Komunitas Belajar Mandiri, Ciri Masyarakat Modern

Posted on Updated on

DSC_0368Nero Taopik Abdillah teringat pada masa kecilnya tak pernah bersentuhan dengan buku sehingga minat baca bukunya yang tinggi tidak tersalurkan. Kisah masa lalunya yang kelabu itu menjadi motivasi agar anak-anak yang lain tidak mengalami nasib serupa dengan dirinya.

Untuk itu dirinya bersama sukarelawan yang lain, anak-anak muda yang peduli pendidikan bangsa, membentuk Komunitas Ngejah di Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut. Daerah ini dipilih bisa jadi karena sebuah wilayah yang tertinggal. Berada di bagian selatan kabupaten penghasil dodol, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, sehingga infrastruktur sangat memprihatinkan, jalan belum teraspal dengan sempurna, perjalanan dari kota membutuhkan sekitar 2 jam naik sepeda motor. Wilayah itu disebut sebagai desa tertinggal. “Kami semua bercita-cita membangun kampung halaman,” ujar Opik.

Komunitas Ngejah merupakan bentuk pendidikan tambahan bagi pendidikan anak-anak sekolah dasar. Kegiatannya tak hanya memberi tambahan pendidikan formal namun juga memberi pendidikan yang lain seperti pendidikan mengaji, bermain, jurnalisme, fotografi, menggunakan media sosial yang positif, dan outbound. Tempat untuk menyelenggarakan kegiatan itu berada di sebuah saung.

Tak hanya itu, alumni S2 Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat, itu berencana mendirikan pojok-pojok membaca di desa. Dengan pojok-pojok inilah maka minat baca anak akan tersalurkan. Opik membantah bila minat baca bangsa Indonesia rendah. “Minat bacanya tinggi, hanya fasilitasnya tidak ada,” ungkapnya.

Dalam menyelenggarakan Komunitas Ngejah itu tentu butuh biaya. Dari mana biaya diperoleh? “Kita patungan dengan sukarelawan yang lain,” aku Opik. Meski demikian Opik lebih sering mengeluarkan biaya dari kantongya sendiri. Gaji sebagai PNS guru SD yang didapat sejak tahun 2005 sebagaian disalurkan ke Komunitas Ngejah demi keberlangsungannya. Dengan pendidikan yang bagus, Opik yakin masyarakat bisa sejahtera.

Dalam Sosialisasi 4 Pilar, Negeri 4 Pilar, tayang lewat TVRI, rekaman 27 Februari 2014, siar 12 Maret 2014, anggota MPR dari Fraksi PKS Zulkieflimansyah yang duduk di samping Opik, menuturkan bangsa Indonesia adalah negara yang besar. Masing-masing daerah memiliki karakter dan landscape yang berbeda. Sehingga pembangunan infrastruktur pun juga tak sama. “Tingkat penyerapan pendidikannya pun akhirnya juga tak sama,” paparnya.

Zulkiefli mengakui sebenarnya teori pendidikan di Indonesia sudah matang, hanya prakteknya belum. Komunitas Ngejah disebut sebagai sebuah bentuk proses yang konstruktif. “Ini merupakan salah satu bentuk masyarakat modern yang ingin belajar lebih cepat,” ujarnya. Opik menurut alumni Universitas Indonesia itu disebut sebagai fenomena generasi muda saat ini, di mana banyak tokoh pemuda, aktivis, seniman, mendirikan komunitas-komunitas seperti itu. Ia menyebut Gola Gong di Banten juga membuat komunitas pendidikan, demikian pula Anies Baswedan yang mendirikan program Indonesia Mengajar.

Pria yang pernah maju dalam Pilkada Banten itu mengakui masih banyak daerah tertinggal. Hal demikian bisa terjadi karena sistem Pilkada di mana Bupati yang menang namun kalah di sebuah desa, ia dendam dengan tidak membangun desa itu. Dalam Pilkada pun banyak calon yang mengkampanyekan pendidikan gratis bila terpilih. “Setelah terpilih memang ada yang merealisasi janji namun ada pula yang tidak,” ungkapnya.

Untuk itu dirinya mendorong agar calon kepala daerah, calon presiden, calon wakil rakyat, mendekati rakyat jangan saat pemilihan saja. “Dekatilah mereka dengan hati,” tuturnya. Dalam acara sosialisasi yang dimeriahkan para komedian itu, Zulkiefli menegaskan agar pendidikan lebih dipertegas. Dirinya mengakui kurangnya pada pendidikan di bidang ilmu matematika dan teknologi sehingga daya hitung bangsa Indonesia lemah. Dirinya mendorong agar di pesantren diberikan pendidikan ilmu matematika.

Sumber: http://www.noodls.com/view/8FFE3852371FD12A8D6872ED7912E977905E5A9C?8454xxx1393593596

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s