Ada Cinta di Komunitas Ngejah

Posted on

Pada Sebuah kamar berukuran 3×4 meter dengan beranda yang menjorok ke jurang jalan raya, kami berkumpul. Ruang sempit yang kadang memaksa kami bejubel, saling berdesakan seperti naik angkot dengan penumpang yang penuh sesak karena supirnya ngotot selalu menaikan penumpang, padahal jok sudah terisi semua, kami belajar bersama. Ruang kamar yang kemudian disulap menjadi sekretariat atau tempat kegiatan kami. Tempat kegiatan sebuah komunitas yang berdiri di sebuah kampung penghujung Garut bagian selatan, lebih tepatnya di Kampung Sukawangi, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut. Komunitas Ngejah begitulah penggagas komunitas ini memberi nama.

DSC_0175

Tentang Ngejah, setahu saya NGEJAH adalah sebuah istilah yang digunakan untuk belajar ngaji pada tahap awal sebelum istilah/metode IQRO populer.  Dulu, anak-anak di kampung kami belajar ngaji di tajug dengan menggunakan BAQARAH melalui metode atau istilah yang sering guru ngaji (Ajengan) namakan Ngejah. NGEJAH adalah sebuah tahap awal, sebelum NARABAS. Anak-anak kecil yang belum bisa NARABAS tentunya harus melewati masa-masa belajar ngaji dengan cara NGEJAH. Mungkin nama ini sengaja dipilih, sebagai spirirt/motivasi agar kami anggota komunitas ngejah harus terus belajar meski dengan segala kekurangan, dari nol. Tentunya, hal ini hanya pilosofi sederhana, hasil perenungan saya saja.

100_7373

Setelah beberapa event kegiatan yang dilaksakan oleh komunitas Ngejah, dengan sendirinya, kesadaran untuk ngumpul, membaca buku walau pun seadanya, belajar menulis, membuat film dokumenter, ngeblog, berdiskusi, dan berkreatifitas lainnya, kami lakukan secara rutin. Lalu kemudian ada istilah baru yang muncul yakni istilah MINGGUAN. Biasanya istilah MINGGUAN di kampung kami digunakan untuk acara majelis taklim bapak-bapak/ibu-ibu  belajar mengaji/mendengarkan ceramah Ajengan yang dilaksanakan seminggu sekali. Biasanya, meskipun kegiatan pengajian tersebut dilaksanakan pada hari senin, selasa, rabu atau pun pada hari-hari lainnya, tetap saja kegiatan tersebut disebut MINGGUAN. Konsep ini agak sedikit berbeda dengan Mingguan di Komunitas Ngejah. Mingguan ala komunitas ngejah adalah kegiatan kumpul bareng yang digelar setiap hari minggu. Hal ini tentunya merupakan kesepakatan bersama, selain alasan bahwa memanfaatkan hari libur, kebetulan anggota komunitas ngejah banyak yang berdomisili jauh dari sekretariat. Sebut saja Rifa, ia salahseorang siswa MTs Albaits Kec. Peundeuy  yang hampir setiap MINGGUAN hadir untuk belajar bersama di komunitas ngejah. Jarak tempuh yang lumayan jauh dengan ongkos ojeg yang cukup besar ia keluarkan untuk bisa kumpul bareng dengan kami (maklum di kampung, jadi belum ada angkot, hehe). Selain Rifa, banyak kawan-kawan kami yang berbeda kecamatan tapi rajin datang untuk mengikuti acara mingguan. “Ada cinta di komunitas ngejah” begitu kelakar Dodi salah seorang siswa MA Ansoriyah (Kec. Bojonggambir Kab. Tasikmalaya) yang paling getol berkunjung ke sekretariat. Ketika dipreteli tentang cinta yang ia maksud, melalui retorikanya Dodi menjelaskan “ya cinta bersahabat dan berdiskusi, bukankah tanpa cinta tidak mungkin seseorang atau sebuah komunitas bisa hidup bahagia, apalagi untuk berbagi”

DSC_0158

Mudah-mudahan benar apa yang disampaiakan Dodi, ya CINTA. Semoga saja cinta benar-benar mulai atau tengah dan abadi bersemayam pada jiwa kami (anggota dan pengurus komunitas Ngejah serta masyarakat sekitar), supaya kami senantias terus semangat untuk rajin membaca, berdiskusi dan berkarya, demi kampung halaman, tentunya.***

(Insan, Anggota Komunitas Ngejah)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s