Ngabuburit Rasa Literasi Hari Ketiga

Ragam cara mengisi kegiatan Ngabuburit. Ada yang mengisinya dengan jalan-jalan, main layangan, bahkan main petasan meskipun untuk yang satu ini dilarang karena membahayakan. Nah kalau saya, dengan beberapa orang lainnya sejak tanggal 21 Juni 2017 memilih mengisi Ngabuburit dengan mengikuti kegiatan Ngabuburit Rasa Literasi yang dilaksanakan oleh Komunitas Ngejah. Menginjak hari ketiga yang jatuh pada tanggal 23 Juni 2017 acara ini diisi oleh beberapa kegiatan diantaranya: praktik membuat blog dan editing video, diskusi buku, tampilan musik dari VOB, kreasi seni ngejah junior, tadarus dan buka bersama. Praktik  membuat blog dan sedikit mengulas tentang editing video dipandu oleh Kang Ruli Lesmana. Kegiatan ini lanjutan materi dari hari sebelumnya. Sayang sekali, saat kami belajar membuat blog jaringan internet yang lelet membuat proses pembelajaran tergangggu. Kegiatan ini berakhir berbarengan dengan kumandang sholat Ashar.

 

Sesuai jadwal, selepas sholat kegiatan diisi dengan diskusi tentang Buku dan Kehidupan dengan pemateri Kang Deri Hudaya, seorang petani sekaligus dosen muda pada salahsatu perguruan tinggi di Garut. Ada beberapa poin yang saya tangkap dari diskusi ini: 1) buku bukan untuk dihafal, melainkan untuk dibaca, 2) membaca adalah kegiatan yang mewah, mahal atau istimewa. Pada diskusi ini, Kang Deri banyak menguraikan pengalamannya bersentuhan dengan buku. Ada adegan yang cukup istimewa, yakni saat sang pemateri harus mengusap air mata yang berlinang di wajahnya. Kejadian itu bermula, saat ia bercerita tentang temannya semasa kuliah. Temannya tersebut sangat gila baca, khususnya buku sastra. Kang Deri mengaku, temannya itulah yang banyak memberi pinjaman buku. Namun kini temannya tak lagi bisa membaca sebebas dulu. Alasannya karena ia diperintahkan oleh orang tuanya untuk mengelola bisnis keluarga. Kemudain temannya terbelenggu oleh rutinitas. Saat Kang Deri berhasil menerjemaahkan sebuah novel dan diterbitkan, ia ingin sekali mengirimkan buku hasil karyanya tersebut kepada sang teman. Namun ia tak cukup punya keberanian untuk melakukan itu. Ia takut aktivitas temannya dalam mengelola bisnis menjadi terganggu. Pengalamannya tersebut kemudian mengukuhkan kayakinan dalam dirinya, bahwa membaca itu adalah hal yang istimewa, mahal atau istimewa.

Setelah diskusi selesai, kami disuguhi penampilan dari VOB, sebuah grup band yang sedang menjadi perbincangan media dunia. Oiya band ini dihuni oleh tiga orang personil perempuan. Mereka berdomisili di  Kecamatan Banjarwangi. Namun basecamp mereka satu kecamatan dengan tempat saya tinggal, yakni Kecamatan Singajaya. Tiga lagu berturut-turut mereka bawakan. Salahsatunya, berjudul Gerakan Kampung Membaca. Setelah selesai kami menyempatkan diri untuk berfoto dengan personil VOB.  Selanjutnya, sebagaimana susunan acara yang sudah disiapkan oleh panitia, Ngejah Junior mengisi tampil membacakan puisi. Menjelang adzan magrib, kami melakukan tadarus bersama yang dipimpin oleh Ustad Abdul Latif. Ttidak terasa di tengah-tengah tadarus bersama Adzan Maghrib berkumandang, kamipun menyerbu hidangan ta’jil yang sudah disiapkan oleh panitia. Setelah berbuka, panitia menutup kegiatan NGABUBURIT RASA LITERASI 1438 H yang sudah dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan bacaan hamdalah bersama-sama. Semoga bertemu kembali dengan kegiatan yang sama pada Ramadhan yang akan datang.

Penulis: Elis Fatimah (Relawan Komunitas Ngejah sekaligus Pengurus IPNU Kec. Singajaya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.