Road Show GKM Edisi AKhir Tahun Part 5

Posted on Updated on

Jalan dari Karees Menuju Ciparanje Kecamatan Cibalong
Jalan dari Karees Menuju Ciparanje Kecamatan Cibalong

Seperti yang sudah disiarkan sebelumnya pada blog Komunitas Ngejah, bahwasannya sebagai kegiatan akhir tahun, komunitas Ngejah menyelenggarakan kegiatan Road Show Gerakan Kampung Membaca selama 5 hari berturut-turut, serta pembangunan Pojok Baca di kampung-kampung terluar yang berada di Garut bagian selatan. Karena berbenturan dengan beberapa agenda lain, akhirnya saya tak bisa mengikuti kegiatan secara penuh. Pada hari kedua, saya hanya bisa menengok kawan-kawan relawan, yang sedang beristirahat di Kampung Cinangsi Desa Peundeuy Kecamatan Peundeuy. Menurut cerita dari kawan-kawan relawan, dua lokasi sudah mereka kunjungi, pada hari pertama di Kampung Nyalindung yang berada di Desa Peundeuy dan pada hari ke-dua yang berada di Kampung Cinangsi Desa Toblong, yang kedua-duanya berada pada wilayah adminstratif Kecamatan Peundeuy. Iwan Ridwan selaku Koordinator Gerakan Kampung membaca menuturkan, masyarakat sangat antusias menyambut relawan Komunitas Ngejah. Sore itu, Sabtu 27 Desember, di rumah Kang Imron, salahseorang penggerak pemuda Kampung Cinangsi, kami berembug, mengatur startegi untuk melanjutkan kegiatan hari ketiga. Sesuai kesepakatan bersama, kegiatan hari ke-tiga akan di gelar di Kampung Gorowong, Desa Maroko, Kecamatan Cibalong.

Melewati Longsor, Menuju Ciparanje Kecamatan Cibalong
Melewati Longsor, Menuju Ciparanje Kecamatan Cibalong

Pada hari ke-empat, yaitu hari senin, 29 Desember, sekitar pukul 10.00, ditemani Maman Rusman, saya berangkat dari Saung Komunitas Ngejah untuk bergabung dengan relawan Komunitas Ngejah. Waktu itu, melalui pesan singkat yang dikirim Ruli Lesmana, saya tahu bahwa kawan-kawan sedang dalam perjalanan, meninggalkan Kampung Gorowong menuju Kampung Ciparanje, Desa Sagara. Pukul 12.30, saat saya sedang istirahat di Kampung Cikole, Desa Maroko, Ruli Lesmana kembali mengirimkan kabar. “Rak buku moal mungkin dicandak ka Ciparanje, jalan ancur pisan, Millah labuh tina motor, sampeana kuknalpot. Kumaha lamun lokasi ka-opat jadi di kampung Pakuwon? Didieu aya pengurus madrasah, Ibu Euis namina, siap jadi pengelola Pojok Baca. Di Ciparanjemah, hibah buku sareng kegiatan Gerakan Kampung Membacawe hungkul”. Kabar tersebut, langsung saya respon, dan mengiyakan apa yang disampaikan Ruli Lesmana. Melalui, Jalan Karees yang sangat ajib. Jalan yang sebagian dipenuhi bebatuan serta sebagian merupakan tanah merah yang sudah tertimpa hujan, serta setelah melalui beberapa longsoran tanah, akhirnya sekitar pukul 14.30, saya sampai di Kampung Ciparanje. Di Ciparanje, relawan Komunitas Ngejah sudah menunggu. Sebagian beristirahat di Mesjid, dan sebagian lagi beristirahat di rumah Ajengan Ajen.

Mengajak anak-anak Ciparanje Membaca
Mengajak anak-anak Ciparanje Membaca

Setelah berdiskusi dengan para relawan dan Ajengan Ajen, kami sepakat bahwa kegiatan akan dilangsungkan selepas Maghrib. Kami pun beristiraht, sambil ngobrol santai tentang perjalanan yang cukup menantang. Dari obrolan tersebut, kami berkesimpulan, bahwa jalan antara Kecamatan Peundeuy dan Cibalong, sangat hancur. Maghrib berkumandang, kami pun sholat berjamaah dengan masyarakat sekitar. Pukul 18.30 anak-anak sudah berkerumun di rumah Ajengan Ajen. Akhirnya saya berkesampatan untuk mengisi acara. Setelah perkenalan, saya mencoba mengajak anak-anak untuk membaca buku yang telah kami siapkan. Setelah itu, saya mencoba menghibur anak-anak dengan dongeng yang saya kasih judul “Nasib Si Sombong”

Mendongeng di Hadapan Anak-anak Ciparanje
Mendongeng di Hadapan Anak-anak Ciparanje

Saya bercerita tentang pertarungan antara seekor singa yang sangat sombong dengan seekor lalat yang juga takabur. Singa yang sebelumnya mengaku sebagai raja hutan akhirnya menyerah kepada lalat, karena lalat tersebut mampu mengalahkan singa. Cara lalat megalahkan singa sebetulnya sangat sepele.  Tekniknya adalah dengan cara memasuki lubang hidung sang singa dan menggelitiknya, hingga singa tersebut mencakar-cakar hidungnya sendiri sampai berdarah. Lalat tersebut tak mau keluar, sebelum singa menyatakan takluk dan menyerahkan status raja hutan kepadanya. Saking geteknya, akhirnya singa menyerah dan menyatakan bahwa ia takluk serta menyerahkan status raja hutan kepada lalat. Lalat yang takabur, dengan bangganya, penuh percaya diri bahwa dialah yang paling sakti di hutan tersebut, ia keluar dari lubang hidung singa. Saking bahagianya karena tekah mampu mengalahkan singa, ia keluar dari lubang hidung singa, terbang semaunya, dan tanpa control, ternyata ia terperangkap jarring labalaba, hingga ia menjadi mangsa laba-laba. Setelah acara mendongeng selesai, saya menyerahkan beberapa buku, quran dan iqro kepada Ajengan Ajen untuk bahan bacaan anak-anak dan masyarakat sekitar.

Masyarakat Kampung Menikmati Film Soekarno
Masyarakat Kampung Ciparanje  Desa Sagara Kecamatan Cibalong Menikmati Film Soekarno

Pukul 08.15, kami menggelar hiburan sederhana bagi masyarakat sekitar, yakni dengan cara memutar film Soekarno. Setelah Saeful Millah salah seorang relawan Komunitas Ngejah menyampaikan kedatangan kami di Kampung Ciparanje, pemutaran film pun di mulai. Kain putih sekita 1, 5 m x 2 m kami bentang. Masyarakat sekitar dengan sangat antusias berkumpul dan menyaksikan film yang berjudul Soekarno. Banyak tanggapan positif yang kami terima atas kehadiran kami di tengah-tengah mereka. Kami pun bahagia dapat berada di tengah-tengah mereka.

Nero Taopik Abdillah, Ketua Komunitas Ngejah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s