Catatan Kecil Dari Kawaluyaan

Posted on

kawaluyaan“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”

Seno Gumira Ajidarma

Jika tiga serangkai Ngejah harus terbang dengan Air Asia untuk vokasi menulis di Singapura, saya cukup duduk manis di jok belakang si roda dua untuk pergi ke “Workshop Peningkatan Layanan Implementatif, Melalui Teknik Menulis Essay” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Deposit Bapusipda Jabar di Jl. KawaluyaanIndah No.4 Bandung, bertepatan dengan peresmian hari Pancasila pada Rabu, 1 Juni 2016 lalu.

Bersama tiga pemateri gagah, Jumari haryadi kohar, Adrie soenarto dan Drajat al-farisi, Saya beserta para pegiat literasi delegasi TBM se-Jawabarat dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, yang tentunya memiliki cita-cita yang seirama, mewujudkan Indonesia yang berbudaya literat, digiring menuju gerbang paling urgent  kedua dalam dunia literasi setelah membaca, yaitu menulis.

Para aktifis TBM yang hadir disuguhi menu pembuka yang manis oleh penulis gagah, Jumari haryadi kohar. Sosok yang lebih populer dengan sebutan J. Haryadi ini memberi kami sebuah jurus hebring, yaitu “Jurus Anti Macet Menulis”. dalam pembahasannya, beliau tidak hanya memberi teori dan motivasi, melainkan lansung simulasi menulis.

Free writing, istilah yang digunakan bagi penulis pemula, untuk memulai menulis, yang mana penulis tidak perlu memikirkan terori, aturan, atau teknik menulis. Cukup satu langkah mudah, Menulis. Menulis apapun yang difirkan dari sebuah foto tanpa keterangan dalam waktu lima menit, kemudian dikumpulkan dan di evaluasi.

Metode tersebut cukup efektif sebagai salam perkenalan kami dengan dunia kepenulisan. Setelah semangat menulis itu mulai tumbuh, barulah kami dipandu untuk menjadi seorang jurnalis oleh Adrie Mesapati, dengan pembahasan “Teknis Mudah Menulis Berita”.

Beliau memberi kami sebuah rumus sederhana dalam menulis berita, dan tentunya dengan simulasi menulis berita berdasarkan topik yang telah di tentukan, setelah itu kami dipersilakan untuk  memadukan konsep free writing dengan metode menulis berita melalui sebuah potret ironi pendidikan masa kini di tengah kemajuan teknologi.

Sesi selanjutnya adalah sesi dimana semua peserta cukup terpukau dengan kisah yang di paparkan pak Drajar, seorang penulis feature pariwisata yang melepaskan jabatan PNSnya karena jatuh cinta dengan dunia menulis. Beliau bisa ke luar negeri dengan gratis tentunya berkat menulis, beliau juga berbagi pengalaman terkait hal yang harus diperhatikan oleh seorang penulis ketika memasuki industri percetakan dan legalitas hak cipta kepenulisan.

Selain itu, di detik-detik terakhir workshop, kami di beri hidangan penutup yang cukup mengenyangkan oleh kepala Bapusipda. Beliau memberikan motivasi bagi para calon penulis yang hadir melalui pengalaman lapangannya ketika memasuki arena menulis. Acara berakhir sekitar pukul 17.15 dengan sesi foto bersama. Sepuluh jam yang cukup berkesan untuk sepuluh tahun yang akan datang.

Ketika kita tunggu waktu yang tepat untuk menulis, maka waktu itu tidak pernah muncul

 –James Russel Lowell-

Penulis: Novia Susanti Dewi ( Koord. Satelit Ngejah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s