Muharraman di Kampung Halaman

Posted on Updated on

Muharram.Senja telah tutup usia. Kumandang adzan Maghrib menggema di penjuru kampung. Saya baru saja sampai di halaman Saung Komunitas Ngejah, setelah menempuh perjalanan dari Culamega, tempat saya mengajar. Sebelum masuk saya mendengar seseorang memanggil. Ya suara itu tiada lain adalah suara Ibu Ketua Tim Penggerak PKK Desa Sukawangi yang juga berprofesi sebaga guru di salahsatu  sekolah dasar di Desa Sukawangi. Sehari-hari ia lebih akrab dipanggil Teh Rini. “Engke wengi bade aya acara mapag ping hiji Muharam, Bada Isya. Insya Alloh pawai obor. Starna ti saung Komunitas Ngejah” kurang lebih kalimat itulah yang ia sampaikan. Tanpa berpikir panjang, saya menganggukan kepala, tanda setuju dan mendukung rencana tersebut. Selepas sholat Maghrib, beberapa orang warga kampung serta relawan Komunitas Ngejah sudah berdatangan. Semuanya mengambil peran masing-masing, sesuai arahan Teh Rini. Ada yang menyiapkan obor, mempersiapkan alat musik, mempersiapkan puisi, dan lain-lain, tentunya sebagai persiapan kegiatan yang akan dilaksanakan bada Isya.

Muharram...Sesuai waktu yang sudah ditentukan, anak-anak sudah mulai berdatangan, para pemuda juga masyarakat Kampung Sukawangi pun tidak ketinggalan. Setelah semuanya siap, akhirnya obor mulai dinyalakan, kami pun berjalan menyusuri jalan raya antara Kampung Sukawangi dan Kampung Genjreng. Gema takbir dan sholawat, serta tabuhan jimbe mengiringi perjalanan. Para pembawa obor dan alat musik berada pada barisan paling depan, sementara yang membawa motor berada di belakang. Selepas pawai, anak-anak tidak langsung pulang, melainkan mengikuti sesi renungan bersama Teh Rini. Pengantar sesi ini, Teh RIni menantang anak-anak untuk maju kedepan menyebutkan nama-nama bulan hijriah. Hal yang sederhana dan kerap kali dilupakan, sehingga kadang banyak anak tak mengenal nama-nama bulan hijriah. Setelah itu, beberapa orang anak tampil membacakan puisi. Ada Sifa yang membaca puisi Doa karya Chairil Anwar, Neng membacakan puisi berjudul Tuhan karya Abdul Hadi WM, dan beberapa penampilan pembacaan puisi lainnya. Selanjutnya, sesi renungan pun dimulai. Teh Rini, selaku pengisi acara mengajak anak-anak yang hadir dalam kesempatan itu, untuk memejamkan mata, mengingat segala prilaku buruk yang pernah dilakukan oleh setiap individu. Dengan suaran lirih, ia mengajak anak-anak untuk istigfar dan berjanji pada diri untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang. Hal lain yang ia lakukan, adalah  mengajak berdoa untuk kesehatan dan keselamatan serta perdamaian muslim yang ada di dunia*** NTA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s