Pengalaman Belajar Meresensi di TBM aiueo Komunitas Ngejah

Posted on Updated on

Rosita NgejahMinggu pertama di bulan April, kami (Rosita dan Rini )berencana untuk berkunjung ke TBM aieuo Komunitas Ngejah yang berlokasi di Kampung Sukawangi Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut. Sekitar pukul 07.00 kami sudah berkumpul, maklum jarak kampung kami yang terletak di Desa Pancasura tetangga sebelahnya Sukawangi agak lumayan jauh. Kali ini kami juga mengajak saudara Rosita yang bernama Gesty, seorang siswi M.Ts di salahsatu sekolah di Kota Garut. Setelah kami bertiga kumpul, kami pun bergegas berangkat menuju TBM aiueo Komunitas Ngejah. Setibanya di sana, Dodi petugas harian TBM aiueo Komunitas Ngejah sudah Nampak siap sedia melayani para pengunjung yang akan membaca. “Hari libur, jumlah pengunjung biasanya bertambah” menurut pengakuan Dodi.

Setelah mengisi daftar hadir pengunjung, masing-masing dari kami memilih-milih buku. Buku yang kami baca waktu  itu adalah Novel. Untuk ukuran Taman Baca di kampung terpencil, novelnya sudah cukup lumayan banyak kata Gesty, yang sekolah di kota. Setelah beberapa lama kami membaca buku, Kang Opik menghampiri kami dan bertanya “Apakah salah satu dari kalian ada yang bisa meresensi buku?” Rosita pun menjawab “insya allah kami bisa.”

Dalam diskusi singkat,  Kang Opik memberi  pengarahan untuk membuat resensi, dan kami pun memperhatikan. Ketika Kang Opik sedang menjelaskan bagaimana tata cara meresensi buku, datanglah beberapa relawan Komunitas Ngejah diantaranya Kang Ruli, Kang Iwan, kang Roni, Deni, Dodi, Mukhsin,  selain itu ada juga pengunjung yang lain, yang tidak kami ketahui siapa saja namanya. Setelah ditanya, ternyata mereka berkumpul selain untuk membacajuga untuk mengikuti kegiatan diskusi mingguan yang akan dilaksanakan selepas Bada Dzuhur.

Dari penjelasan singkat yang dapat kami pahami, menurut Kang Opik meresensi buku diantaranya harus memuat: Identitas Buku, Isi Buku, dan Komentar. Setelah Kang Opik menjelaskan, kami pun segera membuat satu buah resensi dari Novel HAFALAN SHALAT DELISA yang di tulis oleh Tere Liye dan di terbitkan oleh Republika, Jakarta pada tahun 2008 dengan jumlah halaman 266 lembar.

Dari 266 halaman, ada 20 judul cerita di dalam Novel tersebut, kesimpulan dari Novel tersebut adalah Delisa sebagai tokoh utama tetap bersemangat untuk menghafal bacaan-bacaan shalatnya walaupun kakinya pincang yang di sebabkan tsunami Aceh pada tahun 2004, dia tidak merasa berkecil hati ataupun putus asa. Kami bersepakat bahwa Novel ini dramatis, menyentuh, terkadang kita harus malu dengan kelebihan yang kita miliki apabila kita tidak bersemangat mengerjakan apapun dan mudah menyerah, dan kita yang hidupnya sempurna harus iri terhadap bocah mungil yang bernama Delisa yang terus bersemangat dalam meraih cita-citanya.

Penulis: Rosita dan Rini

Siswi MA Al-Muawanah Pamoyanan, Pengunjung Setia TBM aiueo Komunitas Ngejah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s