Kegiatan tersebut, diniatkan sebagai rangkaian acara menyambut World Book Day. “Menumbuhkan rasa cinta dan memuliakan buku pada jiwa kita semua, adalah salahsatu tujuan kegiatan ini. Jangan hanya mencerap ilmunya, tapi harus mau memeliharanya juga. Semakin panjang uisa buku, semakin banyak orang yang bisa membacanya dan tentu saja merasakan manfaatnya” Tutur Budi Iskandar koordinator kegiatan pada awal acara.

Sejak dua tahun terakhir kegiatan serupa terus dilakukan di TBM AIUEO Komunitas Ngejah. Pun tahun ini. Sesuai hasil kesepakatan pengurus, World Book Day akan diperingati dengan bentuk mengajak anggota terutama pelajar untuk mencintai dan memuliakan buku melalui aneka ragam kegiatan. Jika tahun-tahun sebelumnya World Book Day hanya diperingati dengan cara  belajar bersama membuat kategorisasi, memberi label, serta menyampul buku, tahun ini ada penambahan menu acara yakni ngobrol santai seputar sejarah buku dan Selfie Bareng Buku sebagai puncak kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 23 April.

Sebagai puncak kegiatan World Book Day, hari itu, sekitar pukul 13.00, beberapa orang relawan dan pelajar memenuhi ruang sekretariat Komunitas Ngejah. Mereka  terlihat sangat serius bercakap-cakap dengan Budi selaku kooordinator acara, membincang seputar pilihan buku untuk acara Selfi Bareng Buku. Selang beberapa menit, kemudian saya mengajak mereka untuk berkumpul di Saung. Setelah membacakan Basmallah bersama-sama, saya sedikit mengulas tentang lahirnya World Book Day. Sebagian besar peserta yang terdiri dari para pelajar beberapa sekolah yang berada di Kecamatan Singajaya, rupanya baru tahu bahwa ada Peringatan Hari Buku Sedunia.

Kemudian Budi Iskandar tampil ke depan untuk menceritakan isi noveNegeri 5 Menara. “Novel ini sangat menggugah, apalagi buat para pelajar. Ada banyak pesan di dalamnya. Negeri 5 Menara adalah Novel karya Ahmad Fuadi alumni Pondok Madani Gontor. Tentu saja apa yang ditulis oleh Ahmad Fuadi tersebut, terinspirasi dari pengalamannya sendiri selama mondok. Oiya Novel ini terbit 2009, bahkan sekarang sudah difilmkan. Mungkin kawan-kawan juga pernah ada yang nonton ya? Isi cerita dalam novel ini yaitu kisah tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani Gontor. Mereka jauh dari rumah. Namun berkat kegigiihannya belajar, mereka berhasil mewujudkan mimpinya masing-masing. Tokoh utama dalam novel ini adalah Alif Fikri Chaniago dari Maninjau Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep Atang dari Bandung dan Baso Salahuddin dari Gowa. Bagi yang belum membacanya, saya merekomendasikan novel ini untuk kawan-kawan baca”  Tutur Budi. Setelah menceritakan isi novel tersebut. Kemudian Budi foto bareng degan buku ditemani kawan peserta kegiatan lainnya. Hal yang sama dilakukan oleh beberapa orang pelajar, pun para relawan Komunitas Ngejah. Beberapa diantaranya, Dewi Sartika gadis asal Palembang keturunan Jawa, yang menimba ilmu di SMAN 20 Garut, ia menceritakan isi novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia dengan cukup detail. Ada juga Rini yang menceritakan isi buku Musafir Cinta karya Taufiqurrohman Al-Azizi. Hal yang unik dari cara Rini bercerita adalah, gayanya yang seperti bermonolog. Selain tiga orang di atas ada beberapa orang peserta lainnya yang tampil menceritakan isi buku yang pernah di bacanya.

Sesi diskusi diisi oleh Deri Hudaya. Deri mengatakan bahwa literatur yang membahas sejarah buku sangat beragam dengan mengusung bukti dan pembenarannya sendiri-sendiri. Ada yang menunjukkan korelasi dan ada juga yang sama sekali sulit dihubungkan. Akan tetapi catatan-catatan sejarah yang sering kali simpang siur itu menjadi daya pikat yang merangsang keingintahuan kita untuk tak henti-henti menelusurinya. Salahsatu bagian yang disampaikan oleh Deri dengan merujuk beberapa sumber, adalah sebagai berikut:

Pada awal perkembangannya, buku hanya dimiliki kelas masyarakat tertentu, seperti bangsawan, tabib, pendekar, rohaiawan, penyair, atau cendikiawan. Hal itu disebabkan karena buku masih mahal dan langka, membutuhkan proses panjang dalam pembuatannya, di mana penyalinan buku masih harus dilakukan dengan teknik tulis tangan, dan penyalinnya mesti menguasi teknik-teknik seni yang matang. Kepemilikannya mengidentifikasikan kasta atau status sosial yang membuat pemiliknya mendapat penghormatan khusus dari khalayak. Produksi buku meningkat luar biasa setelah J. Gutenberg memperkenalkan teknik cetak pada abad ke-15 (Fuad Hasan, 2004: XIV). Revolusi ini melahirkan reproduksi mekanis yang mengundang rekasi keras antara pro dan kontra, karena di satu sisi memberi manfaat praktis, di sisi lain mengikis habis aura buku itu sendiri sebab tidak lagi dikerjakan oleh tangan ahli yang menguasai teknik-teknik seni. Namun pada perkembangannya, pro dan kontra itu dilupakan. Buku mulai menjadi komoditi umum dan sejalan dengan itu makin kentara pengaruhnya sebagai sarana informatif dan edukatif. Makin banyak ragam pengetahuan yang beredar melalui buku. Makin laju pula proses pencerdasan dan pencerahan yang terjadi pada warga masyarakat yang bersangkutan  (Fuad Hasan, 2004: XV).

Sebelum rangkaian kegiatan puncak peringatan Hari Buku Sedunia diakhiri, Ngejah Junior asuhan Vita Sizu tak mau ketinggalan untuk tampil. Mereka diwakili oleh Naba dan Meilla tampil membacakan puisi yang diiringi petikan gitar Ruli Lesmana. Kedua anak ini terlihat begitu ekspresif membacakan puisi yang berjudul Bambu Runcing. *** NTA

 

Peringatan Hari Buku Sedunia ala TBM AIUEO

Posted on Updated on

Ragam cara dilakukan oleh berbagai pihak dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia. Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap tanggal 23 April, memiliki uraian sejarah yang cukup panjang.

hari buku----Dilansir dari djamandoeloe.com, ide perayaan buku sedunia ini berawal dari daerah Catalonia di Spanyol. Di sana ada sebuah perayaan Hari Saint George, dimana para pria memberikan bunga mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923, kebiasaan tersebut dimodifikasi oleh para pedagang buku. Hari Saint George tersebut dijadikan juga untuk menghormati Miguel de Cervanters, seorang pengarang terkenal yang meninggal pada 23 April. Sejak hari itu, para perempuan mulai memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Hingga akhirnya pada tahun 1995, melalaui sebuah Konferensi Umum yang diadakan di Paris, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day. Selain hal di atas, penentuan hari buku sedunia ini juga didasari karena pada tanggal 23 April banyak penulis terkenal dunia lahir dan meninggal. Seperti Inca Garcilaso, Shakespeare dan Cervantes, mereka meninggal pada tanggal yang sama yakni 23 April 1616. Selain itu juga, hari buku ini merupakan sebuah apresiasi yang tinggi kepada pengarang-pengarang besar dunia.

hari buku---.jpgPada perkembangannya, perayaan Hari Buku Sedunia merupakan sebuah upaya mengkampanyekan pentingnya membaca. Dalam hal ini, Taman Baca AIUEO sebagai suborgan Komunitas Ngejah yang senantiasa mencoba khusyuk melakukan kampanye pentingnya membaca, sejak beberapa tahun terakhir tidak mau ketinggalan untuk turut serta menyelenggarakan peringatan Hari Buku Sedunia.  Selain untuk mengajak masyarakat supaya mencintai kegiatan membaca, tujuan lain dari peringatan ini adalah untuk mengajak masyarakat, khususnya anggtoa Taman Baca AIUEO untuk memuliakan buku, menjaga dan memelihara buku agar berusia cukup panjang. Pada tahun ini, beberapa menu kegiatan sederhana pun digelar  mulai tanggal 20-23 April 2016. Pengumuman ihwal peringatan Hari Buku Sedunia yang disiarkan melalui akun FB Komunitas Ngejah ternyata mendapat respon dari beberapa orang pelajar yang tiada lain adalah anggota Taman Baca AIUEO yang hampir saban hari datang untuk membaca dan meminjam buku. Sebagaimana rencana, kegiatan hari pertama (20/4) diisi dengan belajar labelling dan pendataan buku baru.  Pada kesempatan ini, Budi Iskandar sebagai salahseorang pengurus Taman Baca AIUEO begitu bersemangat membimbing Delis, Asvi, Buana, Eep, Ervi, Lulu, Nena dan beberap peserta kegiatan lainnnya, belajar memberi label dan melakukan pendataan buku baru. Gayung bersambut. Antusias dari para peserta pun cukup tinggi. Rencananya pada hari kedua dan ketiga kegiatan masih berkutat pada labelling dan pendataan buku baru, memberi sampul buku baru dan mengganti sampul untuk buku-buku lama. Sementara pada puncak kegiatan, yakni pada tanggal 23 April, akan ada acara selfie bareng buku dan ngobrol santai seputar sejarah buku. Terkait kegiatan selfie bareng buku, dalam hal ini setiap peserta kegiatan diberikan kesempatan untuk memilih salahsatu buku yang pernah dibacanya, kemudian menceritakan isinya secara singkat, dan kemudian selfie bareng buku sebelum menguploadnya melalui akun medsos masing-masing. Rangkaian kegiatan tersebut adalah cara lain Taman Baca AIUEO dalam rangka memberikan pemahaman kepada khalayak, khususnya masyarajat sekitar bahwa membaca buku itu penting.*** NTA

Gerakan Kampung Membaca Episode 47

Posted on Updated on

47.Gerakan kampung membaca kembali menyapa masyarakat Kecamatan Singajaya. GKM memasuki episde ke 47. Tidak terasa empat tahun berjalan gerakan ini digulirkan. Sampai saat ini, GKM konsisten menyambangi kampung demi kampung untuk mengkampanyekan pentingnya membaca kepada anak-anak, remaja serta masyarakat umum. GKM episode 47 menyambangi adik-adik di Kampung Panimbangan Desa Girimukti Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Hari itu (10/4/2016) saat hujan belum mau berhenti membasahi bumi, para relawan GKM-Komunitas Ngejah mempersiapkan segala amunisi untuk dibawa ke lokasi. Satu ransel buku sudah siap untuk digendong, namun hujan tak kunjung reda. Pukul 13.30 WIB, tiga motor tim GKM menerobos derasnya hujan. Kenapa kami memaksakan diri, hal ini lantaran, kami tahu di Panimbangan sudah ada yang menanti kami dengan penuh harap. Tim GKM yang berangkat dari Saung Baca TBM aiueo-Komunitas Ngejah hanya tiga motor. Ada Ruli, Roni, Budi, Nana dan Aziz. Beberapa relawan datang dari arah jalan berbeda, ada Ai yang sedang kuliah di UT kampus Garut, selepas kuliah dia langsung terjun menuju lokasi GKM. Sedangkan Wulan, siswa SMAN 20 Garut, ia telah berada di lokasi untuk mempersiapkan dan berkoordinasi dengan tokoh-tokoh Kampung Panimbagnan.

47-

47--Sejak dari awal Komunitas Ngejah memang menekankan pada pelibatan anak-anak muda untuk bersatu bahu membahu, menyisihkawan waktu dan tenaga untuk gerakan literasi diusungnya. Oleh karena itu, setiap anggota Komunitas Ngejah, yang biasa membaca dan meminjam buku, diberi kesempatan untuk melakukan kerja kerelawanan. Selain pengurus, hampir saban kegiatan Gerakan Kampung Membaca selalu melibatkan para pelajar untuk menjadi relawan.   Kembali pada GKM 47, perjalanan yang kami tempuh dari saung sampai lokasi hanya butuh waktu sekitar 20 menit. Jalanan yang kami tempuh tidak terlalu sulit, hujanpun tidak turun lagi, sehingga memeprcepat perjalanan. Sesampainnya di lokasi, beberapa tas tergeletak di atas lantai mesjid lokasi GKM. Anak-anak sudah menunggu kami. Sambil menuggu, mereka menggunakan waktu dengan bermain. Melihat kedatangan kami, dalam waktu sekejap anak-anak segera berkumpul. Kegiatan kami awali dengan berdoa bersama. Saya memeperkenalkan cara berdoa ala anak-anak, memulainya dengan tepuk jari. Tepuk jari dimulai dari tepuk jari satu sampai tepuk jari lima, dengan menepukan jadi-jari berulang-ulang. Kemudian semua diam dan berdoa dalam hati masing-masing. Oh ya, peserta kali ini tidak lebih dari 20 anak, yag terdiri dari pelajar PAUD sampai sekolah dasar. Meski demikian semangat mereka sangat menggebu ketika kedatangan tim GKM. Selepas berdoa, kami menyempatkan untuk berkenalan bersama peserta. Satu demi satu relawan saya perkenalkan kepada semua peserta, dan di sela perkenalan semua anak mengucap “Oh”. Sesuatu yang biasa ketika kita baru bertemu, mungkin sebenarnya mereka ingin lebih kenal lebih dalam tentang personil GKM kali ini, namun waktu kami sangat singkat untuk memperkenalkan diri lebih detail, sehingga saya hanya menyebutkan nama saja.

Untuk menambah semangat  permainan sederhana disajikan, seperti permainan sahut-sahutan.

“gajah?” kata saya

“Besar” jawab peserta sambil melingkatkan kedua tangannya sebesar mungkin.

“semut” kata saya

“kecil” jawab peserta sambil menyodorkan jari telunjuk, jempol dan menampilkan mimik yang seakan-akan semut itu bena-benar sangat kecil.

Kemudian logika permainan diganti, jika saya bilang “Gajah”, maka peserta menjawabnya dengan kata “kecil” sambil menujukan jari telunjuk dan jempolnya dengan mimik muka seakan-akan Gajah itu adalah makhluk terkecil di dunia.

Untuk mengawali kegiatan dalam ruangan,  permainan ini cukup ampuh untuk mempersatukan frekuensi kami menuju rasa yang disebut “senang”. Gelak tawa pun hadir saat beberapa peserta GKM masih terbalik menunjukan gerakan tangannya.

Setelah permaian dirasa sudah cukup, acara diisi oleh Iis yang sebentar lagi menjadi alumnus SMAN 20 Garut. Dia membawakan sebuah cerita hikmah, tentang larangan untuk berbohong, dia bilang.

47---“Jadi kita jangan pernah sekali-kali berbohong, karena disaat kita pernah ketahan berbicara bohong, kemudian kita berbicara jujur, maka orang akan selalu ingat kebohongan yang pernah kita lakukan. Jadi orang lain tidak akan terlalu percaya lagi pada orang yang pernah berbohong” begitu katanya, dan pesertapun menganggukan kepalanya. Diakhir cerita Iis mengajak adik-adik peserta untuk berjanji agar tidak pernah berbohong. Seusai bercerita, GKM memasuki acara inti, yaitu membaca bersama. Sekitar 30 menit, dengan bahan bacaan yang kami bawa, adik-adik peserta dipandu untuk membaca bersama-sama. Dan kegiatanpun diakhiri dengan dongeng dari Sam dan Bu Ai, serta motivasi pentingnya membaca.

47-----Langit sudah tidak mendung lagi, air bekas hujan yang membasahi jalanan sudah nampak kering, kami kembali menyusuri jalanan Desa Girimukti untuk kembali pulang dan menikmati senja yang semakin jingga. Semoga segala keberkahan selalu menaungi gerakan kami. Amiin.***

Penulis: Budi Iskandar/Pengurus Komunitas Ngejah.

 

LOMBA MENULIS PUISI “BELAJAR NYUMBANG OKSIGEN”

Posted on

LOMBA MENULIS PUISI

“Belajar Nyumbang Oksigen Komunitas Ngejah”

Tema Pohon

Bagi pelajar SMP dan SMA

Di wilayah Kecamatan Singajaya, Peundeuy, dan Banjarwangi (Garut)

Kecamatan Taraju dan Bojonggambir (Tasikmalaya)

Ketentuan lomba:

  1. Naskah ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  2. Jenis hurup Times New Roman dengan ukuran 12 dan menggunakan spasi 1.
  3. Menyertakan biodata diri berupa narasi maksimal 50 kata pada halaman terpisah.
  4. Tiap peserta maksimal mengikutsertakan 2 karya terbaiknya.
  5. Naskah diprint dan diserahka beserta soft filenya ke Saung Komunitas Ngejah, selambat-lambatnya tanggal 15 Mei 2016.
  6. Hak publikasi merupakan hak panitia lomba sementara hak cipta tetap pada penulis.

Pengumuman lomba akan dilaksanakan pada Pameran Puisi Belajar Nyumbang Oksigen yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 Mei 2016. Naskah yang dianggap layak oleh dewan juri akan diikutsertakan pada Pameran Puisi Belajar Nyumbang Oksigen.

Juara 1 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 250.000

Juara 2 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 200.000

Juara 3 behak mendapatkan tropi, piagam penghargaan, satu paket buku dan uang pembinaan sebesar Rp. 150.000

Dewan Juri:

Deri Hudaya (Koord. Belajar Nyumbang Oksigen)

Ani Setianingsih (Guru Bahasa dan Sastra Indonesia)

Nero Taopik Abdillah (Presiden Komunitas Ngejah)

TIDAK DIPUNGUT BIAYA PENDAFTARAN…Untitled

Dongeng Sebelum Tidur

Posted on Updated on

bjDahulu kala, ketika waktu belum tercatat pada kalender, bangsa Austronesia, induk dari bangsa-bangsa yang menghuni kawasan Asia Tenggara, mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam. Matahari tropis yang memungkinan berbagai jenis tanaman tumbuh dengan amat sangat baik, curah hujan yang begitu cukup, tanah yang subur, letusan-letusan gunung berapi yang membuat lahan malah bertambah gembur, membuat mereka cocok dengan dunia pertanian. Pertanian menjadi produk kebudayaan yang sangat diandalkan dalam mempertahankan keberlangsungan hidup. Di situ ada lahan pertanian, maka di situlah kehidupan.

IMG_2000.jpgBegitupun masyarakkat Sunda tempo dulu, suku bangsa yang masih berinduk pada kebudayaan Austronesia itu. Karena begitu pentingnya dunia pertanian, maka bercocok tanam bagi masyarakat Sunda bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi belaka, bukan untuk kepentingan dagang. Bukan semata-mata untuk memperkaya diri. Bertani malah dianggap sebagai ritual untuk berinteraksi langsung dengan pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, mereka memperlakukan tanah dengan demikian khidmat. Upacara-upacara adat pun bisa digelar selama tujuh hari tujuh malam setelah panen, sebagai ekspresi dari rasa syukur. Ketika tanah diperlakukan sedemikian oleh mereka, maka tanah pun memberikan segalanya, sebagaimana ibu terhadap anak-anaknya.

IMG_2016Tanah Sunda, yang sampai saat ini kesuburan tanahnya tetap menjanjikan bagi para petani, memang lazim diidentikan dengan perempuan. Kesuburan tanah disejajarkan dengan produktivitas rahim perempuan. Dari pelbagai carita pantun, wiracarita warisan kebudayaan Sunda kuna, dewi kesuburan, Dewi Sri, lebih menonjol daripada dewa perang. Panorama yang masih serba hijau di akhir abad ke-20, sisa-sisa kerja para leluhur, membuat penyair modern Ramadhan K.H ketika melihat Tanah Sunda dalam sajak yang ditulisnya sebagai Priangan Si Jelita, cantik dan memesona.

Namun entah mengapa, setelah masyarakat kita akrab dengan bangku sekolahan, ada perubahan signifikan tentang citra dunia pertanian itu. Sikap hormat pada dunia pertanian sepertinya makin menyusut. Anak-anak SD ketika ditanya apa cita-cita mereka, lazimnya mereka menyebut profesi seperti dokter, pilot, polisi, pembalap, guru, tentara, atlit sepak bola, pramugari, polwan. Anak-anak yang lahir di negara agraris ini seakan-akan konyol jika bercita-cita ingin jadi petani? Begitupun ketika kita mengajukan pertanyaan tentang hobi. Jarang ada di antara mereka yang akan mengatakan bahwa hobinya pergi ke kebun. Ini menandakan pikiran mereka sudah tercerabut dari latar belakang budayanya, dari dunia cocok-tanam itu, bahkan sedari duduk di bangku SD?

Bercocok tanam memang perlu ada kerelaan untuk mau bergelut dengan debu dan lumpur. Bagi sebagian orang, hal itu dianggap kendala serius. Kotor menimbulkan kesan hina. Padahal kita tahu ada kegiatan-kegiatan lain, profesi-profesi lain, yang juga menuntut hal serupa namun tak pernah kurang peminatnya. Sepak bola, yang konon merupakan olah raga paling diminati masyarakat dunia, membuat para pemainnya karib dengan debu dan lumpur. Motor trail yang dianggap keren pun membuat penunggangnya dekil-dekil. Bahkan latihan militer kerap membuat para tentara harus berjibaku di genangan lecek. Saya ingat bunyi slogan dari sebuah iklan sabun: kotor itu baik.

Masalahnya tentu bukan karena kotor atau tidak kotor yang membuat anak-anak kita merasa tak pantas menautkan cita-citanya pada dunia pertanian. Bahkan tidak walau hanya untuk jadi sekedar hobi. Citra tentang dunia cocok tanam di zaman sekarang tidak begitu baik, tidak bergengsi. Tidak elit. Dianggap tidak intelek.

Barangkali, pengalaman kita di dunia pendidikan turut berpengaruh terhadap sikap anak-anak. Mata pelajaran yang terus-menerus memonopoli konsentrasi para pelajar dari mulai sekolah tingkat dasar hingga tinggkat atas bukanlah ilmu pertanian. Lalu pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, universitas serta prodi-prodi yang menonjolkan wacana teknologi jauh lebih diminati daripada universitas serta prodi-prodi yang menonjolkan wacana pertanian. Oleh sebab itu, wajar apabila dunia pertanian itu makin terabaikan. Lahan-lahan pertanian tidak digarap. Oleh sebab itu wajar apabila hampir setiap tahun negara yang masih dikatakan agraris ini sering mengalami krisis pangan, beras miskin harus dibagikan, sampai-sampai muncul peristiwa beras plastik. Tapi apapun yang terjadi, wacana tentang dunia cocok tanam di lingkungan masyarakat agraris ini semakin terasing, dimulai dari buku catatan anak sekolahan.

Apabila sekolah membuat generasi penerus kita memandang hina dunia pertanian, menganggap diri mereka terlalu agung untuk bergaul dengan petani, sebaiknya sekolah itu dibubarkan saja, ujar Tan Malaka dalam Madilog. Bukan berarti Tan Malaka menganggap pendidikan dari sekolah formal tidak ada manfaatnya sama sekali. Tan Malaka sendiri dapat berpikir seperti itu setelah dirinya cukup mendapat pendidikan, setelah dirinya menyerap buku-buku, setelah dirinya menjadi pendidik dan pada akhirnya mendirikan sekolah. Hanya saja, mungkin ia merasa jengah ketika melihat tingkah-polah sebagain besar anak sekolahan yang menganggap remeh dunia cocok tanam. Kepongahan mereka ini jadi semacam virus yang lantas menular ke mana-mana, menghinggapi pikiran siapa saja. Itulah yang mungkin membuatnya geram.

Dunia pertanian setelah memasuki era modern mungkin hampir sama nasibnya dengan budaya tradisi. Potensial namun dibiarkan terbengkalai. Hanya diminati generasi usia senja. Terkesan buram. Dan garpu hampir malam. Dan cangkul hampir malam. Parang hampir malam. Selamat malam.***

Penulis: Deri Hudaya (Koordinator Belajar Nyumbang Oksigen Komunitas Ngejah)