Dampal Ngejah

Posted on Updated on

Dampal.1Memiliki gerakan yang sama di dunia literasi, Segelintir mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang terhimpun dalam sebuah wadah bernama Komunitas Dampal menyambangi Saung baca komunitas Ngejah pada  Senin (08/02), “Bade Sorogan”, Ujar mangkubumi dampal, yaitu istilah yang digunakan untuk sekretaris di Kerajaan Dampal saat membuka pembicaraan dengan salah satu relawan Komunitas Ngejah di depan Taman baca a-i-u-e-o komunitas Ngejah.

Komunitas Dampal adalah sebuah komunitas Sejarah yang masih terbilang hijau, namun eksistensinya sudah mulai muncul di permukaan, khususnya di jurusan Sejarah dan Peradaban Islam UIN SGD Bandung. Komunitas yang fokus utama gerakannya dibidang sejarah dengan gerakan bertajug Nyucruk Galur Sajarah (NGS) .Satu diantara misi Dampal ialah mewujudkan kampus yang berbudaya literat. Ini dibuktikan dengan Gerakan kampus literasi yang Dampal usung sejak bulan November 2015 dan perlahan mulai membangkitkan gairah membaca para anggota dan responden Dampal meski belum memiliki ritma yang ngeuh. Untuk itu, dalam kesempatan Dampal On the street  sejak minggu pagi (07/02) Relawan dan anggota Dampal nyucruk galur sajarah ke Candi Cangkuang Leles Garut dan Kampung Naga Salawu Tasikmalaya dan mengagendakan kunjungan komunitas atau lintas komunitas ke Komunitas Ngejah yang sudah memiliki jam terbang hebring dalam gerakan Literasi di usianya yang baru menginjak 5 tahun, kebetulan lokasinya berada di perbatasan Garut dan Tasik Selatan tepatnya di Jl. Surapati No. 01 RT. 01 RW. 01 Ds. Sukawangi Kec. Singajaya Kab. Garut.

“Bagai mutiara dalam kubangan”, tangkas Patih Dampal saat pertamakali menginjakkan kaki di saung Komunitas Ngejah di Desa Sukawangi Singajaya Garut. Bagaimana tidak, setelah perjalanan melelahkan, NGS dari Bandung – Leles kemudian Leles-Salawu dan dilanjutkan ke Singajaya Garut, mereka disuguhi pemandangan ciamik dengan bau keceriaan literasi disetiap sudutnya. Mereka terpikat dengan pojok baca yang tertata di depan pangkalan ojeg dan warung bala-bala yang tak lazim ditemukan di sebuah desa perbatasan dibawah gunung. Momen selfiepun tak dilewatkan Prabu, Patih, Mangkubumi Beserta Para Senopati Dampal. Meski terbilang pagi, sudah tampak kegiatan ngejah junior yang berlarian di sekitar saung dan juga Ade Lukman yang tengah sibuk dengan kegiatannya membereskan buku-buku yang berserakan di rumah komik. Akhirnya Prabu Dampal berinisiatif untuk menyambangi terlebih dahulu saung baca Abatasa yang berlokasi di Bojonggambir Tasik Selatan sekaligus sharing tentang dunia perkuliahan dan Diskusi terkait MEA dengan siswa SMK yang telah diagendakan jauh-jauh hari dalam Dampal Mengajar.

Meski ada miscommunication dengan pihak SMK suguhan Kang Ato pendiri Pojok Baca Abatasa, yaitu salah satu Sub Organ Ngejah di Bojonggambir Tasikmalaya bagian Selatan yang tengah sibuk dengan gerakan Bojonggambir Membacanya menjadi penawar semua. Kami larut dalam sajian diskusi santai tentang seksinya gerakan literasi. Poto bersama di saung Abatasapun menjadi penutup yang lezat.

Prabu dan kawan-kawan tiba di Ngejah sekitar pukul 10:35. Nampak beberapa kendaraan bermotor terparkir rapi di depan Mading Balarea dengan suasana Komunitas Ngejah sangat ramai. Tampak Ngejah Junior dari kampung sebelah tengah meminjam dan mengembalikan buku pada Ade Lukman, beberapa siswa SMA tengah kursus komputer, relawan yang tengah berdiskusi bersama kang Nero sang Presiden Ngejah serta Abah Ersa dan VOB yang tengah asik becanda tawa. Kami langsung di arahkan menuju saung baca dan diperkenalkan dengan komunitas yang sempat digerebeg Kick Andy On Location di tahun 2014 ini. Diskusi yang kami nantikanpun mulai mengalir. Topik demi topik kang Nero kupas dengan apik dan ciamik. Kami hanyut dengan literasi sejarah yang kang Nero paparkan serta sekelumit permasalahan dunia perkuliahanpun mulai terpecahkan dengan berbagai motivasi serta tips dan trik gerakan yang dipaparkan berkaca dari pengalaman kang Nero dibangku kuliah dan jejak yang ia tinggalkan di kampusnya sampai pada bagaiman ia berusaha mengukir sejarah menghidupkan denyut nadi kampung halamannya. Tidak hanya sampai disitu, patih dampal yang tak henti-hentinya mengajukan berbagai pertanyaan terkait kegegahan ngejah dalam membangun kampung halaman pun disambut hangat kang Nero dengan mengajukan tawaran kerjasama dengan dampal dalam pelestarian seni budaya lokal.

“Akhir bulan ini Komunitas Ngejah akan mengadakan safari Gerkan Kampung Membaca (GKM) untuk indonesia membaca dengan Trooper Nusantara dan STMIK DCI Tasikmalaya, menelusuri kampung-kampung terbelakang di sekitar Garut dan Tasik selatan, barangkali berminat menjadi relawan dengan tidak mengesampingkan kuliah mari bergabung dengan Ngejah di tangggal 26 sampai 28  Februari” . Ujar kang Nero diakhir statemennya. Prabu dan patih Dampal sangat antusias dengan ajakan kang Nero dan memberikan sinyal kesediaan mengikuti GKM. Diakhir diskusi kami dijamu dengan suguhan akustik dari VOB dan secangkir kopi cerdas inipun mencapai klimaks.

Sebelum meninggalkan Ngejah relawan Dampal diajak dulu berkeliling menyusuri setiap jengkal taman baca a-i-u-e-o dan rumah komik. Tidak ada yang mengira bahwasanya taman baca keren ini bermula dari sebuah kamar kecil yang dirombak beberapa kali hingga membentuk perpustakaan yang tertata dan luar biasa di usianya yang terbilang belia. Tak ada sudut yang terlewat untuk kami potret dan kang Nero bertindak seolah Tour Guide yang siap menjelaskan setiap senti ruangan yang ia bangun bersama relawan komunitas ngejah dengan semangat yang menggelora. Foto bersamapun menjadi nyanyian perpisahan yang menyayat.

“Mahasiswa itu harus turun, terjun langsung ke lapangan. Jangan nyileungleum di kampus, kurun batok. Karena itu bukan mahasiswa, tapi pura-pura jadi mahasiswa”, Nero Taupik Abdillah-Presiden Komunitas Ngejah.

“Mempelajari sejarah itu penting, mengambil hikmah/makna dari sejarah penting, tapi sebagai generasi muda, justru menciptakan sejarah itu jauh lebih penting”. Anis Baswedan-Mentri Pendidikan dan Kebudayaan.

 Penulis:

Novia Susanti Dewi (Koordinator Satelit Ngejah, Anggota Dampal, Mahasiswi UIN Bandug)

2 thoughts on “Dampal Ngejah

    KomunitasDampal said:
    23 Februari 2016 pukul 2:35 am

    Mooie, meisje!
    Semoga Komunitas Dampal bisa berlari, mengikuti. Setiap rekam jejak sejarah (Geschiendenis) dari Komunitas Ngejah,
    Geesdrift!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s