Melepaskan Diri dari TV

Posted on Updated on

Stasiun-Televisi-Swasta-PerEntah berapa lama rumah yang sekarang beralih fungsi menjadi sekeretariat Komunitas Ngéjah tidak memiliki penghuni yang bernama televisi? Ah rasanya tidak kurang dari lima tahun. Seingat saya, demi menonton perhelatan final piala dunia tahun 2010 yang mempertemukan Negeri Matador dengan Negeri Kincir Agin , saya harus rela nonton di rumah tetangga.

Dalam beberapa situasi, syahwat untuk membeli televisi  kerap kali bersarang dalam dada.  Selain ketika gelaran piala dunia kembali bergulir, ada beberapa acara lain yang menggoda saya untuk memiliki televisi. Misal ketika timnas sedang main, Persib sedang berlaga, atau ketika saya mendengar celoteh orang-orang di warung tentang berbagai berita di televisi, yang kebetulan tak sempat saya ikuti atau telusuri dari media lain. Tapi sejauh ini, keimanan saya alhamdulillah belum juga roboh. Saya memutuskan untuk tak menyimpan tv di sekretariat komunitas Ngejah.  Tentu saja bukan dalam arti saya tidak suka nonton tv. Untuk beberapa acara saya seringkali menyengajakan diri untuk nonton tv, baik itu di warung atau di rumah tetangga.

Saat Bulan Ramadan tiba, keinginan untuk memiliki tv lagi-lagi menggelora.  Alasannya sederhana, mengobati kejenuhan menunggu beduk Magrib, atau karena ada kelebat lamunan, membayangkan betapa nikmatnya menikmati santap sahur sambil nonton tv. Sejurus kemudian, hasrat ini hampir saja saya selesaikan. Suatu malam, selepas sholat tarawih, saya menyisihkan waktu mencari informasi tentang merk tv dan rupiah yang harus saya keluarkan untuk membelinya, melalui alat pencarian di internet. Keesokan harinya, secara kebetulan sebelum saya pergi ke kota untuk melunasi hasrat membeli tv. Saya melihat beberapa lembar koran yang tercecer di saung Komunitas Ngejah. Sebuah judul besar menggoda saya untuk membacanya. “Kualitas Acara Televisi di Bawah Standar” begitulah judul tulisan tersebut. Setelah berita itu saya mamah, saya mendapatkan kesimpulan bahwa berdasarkan hasil survey indeks kualitas program siaran televisi yang digelar KPI sejak Maret-April 2015, nilai indeks kualitas program acara 15 televisi di Indonesia, secara keseluruhan kualitasnya masih di bawah standar. Lebih lanjut, hasil survey menyatakan bahwa tiga kategori program acara dengan indeks terendah meliputi infotainment, sinetron/FTV, dan variety show.

Ah, betapa galaunya saya, antara jadi atau mengurungkan niat untuk membeli tv.  Setelah menimbang dan mengingat, bahwa acara yang memiliki nilai indeks terendah adalah acara yang saat ini sangat mendominasi layar kaca pertelevisian di republik ini, maka saya memutuskan untuk tidak jadi membeli tv, atau setidaknya menagguhkan rencana tersebut sampai saya benar-benar yakin, bahwa keimanan saya untuk menjaga diri dari acara-acara tv yang tidak mendidik benar-benar bisa saya lakukan.***NTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s